Jalan Panjang Menjadi Seorang CEO

Jalan Panjang Menjadi Seorang CEO
Hujan


__ADS_3

Awan mendung menghiasi langit Ibu kota, mungkin hujan akan turun deras kali ini. Setelah siang hari di isi oleh terik matahari dengan hawa panas yang begitu menyengat, namun ini hanya awal dari permulaan proses hujan kan turun membasahi bumi. Langit yang kian kelam itu terpampang luas dari balik jendela kantor. Indira khawatir akan cuaca kali ini.


"Sepertinya harus bergegas" monolog dirinya tanpa memperhatikan seseorang yang masuk ke ruangannya.


"Kamu sudah mau pulang?" tanya sang direktur.


"Ah.. Mengagetkan saja"


"Iya aku sudah ada janji hari ini" timpalnya disela-sela kekagetannya terhadap lelaki yang kini berdiri tak jauh dari tempat ia duduk.


"Tolong persiapkan presentasi untuk kerja sama dengan PT. Menara Internasional, sebisa mungkin kita harus bisa menembus perusahaan itu bagaimana pun caranya" ia menyerahkan satu bundle berkas di meja untuk menjadi bahan yang bisa dipelajari untuk mendekati perusahaan menara.


"Baik. Saya akan pelajari terlebih dahulu" ucap indira seraya mengambil berkas tersebut dan kemudian hendak pergi meninggalkan kantor"


"Saya pamit duluan pak.. " ucapnya kepada si boss besar.


.....


Jalanan begitu padat oleh kendaraan bermotor, ia terjebak dalam kemancetan panjang di jalan persada masih tak jauh dari kantornya. Karena hampir tidak mungkin untuk menembus kemacetan, akhirnya ia berbelok ke sebuah mall untuk memarkirkan mobilnya dan mencoba memanggil ojek online untuk mengantarnya ke dekafe agar lebih cepat sampai.


Setelah selesai memarkirkan mobil di basement mall, ia berjalan menuju pintu keluar khusus pejalan kaki. Tak disangka ia akan berpapasan dengan mobil Andre yang juga terparkir di basement mall. Terlihat ia sedang cekcok beradu mulut dengan Finna.

__ADS_1


Ingin rasanya ia pergi menjauh dari pandangan matanya terhadap pasangan yang sedang bertengkar. Ketika akan melanjutkan untuk pergi, ia mendengar suara tamparan keras.


Plaaaakkkkkk...


"Beraninya kamu andre!" amarah Finna tak terbentung lagi ketika tangan andre melayang menampar pipi putihnya itu yang seketika memerah meninggalkan bekas jari di pipi.


"Kamu tidak pernah mau mendengarkan penjelasanku Finna!, aku tidak ada hubungan apa-apa dengan perempuan itu" andre membentak dan kemudian tersadar tak jauh dari tempat mereka berdiri sekarang ada sesosok perempuan yang memandanginya, menatap tajam penuh dendam. Ya.. Itu Indira yang sedang menyaksikan pertengkarannya.


Indira yang tak tega melihat perlakuan andre terhadap finna, kini mendekati mereka berdua, ia meraih pergelangan tangan finna mantan sahabatnya itu berlalu dari hadapan andre untuk berbalik arah menuju mobil indira.


"cepat, ikut aku!" perintahnya kepada finna.


"Lepaskan!" pekiknya mencoba membebaskan diri dari cengkraman indira.


Rintik air hujan kian deras membasahi jalanan, biarlah terjebak macet dan hujan, kini ada hal penting yang lebih ia prioritaskan demi sahabat lamanya.


Indira bersama finna di dalam mobil hanya bisa terdiam seribu bahasa tak ada ucapan apapun selama beberapa waktu berselang. Suasana canggung kian mencekam dibumbui oleh gelegar petir yang mengelora di langit Jakarta dengan hujan yang kian deras tak kunjung henti.


Lebih dari 20 menit mereka tiba di dekafe dan memarkirkan mobilnya itu pelataran parkir yang tak terlalu luas. Setelah mematikan mesin mobilnya itu, Indira menatap Finna yang masih terdiam, ada percikan air mata yang ia lihat di pipi mulus sahabatnya


"Kamu tidak apa-apa?" ucapnya khawatir terhadap finna yang masih terdiam dengan pandangan mata yang kosong menatap entah kemana.

__ADS_1


Bagaimanapun Finna adalah sahabatanya, ada rasa tak tega ketika melihat ia harus diperlakukan kasar oleh si brengsek andre. Telah lama ia mengenal dan berbagi banyak kenangan entah itu kenangan pahit pun kenangan manis. Sosok di sampingnya itu kini seperti boneka tak bernyawa, shock akan kejadian yang telah menimpa. Indira bergeser dan mendekati finna, kemudian merangkulnya dengan erat, pelukannya berhasil membuat finna tersadar dan kini ia menangis sejadi-jadinya didalam pelukan indira, ada rasa sesal dan juga rasa tenang bercampur aduk mengobrak-abrik perasaannya.


Hampir 10 menit lamanya Finna menangis di pelukan sahabat lamanya itu. Tak ada kalimat apapun keluar dari mulutnya selain isak tangis pilu yang membuat hati indira terenyuh mengasihaninya. Hanya Indira yang bisa menenangkan hati wanita dihadapannya itu yang kini sedang patah hati karena kebusukan Andre, ia pun dulu pernah mengalami di situasi yang hampir sama dengan yang dialami oleh Finna.


"Maafkan aku dira.. Aku salah menilai Andre"


"Dia.. Dia diam-diam berkencan dengan perempuan lain" Finna bicara dengan terbata-bata.


Indira hanya bisa memeluk dan mengusap lembut rambut finna dan membiarkan untuk tetap berada di pelukannya, hanya itu yang bisa ia lakukan. Ia tau sekali tabiat dari sahabatnya ini, jika sedang ada masalah lebih baik untuk diam dan membiarkannya agar kemudian tenang dan menceritakan sendiri masalah yang sedang ia hadapi.


Finna melepaskan pelukan indira dan kini ia tertunduk lemas. Kejadian itu membuatnya sadar telah salah memilih andre dengan merebut dari sahabatnya sendiri, Indira. Ia sangat malu telah mengkhianati sahabatnya itu semasa kuliah tak pernah sekali pun Indira berlaku jahat kepadanya, bahkan mungkin lebih banyaknya ia yang selalu memicu pertengkaran karena sikap egoisnya yang terlalu mendominasi.


"Sudah tenang? Ini minum dulu fin.." Indira menyerahkab botol air mineral kepada sahabatnya itu dan di minum hampir setengah dari botol tersebut.


"Dira.. Aku berjanji tidak akan pernah mengkhianatimu atau jahat kepadamu lagi, tolong maafkan aku" ucap Finna yang menatap lembut Indira.


"Tolong maafkan aku" tuturnya dan kemudian indira memeluk kembali sosok sahabatnya itu.


"Aku selalu memaafkanmu fin".


"Aku selalu menunggu kita bisa kembali seperti dulu lagi, aku menyayangimu finna" bisik indira kepada Finna yang kini mereka berdua tengah menangis bersama saling menumpahkan segala keluh kesah yang ada.

__ADS_1


.....


__ADS_2