
Finna mencari-cari letak mobilnya yang tadi ia parkir di basement gedung perusahaan rekanannya. Ia terlalu tergesa-gesa sampai lupa parkir dimana dan membuatnya harus mengitari setiap pojok basement yang dipadati oleh berbagai macam mobil dan beberapa diantaranya mirip dengan kendaraanya itu, namun sayangnya itu bukan mobil yang ia cari.
hampir 10 menit dirinya berjalan mencari sampai akhirnya ia memutuskan pergi untuk menemui pegawai pengawas parkiran, letaknya tak jauh dari tempat ia berdiri di blok F di ujung selatan gedung.
"Permisi Pak, saya mencari mobil saya Nomornya B 1717 ZX" ucapnya sedikit terengah-engah karena lelah berjalan beberapa menit di parkiran yang sedikit gelap dan juga pengap.
"Silahkan duduk Bu, kami akan bantu cari mobil ibu" ucap si petugas perempuan yang mungkin umurnya masih baru menginjak usia remaja sekitar 18-20an.
Ia pun memerintahkan ke 2 petugas parkir untuk mencari Mobil dengan plat nomor yang tadi disebutkan itu.
Setelah agak tenang ia coba mengingat-ingat letak mobil Mercy keluaran terbaru miliknya diparkir, namun beberapa kali ia mencoba mengingat, kepalanya seolah pening dan tak dapat menemukan apapun di ingatannya itu. Finna tidak pernah sedikit pun telat dalam menghadiri rapat penting yang membuatnya tadi berburu-buru, setelah memarkir mobilnya ia bergegas menuju lift ke lantai 82 yang tinggal beberapa menit lagi akan dimulai acara rapatnya.
Tak lama, 2 petugas tadi kembali ke pos penjagaan parkir untuk menunjukan letak mobil finna.
"Mari Bu ikut saya, mobilnya di parkiran blok D" ucap seorang petugas berseragam hijau-kuning yang berumur paruh baya terlihat dari rambutnya yang putih ditumbuhi uban.
Segera finna menyusul si petugas ke tempat yang disebutkan tadi, tak lupa ia menyiapkan uang 2 lembar 50 ribu rupiah sebagai ungkapan terima kasih telah mengantar ke tempat parkiran yang luas ini. tanpa bantuannya, mungkin dengan terpaksa finna harus memutari seisi parkiran agar bisa menemukan mobilnya itu atau menyerah dan pulang menggunakan taksi.
Di depan mobilnya itu, finna menyalami orang tua yang telah membantunya dan tak lupa memberikan uang yang telah ia persiapkan sebelumnya ia simpan di saku blazer hitam pakaian kerja yang biasa ia gunakan ketika bertemu client.
"Terima kasih banyak pak.. ini tolong di terima ya pak" ia menyerahkan 2 lembar pecahan 50 ribu rupiah namun di tolak oleh petugas itu.
"Mohon maaf bu, kami disini tidak menerima uang atau pemberian dalam bentuk apapun"
"Ini sudah jadi peraturan tetap di perusahaan ini, tetapi terima kasih banyak atas niat ibu, mohon maaf saya tidak bisa menerimanya". Ia undur diri meninggalkan finna yang masih terperanga. Uang seratus ribu yang telah ia sediakan masih terjulur ditangannya yang putih, sesaat tersadar ia melihat dari arah kejauhan sang petugas parkir mulai menghilang dari pandangan mata, ia pun segera masuk ke mobil mewah miliknya.
__ADS_1
...----------------...
"Sha.. ikut aku sebentar ya.." tingkah manja nya memang selalu berhasil membuatku mengikuti apapun maunya, di ajak kemanapun aku mau, asalkan bersamanya.
"Kemana?".
”Ikut aja dulu, nanti juga tau ko.." bukannya menjawab pertanyaanku, ia malah menghambur keluar mobil setelah memarkirkannya di bawah gedung apartemen.
Hanya berjarak beberapa blok saja untuk sampai ke sebuah kafe yang pernah ia katakan. Bangunannya sederhana yang hanya satu lantai, semua bangku lebih banyak di isi oleh sofa-sofa lembut demi kenyamanan untuk berlama-lama di dalam. tidak terlalu banyak ornamen yang menghiasi isi ruangan. lebih seperti polos saja, hanya beberapa dindingnya di cat warna cream dan ada lukisan dinding motif bunga yang tidak terlalu meriah.
Konsep minimalis dan sederhana memang sedang banyak digandrungi oleh beberapa restoran atau cafe, mungkin jika pun ada gambar-gambar tidak terlalu mendominasi dinding. Dengan penataan yang apik juga bersih itu sudah memberikan efek ketenangan bagi para pengunjung.
Aku dan Indira duduk menghadap ke jendela yang menampakan gedung menjulang apartemen, hal biasa dari landscape perkotaan. Aku hanya memesan iced americano kesukaanku dan brownis ice cream strawberry, rekomendasi dari Indira, sementara dirinya memesan iced latte dan mont blanc cake, dari tampilan gambarnya sepertinya kue nya kecil akan tetapi itu adalah kue termahal di cafe ini, harganya diatas 100 ribu rupiah, setara uang makanku selama 2 hari.
"Brownies nya enak, kamu mau coba?" ucapku menggoda indira yang tengah asik menikmati tiap gigitan kue yang ia pesan.
aku mengambil potongan kecil dari kue brownies dengan sendok kecil dan menyuapinya.
"cupsss.." sesaat kue masuk ke mulutnya aku pun mengecup lembut keningnya. dan raut wajahnya memerah dengan perlakuanku.
"Duh sha.. kamuu tuh". ia gelagapan menanggapi hal yang baru saja ku lakukan. sepertinya ia salah tingkah karena ada beberapa pasang mata yang melirik ke arah kami berdua.
"kenapa sayang..." tanyaku menggoda indira yang masih malu-malu karena ciumanku di keningnya.
"emhhhhh.. kamu".
__ADS_1
"Sudah sudah.. eskrimnya meleleh tuh.. ayo makan sebelum mencair". entah kenapa obrolannya jd tak karuan.
Aku sangat menikmati semua momen disaat bersama Indira. Wanita ini selalu membuatku luluh dan terus merasakan rasanya jatuh cinta, dan begitu ingin untuk memeluk dirinya, memberikan rasa tenang untuk sejenak melupakan semua persoalan dan pekerjaan-pekerjaanya di kantor.
Bisa jadi aku tife lelaki yang posesif terhadap pasangan. Indira pun pernah mengatakan itu di awal-awal hubungan kami berdua. Bukannya merasa risih, ia malah memintaku untuk selalu lebih mementingkan dirinya dan selalu tetap menjaga komunikasi.
"Hari ini kamu mau pulang ke kontrakan sha?".
"Entahlah, lihat nanti saja. kenapa memangnya?" ucapku dan berbalik tanya.
"Aku mau sama kamu terus sha.. kenapa sih kamu tidak mau tinggal bersamaku?" ia mulai serius dan sedikit kesal karena beberapa waktu lalu aku menolaknya untuk tinggal bersama.
"Belum saatnya sayang... nanti ada waktunya kita akab menghabiskan banyak waktu berdua, bersabarlah.." Disaat kesal pun indira terlihat cantik dan menggoda. aku sangat tergila-gila karenanya.
Entah apa yang akan terjadi esok hari, namun hari ini ketika bersamanya aku merasakan kebahagiaan dan mulai menimbang-nimbang waktu untuk melamarnya seperti yang telah aku janjikan ke orang tuanya indira ketika bertemu beberapa hari yang lalu.
Aku tidak bisa membohongi diri, aku sangat membutuhkannya untuk mengisi hari-hariku. Aku hanya menginginkan dirinya menjadi orang pertama aku lihat ketika terjaga dari tidur lelapku di malam hari.
"Kamu kenapa sha?" Tanpa sadar kini tanganku menggenggam erat jemarinya.
"Aku lelah, aku ingin benar-benar memilikimu seutuhnya"
Tanganku diangkat perlahan olehnya dan mengecup lembut punggung tanganku.
"Aku telah menjadi milikmu.. percayalah".
__ADS_1
........