Jalan Panjang Menjadi Seorang CEO

Jalan Panjang Menjadi Seorang CEO
Khawatir


__ADS_3

Sejak semalam, Indira tidak ada kabar sama sekali, aku sedikit khawatir karena tidak biasanya ia tak menghubungiku, dan pesanku pun belum dibaca apalagi di balas. Entah mungkin karena sibuk atau ada hal lain yang memang sedang terjadi, aku khawatir.


Beberapa kali aku coba hubungi nomor ponselnya namun tidak ada jawaban dan tersambung pada pesan suara saja. Sudah tiga kali aku meninggalkan pesan suara di mailbox nya. Aku tak menaruh curiga apapun karena hal-hal remeh seperti 'indira selingkuh dengan lelaki lain'. Bukan karena hal kecil itu, aku takut terjadi hal-hal buruk menimpanya disaat aku tidak berada pada jangkauannya.


Benar-benar membuatku khawatir saja.


Aku melaju bersama ojek online ke kantornya demi memastikan keadaanya, ini kali pertama ia tidak ada kabar sama sekali. Paling tidak aku bisa mengetahui dia ada di kantor atau pun tidak, dan mungkin bisa mendapatkan informasi kalau saja ia tidak ada dj kantor dan tengah bertugas atau sedang meeting di suatu kantor perusahaan dan menyulitkannya untuk sekedar berkirim pesan dari ponselnya.


"Sudah sampai mas.." tanpa sadar aku sudah sampai di kantor Indira. Karena melamun memikirkan berbagai hal aku tidak memperhatikan laju motor yang kami gunakan.


"Terima kasih mas" setelah mengembalikan helm motor ojek online aku beranjak pergi menuju Lobby utama hendak menanyakan keberadaan Indira pada pihak resepsionis.


"Silahkan pak, ada yang bisa kami bantu" seorang perempuan cantik dengan tubuh langsing berdiri dari tempat duduknya di balik meja resepsionis dan memprsilahkanku untuk mengutarakan maksud dan tujuanku kemari.


"Saya mau bertemu Indira, apa ia sedang ada di kantor?" tanpa basa-basi langsung menanyakan perihal Indira kepada wanita itu.

__ADS_1


Ia sedikit terheran dengan ucapanku yang to the point tanpa memperkenalkan diri terlebih dahulu. Ia memperhatikan detail penampilanku, yang membuatku sedikit risih dipandang dengan tatapan yang kurang mengenakan itu.


"Dengan Bapak siapa saya bicara?" tanya nya.


"Sharon".


"Baik bapak Sharon, apakah bapak ada janji bertemu dengan beliau?".


"Tidak, saya hanya ingin tau, apakah Indira ada atau tidak. Tolong cari tau, dan jika ada beri kabar kepadanya untuk menemuiku di sini" aku mempertegas kembali maksud kedatanganku kali ini. Karena sangat bertele-tele sekali resepsionis ini sedikit membuatku geram, namun aku faham itu adalah tugasnya untuk memastikan seseorang tentang perihal kedatangannya dan hendak bertemu siapa.


Ia pun kembali duduk dan melakukan panggilan untuk menanyakan tentang wakil direktur Indira.


Entah apa yang sedang dilakukan Indira ini sampai tidak memberiku kabar sama sekali. Aku mulai panik dan bergegas meninggalkan kantor menuju halte hendak memesan taksi online. Selanjutnya menuju apartemen Moonlight Paradise tempat tinggal Indira.


Pesanan taksiku belum juga datang. Mungkin terjebak macet, hampir 10 menit lamanya menunggu, udara yang begitu panas hari ini semakin membuatku gila dengan banyaknya kecemasan yang aku rasakan. Indira dimanakah dirimu..

__ADS_1


Suara dering ponsel disaku celanaku membuatku sedikit tambah khawatir, telebih ini adalah nomor baru, tidak ada nama penggunanya. Tanpa pikir panjang aku langsung mengangkatnya.


"Hallo" ucapku menyapa, untuk memastikan orang yang menelponku.


"Sha, ini aku Indira. Aku pakai ponsel Papah buat menelponmu, handphoneku hilang entah kemana". Indira menceritakan dirinya sedang bersama ayahnya yang hari ini ada di Jakarta untuk keperluan bisnis dan juga, aku ingat sekali malam selasa ini Indira bermaksud memperkenalkan ayahnya kepadaku.


Aku mencari kabar Indira karena mau menanyakan hal ini, apakah nanti malam jadi bertemu dengan ayahnya atau tidak. Namun Indira yang seperti lenyap tanpa kabar ini membuatku panik tanpa memikirkan hal lain.


"Sayang, kamu benar-benar membuatku gila hari ini" ucapku sedikit kesal juga karena baru saat ini ia memberiku kabar.


"Maaf sayang, maafin aku. Aku sedang membantu Papa mengurus sebuah acara di Hoter Carlton. Tolong jangan marah ya sayang"


Ia pun bercerita tentang ponselnya hilang entah kemana. Sejak tadi pagi ia berangkat untuk bertemu ayahnya di hotel Carlton, sejak saat bertemu beliau ia lupa ponselnya dimana, dan karena acara ayahnya itu, perhatian Indira teralihkan untuk membatu sang ayah di jamuan pertemuan bersama beberapa puluh rekan bisnisnya di Ibu Kota.


Sepertinya aku terlalu berpikiran buruk terhadap indira, dan sempat saat panik tadi aku memikirkan Indira tengah bersama seorang lelaki kaya dan berselingkuh dibelakangku. Untuk saja tuhan memberikanku jawaban cepat untuk semua kekhawatiranku ini.

__ADS_1


Malam ini Indira dan ayahnya ada di Hotel Carlton, hotel bintang lima ternama di Ibu Kota, karena gedungnya yang megah dan mencolok sekali di pusat kota, tempatnya menjadi sarana para pebisnis untuk menggelar acara mewah atau hanya sekedar untuk city vacation menikmati fasilitas mewah hotel.


Kalau bukan karena undangan ayahnya indira mungkin aku tidak akan pernah menginjakan kaki ke hotel Carlton yang harga sewa kamarnya per malam bisa setara harga untuk sebuah motor matic keluaran terbaru. Jelas aku tidak akan pernah menghamburkan uang hanya untuk biaya menginap semalam saja, lebih baik uangnya untuk membiayai kebutuhan kantor perusahaan rintisanku sendiri.


__ADS_2