Jalan Panjang Menjadi Seorang CEO

Jalan Panjang Menjadi Seorang CEO
Kehidupan Baru


__ADS_3

Bibi-Paman ikut serta dalam acara pernikahan kami, mereka datang secara langsung ketika diundang langsung oleh ayahku. Sejak kecil aku di asuh oleh mereka, apalagi setelah ibu meninggal, mereka lah yang sering menjadi tumpuanku ketika ingin sekedar mencurahkan rasa yang ku pendam karena sang ibu yang telah pergi tenang di alam sana, sedang aku belum bisa menerima kenyataan.


"Kamu sudah tumbuh besar ya sharon, kami rindu sekali denganmu" Ucap bibi Hany seraya ia memeluk tubuhku, matanya berkaca-kaca terharu karena bisa melihatku kembali, ia tak pernah tau aku ada dimana dan memiliki kehidupan yang seperti apa.


"Bagaimana keadaanmu sekarang, ku dengan kamu masuk rumah sakit karena ditembak oleh penjahat?" paman Wilson menjabat tanganku, ia adalah suaminya bibi hany yang selama ini yang sering mengasuhku dulu saat kecil.


"Paman-Bibi terima kasih sudah hadir, aku baik-baik saja dan seperti yang kalian lihat sekarang, aku sudah sembuh" sedikit berbohong agar mereka tidak terlalu khawatir dengan luka yang aku dapat dari para penjahat yang di sewa oleh kakanya indira untuk mencelakaiku.


"Ajaklah istrimu nanti ke rumah paman, kami akan menyambut kalian berdua dengan senang hati". Ia melirik Indira yang di sampingku, berbasa-basi agar sewaktu-waktu bisa main ke tempat mereka.


"Tentu paman-bibi, terima kasih banyak atas ajakannya, kalau ada waktu. pasti kami berkunjung". Ucap indira.


Resepsi pernikahan yang kami gelar mungkin kecil, karena hanya direncanakan dalam beberapa hari saja. Jika bukan karena anjuran pak danang aku mungkin tak akan pernah berani untuk segera meminang indira. Karena pikirku, lebih baik menunggu aku memiliki karir yang bagus barulah bisa menikahi indira.


----------------------------


Suasana begitu meriah, saudara-saudaraku silih bergantian menyalami kami berdua. Dan mereka selalu menceritakan kerinduannya lama tak bertemu denganku, dari mereka semua tak ada yang mengetahui keberadaanku setelah kabur dari rumah setelah lulus SMA.


Keberadaanku seperti hilang ditelan bumi, hanya ayah yang diam-diam mengawasiku dari beberapa orang suruhan yang memata-mataiku selama ini, namun cenderung hanya untuk mengetahui kondisiku saja. aku pun mengetahui setelah bincang-bincang kemarin malam, bahwa selama ini ayah selalu memperhatikanku dari jauh.


"Sayang, adik-adikmu mana?" tanya indira penasaran dengan kedua adik-adiku yang tidak ada disini. entah, mungkin mereka sudah tak mau mengakuiku untuk menjadi kakaknya mereka atau ada hal lain yang menyebabkan mereka tidak bisa hadir di acara pernikahanku.


"Tidak tau". Bingung untuk jawab apa, karena memang aku menyadari seorang kakak yang tiba-tiba meninggalkan kedua adik perempuannya tidak hadir menjaga mereka, pasti mereka membenciku saat ini.


Seketika jadi mengingat dosa-dosaku selama ini kepada kedua adiku yang saat ini sudah beranjak dewasa yang tidak memerlukan lagi kakaknya. Adapun jika kita bisa bertemu belum tentu mereka kan menerimku kembali.


"Sayang, ada rame-rame apa diluar ?" tanya indira namun tak begitu aku pedulikan, sibuk dengan pikiranku sendiri memikirkan kedua adikku Felisha dan Yuniar.

__ADS_1


"Kakak.."


"Kakak.. Kakak"


"Sha.. ada yang memanggilmu tuh, siapa sha?" Aku menoleh ke arah pintu masuk yang baru saja ada dua wanita masuk ke taman tempat pernikahanku dan indira yang kini kami masih di kursi pengantin.


"Felisha... Yuniar.. kalian...?" ucapku tak percaya mereka berdua datang disaat aku sedang memikirkan mereka berdua. Kedua monster yang dulu sering menjahiliku ini telah menjadi wanita cantik jelita.


Tak sempat aku melanjutkan ucapanku, kedua adik ku ini berlari menuju panggung dimana aku duduk di kursi pengantin. mereka berdua terus mengucapkan kerinduannya karena telah lama tak pernah mendapat kabar dariku dan baru kali ini bertemu setelah bertahun-tahun lamanya.


"Aku senang kakak baik-baik saja, feli dan aku diberitahu ayah kalau kakak di rawat di rumah sakit" Ucap Yuniar adikku yang kini berumur 24 tahun.


"Kakak sudah sembuh, bagaimana bisa kakak bisa ditembak preman?" Felisha sedikit terlihat emosi mendengarku terkena musibah dan aku tak bisa menjelaskan rinci kejadiannya karena ini tidak etis untuk dikatakan, mengingat pelakunya adalah kakaknya indira yang kini indira telah menjadi istriku.


"Maafkan aku, ini semua karena kakak ku yang tidak setuju dengan pernikahan kami berdua dan mereka menyewa jasa preman untuk mencelakakan kakak kalian sharon, aku mohon maaf tidak bisa menjaga kakak kalian dengan baik.. tolong maafkan aku" indira membungkuk meminta maaf kepada kedua adik-adiku ini, mereka berdua saling menatap bingung dengan penjelasan indira yang cukup mengejutkan mereka berdua.


"Oh kakakmu, dimana dia, akan ku hajar dan ku jebloskan ke penjara, berani sekali melukai anggota keluarga kami!" Felisha naik pitam, emosi menjadi-jadi karena penjelasan indira.


"Kalau kedatangan kalian hanya mau ribut-ribut saja, ayah usir kalian dari sini". Ayahku memang keras sekali mendidik anak-anaknya, dan kini Felisha dan Yuniar kena omel ayah.


"Maaf ayah, aku tidak bermaksud seperti itu" sanggahnya kepada ayah.


"Segera minta maaf sama kakak iparmu!".


"Baik ayah, kak indira maafkan ucapanku. Aku hanya khawatir dengan kak sharon, aku tidak bermaksud untuk menyinggung kak indira". Ucapnya lemah dan menunduk ke arah indira, tak lama ia memeluk felisha dan juga yuniar.


"Maafkan kakak, lain kali kakak akan lebih baik menjaga kakak tercinta kalian ini" Indira memeluk di sambut pelukan dari mereka berdua.

__ADS_1


Ketiga perempuan cantik ini sangatlah membuatku terpesona, terlebih Felisha yang dulu ku kenal masih ingusan sekarang menjelma menjadi wanita cantik bak bidadari turun dari kayangan.


"Oh Iya kak, ikut kami keluar yuk, kak indira juga ikut".


tanganku ditarik oleh yuniar, dan felisha menggandeng indira menuju keluar rumah yang disana ada sebuah mobil mewah sedan berwarna putih merk Ford yang masih baru terlihat mengkilap dan sangat stylish.


"kakak aku dan Felisha membeli ini untuk kakak, ini kado untuk pernikahan kalian berdua" Felisha dengan senyumnya yang centil itu sedang memamerkan kado istimewa untuk yang sampai hari ini pun belum pernah membeli mobil.


"Kalian dapat uang dari mana, bisa membeli mobil semewah ini?". sedikit heran, tidak mungkin mereka berdua bisa patungan untuk membelikan mobil sedan keluaran terbaru ini, belum lagi harganya bisa sampai 2-3 Miliar.


"Hehe.. minta sama ayah". yuniar menimpali.


"Hahahahah.. kalian berdua ini, terima kasih banyak adik-adiku yang manis".


"Bagaimana kak, bagus kan?" Tanya felisha memastikan aku menyukai hadiahnya ini.


"Hadiahnya sangat bagus, tapi kakak sudah dapat hadiah yang paling berharga hari ini".


"Bertemu dengan adik-adikku yang cantik ini, kakak sudah bahagia sekali". Aku merangkul mereka berdua yang kini senyum-senyum sendiri karena ucapannku.


Sampai tak tahan rasanya ingin menangis, kebahagiaan demi kebahagiaan datang silih berganti setiap menitnya. adanya mereka berdua telah menjadi penyembuh bagi jiwaku. Suatu saat aku akan membalas kebaikan mereka berdua dan akan lebih memperhatikan adik-adikku yang masih usia remaja. Selain indira, kedua adiku ini adalah harta tak ternilai yang tak bisa digantikan oleh apapun, dan akan ku lakukan apapun untuk bisa membahagiakan istriku dan juga adik-adikku.


.


**********************


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2