Jalan Panjang Menjadi Seorang CEO

Jalan Panjang Menjadi Seorang CEO
Pergi!


__ADS_3

Belum lama ini aku selalu memimpikan tentang masa sewaktu ku masih kecil, mungkin karena sedang merindukan mereka. hampir 10 tahun lamanya tak tau keadaan ayah dan adik-adik ku.


Suatu waktu kami bertiga sedang petak umpet, dan aku mencari mereka berdua yang sedang bersembunyi, berlarian dari satu ruang menuju ruang lainnya di rumah keluarga. Berlari kesana-kemari mengejar adik-adik ku, mereka sangat akhli jika bersembunyi, saat ini pun aku sulit menemukannya.


Mencari di tiap sudut namun tak menemukan adik-adik ku Felisha dan Yuniar. Mungkin mereka di ruangan kamar ibu, aku hendak mencarinya disana namun dihentikan oleh paman.


“Mau kemana?” ucapnya kepadaku yang sedang menuju kamar ibu.


“Paman Gani.. Lihat Yuni dan Feli?, kami sedang bermain petak umpet, tapi mereka tidak tau dimana”. Aku menanyakan keberadaaan dua makhluk mengesalkan itu.


“Mereka di rumah sakit, sekarang kamu ikut paman untuk menyusul kesana”. Kenapa kerumah sakit, apakah ada sesuatu hal yang terjadi kepada ibu. Aku bertanya-tanya kepada paman namun ia tetap bungkam tak mau memberitakukanku.


Kami bergegas masuk mobil dan menuju RS. Cahaya Harapan. Jalanan macet membuat kendaraan yang kami gunakan terhenti di beberapa ruas jalan menuju rumah sakit. Duduk di belakang bersama paman gani, ia terlihat khawatir entah karena apa.


“Ada apa paman..” ia tiba-tiba saja mengelus rambutku


“Tidak ada…” ucapnya kemudian dan bersiap-siap dengan tas yang ia bawa hendak keluar mobil karena sudah sampai di pelataran parkir di gerbang selatan RS.


“Ayo ikut..” ia menggenggam tanganku dan mengajak masuk ke RS, masuk lift dan aku masih terheran saja dengan sikap paman yang biasanya selalu riang kini hampir tidak ada senyuman yang menghiasi wajahnya tuanya itu.


“Sebenarnya kenapa kita kesini paman, siapa yang sakit?” tanyaku dan paman hanya diam tanpa memberikan jawaban apapun.


Beberapa menit kemudian kami sampai di sebuah kamar VVIP dengan beberapa orang duduk di kursi depan kamar rawat. Ada Feli dan juga Yuni adik-adik ku ditemani oleh mbak Yayah pembantu kami.

__ADS_1


“Feli, Yuni kenapa kalian menangis, kita tadi sedang bermain, aku mencari kalian berdua ternyata ada disini.” Ucapku ke mereka.


“Kakak, Ibu akan sembuh kan kak?..” mereka berdua menghampiri dan memeluk. Aku masih belum mengerti tentang situasi yang sedang kami hadapi saat itu.


Lama kami menunggu, entah apa juga yang sedang kami tunggu, hampir setengah jam berada dibangku tunggu depan kamar. Udara dingin dan juga berbau dari bermacam obat-obatan menusuk hidungku, sangat tidak nyaman.


“Mbak, ibu kenapa.. Ibu sakit apa?” mbak Yayah menoleh ke arahku, matanya sembab hendak menangis dan semakin membuatku bertanya-tanya apa yang sedang terjadi, dan kenapa ibu masuk ke ruangan rumah sakit ini.


“yang sabar ya.. doakan ibu supaya cepet sembuh dan bisa berkumpul lagi dan main bersama kamu dan adik-adik” suaranya lemah terdengar, ada rasa sedih yang begitu mendalam terlihat dari raut wajah mbak yayah dan juga paman gani.


Setelah menunggu lama, saat itu dokter dan suster berseragam putih Panjang dengan stetoskop yang masih menggantung di leher sang dokter menghampiri kami semua. Serentak kami berdiri dan menanyakan keadaan ibu.


Ada banyak hal yang dokter bicarakan, dan aku tidak mengerti betul apa yang sebenarnya mereka sedang bicarakan saat itu, aku hanya mendengar sepintas kalau ibu berhasil sadar dari koma selama sebulan ini.


“Pasien sudah sadar dan boleh di jenguk, hanya saja jangan terlalu berisik dan tidak boleh dijenguk banyak orang”. Sang dokter itu pun pergi meninggalkan kami semua berjalan ke ruangan lain yang juga di ikuti oleh paman gani, mungkin ada hal lain yang harus diberitahukan kepada paman tentang penyakitnya ibu.


Rasa yang begitu menenangkan tatkala beliau megusap punggungku juga rambut. Pandangan matanya sedikit nanar tak begitu fokus melihat ke arahku. Setelah 1 bulan lebih ia tak sadarkan diri, Ibu kami kembali sadar, meski begitu aku masih tak mengerti apa penyakit yang membuat ibu sampai koma lama di rumah sakit dan aku bahagia hari itu Ibu bisa ada untuk ku dan adik-adik.


“Kakak.. sudah makan?” tanya Ibu dengan suara yang sangat pelan namun masih bisa ku dengar.


“Sudah bu.”


“Kakak jangan nakalin adik-adikmu terus ya. sebagai lelaki kamu wajib menjaga adik-adikmu”. Ucapnya kemudian kemudian ia pun meraih tangan adik-adiku yang duduk dipinggiran tempat tidur ibu.

__ADS_1


“Iya Bu, aku kangen Ibu” .


......................


Kepingan-kepingan kenangan muncul diwaktu dan tempat yang sangat pas sekali, aku sangat merindukan ibu, setelah beberapa lama meninggalkan rumah, mala mini begitu sangat menyesakan dada karena tak ada saudara yang menemaniku untuk esok hari.


Hari yang paling bersejarah dimana aku akan menyandang sebagai suami dari wanita yang sangat aku cintai untuk melindunginya seumur hidupku sampai maut memisahkan kami berdua.


Hampa rasanya, di hari spesial tak satu pun keluarga menemani, ada rasa kecewa dan juga sedih. Mungkin aku sedikit merasakan bersalah karena telah lama meninggalkan rumah, meninggalkan adik-adiku yang mungkin sekarang sudah besar dan cantik-cantik.


Seharusnya sebagai seorang kakak, aku tidak boleh egois dan menuruti keinginan ayah untuk melanjutkan kuliah bisnis dan menduduki jabatan di perusahaannya meneruskan jejaknya di perusahaan yang ia rintis dari awal karirnya dahulu.


Sepertihalnya yang ibu ucapkan saat itu, kewajiban untuk menjaga adik-adik tidak bisa aku tuntaskan dengan baik, aku merasa malu dan tak berdaya jika mengingat apa pesan ibu kepadaku sebelum beliau menghembuskan nafas terakhirnya dan menjadikan banyak perubahan besar di keluarga khususnya pada ayah yang tak lama setelah ibu tiada, ayahku lebih banyak berdiam diri di ruang kerjanya dan juga di kantor, hampir tidak ada waktu untuk kami bertiga sebagai anak-anaknya.


Ayah pun menjadi pemaksa, selalu memaksakan keinginannya pada kami bertiga, tidak banyak pilihan pada diri kami selain menuruti kemauannya. Akhirnya, setelah lulus SMA aku pun memberanikan diri pergi dari rumah, setelah ayah membentakku karena tidak menuruti keinginannya untuk melanjutkan study di liar negeri untuk belajar di universitas bagus di bidang bisnis.


"Pergi dari sini, jika tidak mau menuruti perintahku!" kalimat ayah saat itu membuatku sakit hati dan memberanikan diri untuk pergi saat itu juga tanpa membawa uang sepeserpun.


......................


Faktanya aku memang pengecut, tak bisa meyakinkan orang tua akan pilihan hidupku dan lebih memilih untuk melarikan diri ke Jakarta dan kuliah di jurusan Teknologi Informatika sesuai yang aku inginkan. Aku tak mengerti apa itu bisnis dan semacamnya, aku hanya menyukai dunia-dunia computer dan internet yang sedari kecil sudah menjadi hobiku.


Setelah sejauh ini, rasanya tak mungkin untuk menyesali apa yang sudah aku mulai, paling tidak aku harus menunjukan diriku mampuh menjadi orang yang bisa dibanggakan banyak orang dan juga keluarga, aku akan berdiri dengan prinsif hidup yang aku pegang tanpa harus berpangku tangan kepada ayah.

__ADS_1


Jauh dalam lubuk hati ini, aku merindukan mereka semua. Terutama adik-adik yang sangat aku sayangi. Entah jika nanti aku muncul ke hadapan mereka, apakah semuanya mau menerima diriku kembali ke keluarga atau tidak. Mungkin juga tidak.


...****************...


__ADS_2