
Berulang kali selama kehidupan indira, ia mendapati kenyataan pahit terhadap pasangan-pasangan yang pernah hadir dalam hidupnya. mulai dari lelaki yang hanya mendekatinya karena uang, maupun karena ia tak bisa untuk mengatakan tidak yang berujung ia harus berpacaran dengan lelaki yang sebenarnya tidak ia sukai. selebihnya ia banyak tertipu karena memang indira ini wanita yang terlampau polos, lugu pada hal-hal seputar percintaan.
Salah satunya adalah Andre, yang terus saja berulah dan selingkuh dibelakangnya. Meski akhirnya dia meminta maaf namun, terakhir kali dirinya mengetahui kalau ia berpacaran dengan sahabat karibnya sendiri, emosinya membuncah tak terbendung lagi yang mengakibatkan putusnya hubungan persahabatan yang sudah di jalin dengan Finna teman sekampus dan juga yang menemaninya selama berkuliah bersama tempo dulu.
Tak satupun sanak family atau teman yang bisa di ajak berkeluh kesah seputar kehidupannya, Kakanya begitu cuek dan tak mempedulikan, adapun adiknya yang bernama intan masih kecil belum bisa ia ajak bercerita panjang lebar seputar hal-hal orang dewasa, intan sendiri perempuan yang anti pacaran-pacaran dan tak ambil pusing untuk romantika picisan yang akan mengganggu study nya.
Kebanyakan perempuan di kota yang tidak memiliki teman lebih sering menyibukan dirinya pada rutinitas harian dalam pekerjaan. Indira merupakan wanita yang lemah dalam hal percintaan berbanding terbalik dengan ia ketika bekerja profesional. Berkat kegigihannya itu ia berhasil meningkatkan nilai proyek-proyek di perusahaanya dan menjaring relasi bisnis di berbagai negara. Jabatan yang ditawarkan atasanya pun tak main-main menjadi wakil direktur dengan gaji besar belum termasuk tunjangan dan bonus tahunan.
Dalam pikiran semua orang, memiliki uang seperti memiliki 90% kebahagiaan dunia. Namun tak berlaku bagi Indira yang benar-benar jauh dari siapapun tak ada yang menjadi teman di kehidupan sehari-harinya yang lebih banyak ia habiskan di apartemen atau sekedar singgah makan di resto mewah.
Perkenalannya dengan Sharon berawal dari aplikasi LumeChat yang bisa chating secara anonim tanpa mengetahui siapa lawan bicaranya. setelah berbagi kisah dalam beberapa bulan, akhirnya Indira membuka sedikit hati untuk lebih mengenal siapa lawan bicaranya yang selalu menemani di masa-masa terpuruk.
"Bagaimana kalau aku mengajak bertemu, apa kamu mau?" Ucap Sharon yang saat itu memang tidak sedang menjalin asmara alias jomblo akut hampir 3 tahun tidak pernah berpacaran, walaupun ada yang sedang ia taksir namun tak berani dan berujung kekecewaan karena si perempuan menjadi kekasih orang lain.
"Emh.. Aku pikir-pikir dahulu".
"Bukan berarti aku tidak ingin bertemu, hanya saja aku belum siap" ucapnya di pesan aplikasi.
"Baiklah, aku akan menunggu".
Suatu waktu pada jum'at petang ia melihat mobil sedan mercy berwarna hitam dengan flat nomor yang sangat ia hapal, Andre. Disana ia melihat untuk pertama kalinya Andre sedang bercumbu mesra dengan Finna yang menjadi teman semasa kuliahnya dahulu. Lama tak terdengar kabar setelah ia kuliah di luar negeri, ia menjadi pimpinan perusahaan dari perusahaan ayahnya. Karena tak sanggup, ia pun memutuskan untuk menghilang dari Andre dan lebih baik tak perlu lagi berhubungan dengan Andre dan juga finna agar tidak mengganggu keduanya, dipikirannya saat itu, jika memang itu yang terbaik buat sahabatnya maka ia rela melepaskan Andre, toh ia juga sudah sering sekali berselingkuh dan sudah muak karena ulahnya.
"Hai, bagaimana kabarmu hari ini?" Ucap sharon memulai percakapan di pesan instan LumeChat.
__ADS_1
"Too Bad. aku baru melihat pacarku berciuman di mobil bersama teman baikku.." Timplanya dengan penuh emotikon menangis.
"Waw.. Baguslah kalau begitu, jadi cowok brengsek itu sudah tidak memiliki kesempatan lagi untuk mendapatkanmu."
"This is my turn. heheheh" sambungnya mencoba bercanda menanggapi kejadian yang menimpa Indira.
"GAK LUCU SHA.. GAK LUCU.!" balasnya dengan huruf besar-besar menandakan kemarahannya.
"Tergantung!" Sharon coba mamancing kembali kemarahan Indira yang saat itu penuh dengan dendam kesumat terhadap lelaki brengsek yang sudah menghancurkan hatinya.
"Maksudnya apa?".
Bagi sharon, hubungan indira dengan andre sudah terlanjur hancur dan tak mungkin bisa diselamatkan, dan beruntung jika pada akhirnya indira mengetahui lebih jelas tentang sikapnya selama ini yang selalu bermain wanita dibelakangnya itu. Sepengtahuan Sharon dari cerita-cerita indira saat curhat, bahwa Lelaki itu selain mata duitan dan banyak maunya juga terlalu menyepelekan keberadaan sosok wanita yang cuma bisa menjadi pemuas nafsu birahinya saja, dan apakah memang tidak ada nilai lebih yang bisa ia dapatkan dari sosok indira?.
"Entahlah sha.. aku lg malas chat". Indira menjadi tak bersemangat menatap layar ponselnya membaca baik-baik semua ucapan sharon yang sangat benar dan masuk akal hanya saja indira terlalu lelah untuk menanggapi itu.
Akhir pekan akirnya mereka bisa bertemu untuk pertama kalinya, dan itu pun bukan karena sudah janjian sebelumnya. Di aplikasi LumeChat ada fitur untuk mengunggah foto, dan saat itu Indira upload menu makanan dan minuman yang ia pesan di suatu kafe yang sebenarnya sharon pun ada disitu sedang meeting bersama client terkait pembuatan website untuk sebuah perusahaan.
"Hai cantik... godain abang dong.." Ucap sharon mencoba menggoda Indira.
"Hmmm.. Kenapa sha?" Tanyanya tanpa mempedulikan guyonan basi dari teman chatnya.
"Jutek sekali Bu Indira"
Ketemu yuk?" Sharon untuk beberapa kali kesempatan ketika chating selalu mengajak ketemu dan selalu ditolak mentah-mentah oleh Indira.
__ADS_1
Berat sekali menjadi lelaki, selalu harus membuat percakapan yang tidak akan pernah membosankan bagi perempuan, jika sudah bosan kemudian ditinggal begitu saja, itulah kenyataan yang sharon dapatkan dari beberapa kali ia mencoba berbincang dengan semua lawan jenis di aplikasi itu.
"Aku belum siap sha, kamu kan tau sendiri. aku tidak bisa". timpalnya sedikit mengeluhkan kemauan sharon yang sering mengajak bertemu, baginya tempat ternyaman selain bekerja adalah di dunia media sosial.
"Yah.. sayang sekali kalau begitu. padahal aku sudah melihatmu saat ini". melihat Sharon membalas seperti itu, mata indira terbelalak lebar melotot ke arah layar, apa dia tak salah baca atau ini hanya gurauan dari sharon?. ia tia mencoba mengamati sekitarnya tak ada lelaki yang mirip dengan foto profil media sosial sharon.
"Jangan usil, kamu stalker ya, lagi pula kamu tak tau aku sekarang ada dimana. hahahah" ia coba menenangkan dirinya sendiri yang saat itu dibuat kaget oleh keisengan laki-laki yang terus menerus meminta bertemu.
"Aku tau kamu dimana, disini kan?" Ucap seorang lelaki yang berdiri di hadapannya.
"K..Kamu Sharon?" tanya nya setengah tak percaya lelaki yang dihadapannya itu adalah teman chatingnya selama ini.
"Hai.. perkenalkan aku sharon" tanpa memikirkan indira, ia duduk di bangku berhadapan langsung dengan wajah indira yang memerah merasa malu karena ada lelaki yang lama ia kenal dari dunia maya.
"Jangan-jangan kamu mengikutiku ya selama ini?" tuduhnya, menyudutkan Sharon jika ia adalah seorang stalker, yang terus menguntit aktifitas indira.
Dengan cermat, sharon menjelaskan perihal dirinya yang melihat postingan Indira di LumeChat, dan mengetahui tempat itu karena ia juga sedang berada di tempat yang sama, hanya berbeda ruangan yang saat itu sharon di smoking area yang bisa langung melihat jelas keberadaan Indira.
Sudah kepalang malu indira dengan sikapnya yang sudah menuduh Sharon, namun ia juga belum siap untuk terganggu hatinya karena kehadiran seseorang yang baru ia kenal. Rasanya ia ingin melarikan diri dari tempat itu dan beranjak pulang untuk mengutuki dirinya sendiri di kasur tempat tidurnya.
Barulah hendak bangun dan meninggalkan bangku, sharon menghentikan dengan menggenggam pergelangan tanganya.
"Semua ini kebetulan semata, kenapa tidak kita nikmati sejenak pertemuan pertama kita ini?"
"Tetapi, jika kamu tidak mau, tak apa. aku tidak inggin mengganggumu lebih dari ini.
__ADS_1
Ucapan Sharon membuatnya bungkam beberapa saat, dan mengutuki nasibnya yang serasa sial harus bertemu teman chat secara kebetulan di tempat yang sama.
*************************************************