Jalan Panjang Menjadi Seorang CEO

Jalan Panjang Menjadi Seorang CEO
Belahan Jiwaku


__ADS_3

"Sha, kamu baik-baik saja?" indira memeluk erat tubuhku dari belakang saat di dalam lift menuju kamar hotel. Kamar itu sengaja di sewa oleh Indira untuk menyambut ayahnya yang saat tadi siang ada acara gathering bersama para pebisnis lain dari Ibu kota bahkan dari berbagai kota pun turut datang juga.


"Nanti saja bicaranya" aku berbalik badan menghadapnya. Tatapan bahagianya itu tidak bisa disembunyikan terutama dari senyuman manisnya yang selalu membuatku mabuk kepayang.


.....


Lelah sekali hari ini, aku belum ganti baju dari tadi siang dan belum sempat kembali ke rumah kontrakan karena letak nya sangat jauh dari lokasi hotel. Setelah seharian bekerja tak buruk juga untuk melepas penat dengan membasuh tubuh ini dengan berendam air hangat yang sudah tersedia disiapkan oleh Indira.


Kamar mandi mewah ini begitu luas mungkin sebesar ruang tamu di rumah kontrakan yang aku tinggali, besar dengan pernak-pernik yang meningkatkan kesan mewah. Tanpa pikir panjang aku langsung membasuh terlebih dahulu  tubuhku dengan air dingin dengan shower lanjut masuk ke bathub yang sudah diisi air hangat yang pas sekali kehangatannya, terasa nyaman dan dalam sejenak saja, tubuhku menjadi sangat rileks seperti terangkat semua sisa-sisa kelelahan dari tubuhku.


Aku menikmati sekali berendam air hangat di bathtub, sayangnya aku tidak bisa melakukan ini setiap hari, di kontrakan hanya tersedia bak mandi keramik yang ukurannya kecil dan mandi dengan gayung berwarna pink berbentuk hati, umum bagi kalangan kelas bawah sepertiku.


Saking terlalu nyamannya aku menutupkan mata menikmati sensasi air hangat tanpa mempedulikan sekitar, namun tetap terdengar ketika pintu kamar mandi terbuka perlahan. Ah Indira, kenapa dia malah kesini diwaktu yang kurang tepat. Batinku sedikit terusik dengan kedatangannya yang tak mengenakan sehelai kain pun menutupi tubuhnya.

__ADS_1


“Air hangatnya pas kan, sha?” ia bertanya kepadaku yang pura-pura tertidur dan tak mendengarkannya, ia pun bergegas membasuh tubuhnya terlebih dahulu di shower membersihkan diri dengan sabun shampo yang tersedia dari hotel.


“Ikutan ya sha..” ia pun masuk ke bathub besar ini tanpa mempedulikanku yang masih enggan untuk membuka mata. Namun dirinya tetap saja menyengajakan diri untuk berada disamping memeluk tubuh, dan menyandarkan kepalanya di dadaku yang tidak sepenuhnya terendam.


“Bagaimana acaranya tadi..” tanyaku basa-basi mengalihkan perhatianku dari tiap lekukan tubuhnya yang kini terpampang jelas dikedua mataku ini.


“Lancar, Ayahku senang karena bertemu dengan teman-teman lama, juga ada penandatanganan kontrak baru untuk perusahaanya” timpal Indira yang masih bermanja-maja memeluk erat tubuhku.


“Syukurlah kalau begitu”.


.................


Tubuhku terhuyung karena terlalu lama berendam dan menyebabkan sedikit pusing di kepala ini, setelah mengeringkan badan dengan handuk, aku berjalan menuju ruang kamar hanya dengan mengenakan sehelai handuk menutupi bagian vital. Pikirku tadinya ingin menggunakan kembali baju yang tadi aku pakai, namun sudah terlanjur bau keringat jadi aku urungkan saja, paling tidak ada kimono biasanya di hotel mewah seperti ini. Akan tetapi terlambat, Indira sudar terlebih dahulu memakainya dan hanya ada 1 saja di lemari pakaian itu tidak ada lagi yang lainya.

__ADS_1


“Sayang.. Kemari..” pintanya manja kepadaku yang masih berdiri mematung menghadap lemari yang kosong.


“Sha.. Sini dong..” rengeknya kemudian, akhirnya aku menyerah hanya dengan handuk ini saja, dan kemudian mematikan lampu ruangan yang kini redup, hanya remang-remang cahaya lampu kecil saja yang menyinari kami. Aku pun menanggalkan handuk dan merebahkan diri ke kasur ditutupi oleh selimut tebal untuk menutupi seluruh badanku. Indira tersenyum genit menatapku, beanr-benar membuatku sedikit canggung karenanya.


“Sha..kamu cuek banget, ada apa?” ia mendekatiku perlahan, menyilangkan tanganya ke tubuhku. Deru nafasnya tidak terkendali, begitu bergairah sekali.


“Aku...” belum lah selesai berbicara bibirnya kini menempel di bibirku, menciumku dengan cukup kuat, pagutan bibirnya mengahancurkan pertahananku yang tak bisa lagi dikontrol untuk tidak menikmati pesona malam ini dari seorang Indira.


Malam panjang kami berdua pun dimulai. Tak hanya puas dengan ciuman-ciuman saja, Indira lebih berani dan leluasa memanjakanku malam ini, ia diatas menindih tubuhku dan melanjutkan ciuman-ciuman nakalnya tanpa mempedulikan aku yang semakin menggila *******-***** punggungnya yang halus bak kain sutra.


Tak ada kata-kata diantara kami, sibuk dengan kenikmatan yang kami tuai bersama memacu adrenalin menuju puncak dari segala keindahan dan kenikmatan duniawi, Indira adalah surga yang nyata bagiku saat ini, tak ada hal lainnya yang aku inginkan, hanyalah dia yang telah menjadi bagian dari jiwaku.


....

__ADS_1


....


...


__ADS_2