Jalan Panjang Menjadi Seorang CEO

Jalan Panjang Menjadi Seorang CEO
Bubur Ayam


__ADS_3

“Sayang, coba lihat bekas lukamu” ia mengangkat baju kaos yang aku kenakan, meraba bagian luka yang sudah kering, meski sesekali masih terasa agak gatal tetapi masih bisa ditahan, sesekali aku balur oleh cairan alkohol menggunakan kapas.


“Berasa sakit?”


“Emm.. Tidak”.


Ia diam beberapa saat mengamati luka di perut bagian kiri akibat hantaman peluru. Mungkin dirinya masih menyalahkan dirinya sendiri akibat dari kelakuan kakaknya yang membuatku seperti sekarang ini. Beruntung aku masih bisa terselamatkan, jika bukan karena Finna dan pihak kepolisian yang bertindak cepat tak mungkin aku bisa menghirup udara saat ini, kemungkinan besar aku mati akibat kehabisan darah.


“Sepertinya sudah bisa di buka jahitannya”


“Besok pagi kita ke klinik ya sayang,” Pintanya, kemudian berdiri menatapku dengan tatapan lembutnya seperti biasa.


“Dira.. Kamu masih berpikir ini semua kesalahanmu?”


“Emhh..” ia hanya menggumam tak jelas itu bertanda Iya atau Tidak.


“Sudahlah jangan terlalu dipikirkan, kita sekarang sudah jadi suami-istri, jika masih memendam kekecewaan atau hal-hal negatif yang lainnya, nanti malah akan memperburuk hubungan kita berdua”.


“Sampai saat ini pun, aku tak pernah menyalahkanmu, aku bersyukur bisa hidup bersamamu dan menjadi suamimu”.


Hening sesaat setelah kalimat yang aku ucapkan, tak ada hal lain yang Indira ingin katakan, jelas sekali jika ia masih menahan diri untuk meluapkan semua perasaan yang dirasakannya kepadaku.


Kami duduk berdua di kursi sofa, tubuhnya lekat memeluk dan meyandarkan wajahnya di dada. Dalam dirinya banyak hal yang belum bisa ia utarakan sepenuhnya meski kami sudah sah sebagai sepasang suami-istri, namun berbeda hal jika menyangkut urusan perasaan. Ada hal yang tidak selalu bisa diceritakan oleh ucapan, aku mencoba memaklumi dan menunggu hingga ia mau mencurahkan seluruh perasaanya padaku.


“Sudah malam, ayo tidur sayang”


Ia mengangguk pelan. Kami berjalan ke kamar dan merebahkan diri di kasur empuk mengistirahatkan badan yang telah lelah seharian dalam penat bekerja keras demi tujuan kita masing-masing.


Wajahku berhadapan dengan wajahnya, saling menatap tanpa sepatah kata terucap. Hanya seulas senyum lembut menghiasi bibir tipisnya itu yang ku kecup perlahan dan mengucap kalimat “selamat tidur” sebagai kalimat terakhir di malam ini sebelum esok sang fajar kan mengembalikan kesadaran kami berdua setelah pulas tertidur.


——————————————


Setelah pemeriksaan, dokter sudah memperbolehkan untuk prosedur pengangkatan jahitan dari lukaku, karena di bius terlebih dahulu aku tidak merasakan sakit atau apapun, dan disana dokter menjelaskan proses ini harus steril dan setiap 6 jam sekali harus di cek kembali bekas lukanya, jika ada berasa sakit atau gatal diusahakan menggunakan kapas dan alkohol untuk membersihkan bagian luka.

__ADS_1


Aku dan Indira menyimak penuturan sang dokter, karena awam terhadap hal-hal tersebut, ini menjadi pembelajaran baru bagi kami berdua, luka bisa berakibat infeksi jika tidak dibersihkan sesuai prosedur, maka dari itu kami harus mematuhi perkataan dokter.


“Terima kasih banyak dokter”.


“Sama-sama, ini resep obatnya bisa di ambil di apotik” ia menyerahkan lembar resep dengan tulisan yang tak akan mungkin bisa kami baca.


“Baik, terima kasih”.


Setelah menebus obat-obatan yang disarankan dokter, aku melihat grobak bubur ayam bersebelahan dengan apotek, rasa laparku makin tak tertahankan karen belum sempat sarapan dan lama sekali tidak makan bubur ayam di pagi hari.


“Sayang, kita sarapan bubur saja ya..” pintaku


“Eh.. Kamu tidak apa-apa cuma sarapan bubur?”


“Ayolah sesekali..” ajakku memaksa dan memeluk pinggang indira mengajaknya mendekati gerobak bubur ayam yang berada disamping apotek.


“Pak, pesan dua ya” lelaki tua bertopi itu pun kemudian bangun dari tempat duduk dan menyiapkan pesanan kami.


Lama sekali tak makan bubur ayam, dulu sewaktu kuliah sarapan bubur mungkin hampir setiap hari, jika tidak aku makan nasi kuning yang di jajakan para pedagang di dekat kampus, karena pagi hari, di seberang kampus selalu dipenuhi oleh berbagai macam makanan yang dijajakan oleh para pedagang.


“Pak kerupuknya dipisah ya” pesan indira kepada si bapak.


“Kasian dong kalau dipisah” timpalnya menanggapi pesanan indira, kini indira nampak bingung dengan maksud omongan si bapak penjual bubur.


“Bapak ini ada-ada saja”. Setelah mengerti, indira sontak tertawa dengan lawakan si bapak.


“Silahkan, ini pesanannya, dan ini kerupuknya sudah dipisah”. Terlihat senyumnya mengembang melihat kami berdua duduk di kursi plastik.


Bubur dengan kuah kuning, dilengkapi banyak irisan daging ayam dan kacang ditambah kecap manis dan juga sedikit sambal yang makin menggugah selera. Sajian murah-meriah namun sangat praktis dan menyehatkan ini tandas hanya dalam waktu kurang dari 10 menit saja. Begitu pun indira, ia menyantap habis makanannya.


Tak lupa air teh panas yang sengaja kami diamkan terlebih dahulu, menyegarkan tenggorokan dari sisa-sisa makanan bubur dengan aroma melati dan rasa pahit yang tidak terlalu pekat, sangat nikmat.


“Aku tadi ambil dua sate ampela, semuanya jadi berapa pak?”.

__ADS_1


“Semuanya Jadi 20 ribu” harga yang cukup murah di ibu kota dengan kisaran per porsi bubur hanya 8 ribu rupiah saja sudah memenuhi rasa lapar kami pagi ini.


......................


Kami melanjutkan perjalanan menuju kantor yang terlebih dahulu menuju kantorku di central arcadia. Meski istriku tak keberatan jika tiap hari harus antar-jemput seperti ini, namun ada baiknya jika posisinya nanti aku yang berlaku seperti itu kepadanya.


Karena kesehatan badanku sudah mulai membaik, mungkin tak lama lagi aku bisa antar-jemput indira, biar dia tak perlu kesusahan harus menuju arah yang berlawanan sebelum menuju kantornya yang jelas itu merepotkannya, apalagi di jam sibuk seperti pagi hari dimana setiap orang berkendara memenuhi tiap jalur-jalur di ibu kota.


Jadi teringat mobil yang dibelikan oleh adik-adiku jadi kado pernikahan kemarin. Belum pernah aku sentuh dan test drive, pasti akan sangat menyenangkan jika menggunakan mobil sedan itu untuk kami berdua, bisa untuk pergi ke kantor atau menyenangkan hati berlibur di sekitaran jakarta yang tak perlu menempuk jarak jauh ke luar kota.


“Kamu sedang mikirin apa sayang..” Indira membuyarkan lamunanku.


“Hahaha.. Tidak ada, cuma itu, mobilku tidak terpakai”.


“Sabar ya.. Kalau lukanya sudah sembuh betul, kita bisa pakai mobil itu kemana pun kamu mau”. Ucapnya.


“Setelah acaraku selesai, kita liburan yuk..” ajakku kepadanya, karena memang kita setelah menikah belum pernah bulan madu dan menikmati masa-masa indah seperti layaknya sepasang kekasih yang baru menikah.


Iri melihat Stefan dan Medina yang bisa bepergian ke jepang tanpa beban dari pekerjaan dan hal-hal lainnya, terbebas menikmati indahnya bulan madu hanya berdua tanpa perlu menghiraukan yang lainnya, dan itu pun dirasakan oleh diriku dan indira, setidaknya ada rasa yang kuat untuk bisa sedikitnya beberapa hari saja untuk kami berdua bepergian menjauh dari rutinitas harian yang menggila di setiap waktu.


Tak ada habisnya jika terus bergumul dengan keseharian pada pekerjaan. Jiwa dan raga tetap meminta haknya untuk bisa beristirahat dan menikmati moment tenang tanpa khawatir akan kesibukan sehari-hari. Dan kami berdua merencanakan pergi bulan madu setelah selesai acara peresmian perusahaanku dan rencananya hanya akan pergi ke tempat yang masih bisa di jangkau tanpa perlu ke luar negeri yang jauh, mungkin ke lombok atau juga ke daerah malang di Jawa Timur, sudah lama aku ingin pergi ke sana melihat perkebunan teh atau 2 malam camping menikmati rimba raya di pegunungan jawa yang menyajikan banyak keindahan pemandangan yang memanjakan mata.


.


.


.


***********************


Mohon maaf beberapa hari ini jarang update, karena sedang sakit dan ini pun masih dalam tahap penyembuhan. semoga kualitas cerita tidak berkurang dan para pembaca bisa tetap menikmati novel ini.


Terima kasih....

__ADS_1


__ADS_2