Jalan Panjang Menjadi Seorang CEO

Jalan Panjang Menjadi Seorang CEO
Diluar Rencana


__ADS_3

“Aku tidak mengerti, kenapa papah melakukan ini semua? Ada apa sebenarnya?” Indira meminta penjelasan ayahnya karena persoalan diriku yang juga datang ke kediaman ayahnya


Dia marah karena ada hal yang ditutupi tanpa sepengetahuannya, lagi pula kalau kita berdua sengaja diundang kenapa harus tidak bersamaan, bukankah lebih baik jika pergi berdua denganku menuju Cirebon tanpa harus ada embel-embel suprise yang entah apa masudnya.


“Hubungan kalian sudah sangat jauh, papah ingin kalian serius memikirkan rencana untuk kedepannya, apakah kalian masih ingin terus menerus pacaran tanpa harus menikah?” Ayahnya tidak menggubris pertanyaan-pertanyaan Indira, ia fokus pada tujuannya sendiri untuk memberi nasehat baik kepada kami berdua selaku orang dewasa yang sudah saatnya berumah tangga.


“Mohon maaf pak. Saya sendiri bingung maksud dari semua ini. Saya sudah berjanji untuk menikahi Indira dan saya kesini ingin membicarakan hal itu, tak ada maksud, untuk mempermainkan indira, saya betul-betul menyayangi anak bapak dengan sepenuh hati” aku menerangkan perihal kedatanganku kali ini menyambut pernyataan dan pertanyaan ayah Indira, lagi pula siapa yang mau terus-terusan membujang karena umur kami pun tidak lagi muda.


“Baguslah kalau kamu memiliki niatan mulia seperti itu, bapak yakin kamu mampu membahagiakan anakku”.


Kemudian keheningan berlangsung beberapa menit, semua sibuk dengan pikirannya masing-masing, begitupun aku. Melihat Indira yang saat ini sedang merasakan kesal karena dibohongi oleh kami berdua rasanya tidak tega, ingin sekali aku menjelaskan ini semua, hanya saja ia masih terlihat emosi dan apapun yang akan kami katakan sepertinya akan percuma saja.


“Kita sudahi pembicaraan kali ini, kalian beristirahatlah, nanti jam 8 kita lanjutkan permbicaraanya”. Ayah Indira sepertinya lebih baik menunda obrolan serius kalini dan menunggu kami semua dalam kondisi yang tenang dan santai.


“Yanti tolong antar nak Sharoon ke kamar tamu” Bu Yanti membungkuk dan mengajak ku ke kamar yang ditunjukannya itu.


“Tak usah bu, aku saja yang antar” Timpal Indira dan meraih tanganku menyusuri tangga ke lantai dua yang tak jauh dari kamarnya.


......................


Aku meletakan barang bawaanku di sebuah lemari kayu dengan ukiran-ukiran cantik berwarna coklat, tak ada apapun di dalam lemari ini hanya beberapa handuk bersih dan baju tidur pria berwarna ungu. Indira duduk di bangku yang terletak di dekat meja lengkap dengan cermin besar di dinding, ia memperhatikan gerakan-gerakanku, tanpa aku harus menoleh pun aku merasakan tatapan tajamnya itu.

__ADS_1


“Sha..” ia memanggilku dengan tatapan sayunya itu.


“iya” timpalku sekenanya.


“Baru kali ini kamu membohongiku, kenapa kamu melakukannya?” pertanyaanya membuatku sedikit takut karena harus dijawab dengan sebaik mungkin tanpa perlu membuatnya semakin kesal dan marah, namun aku tidak menemukan apapun untuk aku katakan, lidah pun serasa kelu jika Indira sudah seperti ini, sebaiknya aku diam saja.


Sekitar 15 menit kami hanya terdiam, aku duduk di pinggiran kasur dengan sprei putih yang menutupi, terasa lembut dan nyaman sekali. Sembari memainkan gawai smartphone, aku duduk dan menunggu Indira tenang dan bisa diajak bicara lebih santai. Karena bagaimana pun jika aku berbicara akan membuatnya semakin kesal.


Indira berjalan ke arah pintu hendak meninggalkan kamar, sepertinya diam pun salah, aku coba mencegah berlari ke arahnya dan memeluk tubuhnya melingkarkan tangan ku di pingganya yang ramping.


“Tunggu..”.


“Maafkan aku..” aku mencoba menenangkan dirinya dan mencoba bersikap lebih lembut disaat ia sedang emosi seperti sekarang ini.


Aku tak melepaskan pelukanku, membimbing tubuhnya menghadapku, memandang wajahnya yang saat ini sangat tidak sedap dipandang mata. Jujur saja, Indira sangat jelek sekali ketika menangis, rasanya ingin ketawa melihat bibirnya bergetar dengan air mata yang tak terbendung membasahi pipi dan bibirnya.


Jangan pernah membuat wanita menangis, karena itu membuatnya menjadi jelek sekali dan tidak enak untuk dilihat. Aku pun baru memahami itu sekarang. Aku merasa kapok karena sudah membohonginya, walaupun sebenarnya tak tau letak kesalahanku dimana, toh aku tidak berbohong, aku tidak menyebutkan hari ini sedang sibuk urusan kantor atau sibuk menggoda si Jamilah kucing tetangga yang sangat lucu, intinya aku tidak berbohong.


Namun semua wanita di posisi sekarang ini tidak menginginkan penjelasan apa-apa, apa lagi jika itu bermasud untuk mengelak dari kesalahan. Lebih baik mengaku salah daripada timbul masalah-masalah baru yang nantinya akan membuat runyam suasana hati pasangan.


“Maafkan aku, lain kali aku akan selalu jujur kepadamu Indira” Ucapku meminta maaf dan berjanji tak akan pernah mengulangi kesalahan yang sama untuk kedua kalinya.

__ADS_1


“A.. aku sangat khawatir, tiba-tiba papah meminta untuk pulang, dan asal kamu tau, disepanjang perjalanan aku khawatir sama papah dan ternyata kalian sekongkol dibelakangku. Ini bukan kejutan namanya, kalian mempermainkanku!.” ia menghardik sejadi-jadinya, tak mempedulikan lagi air matanya yang semakin deras.


“Maafkan aku sayang..” aku memeluk erat tubuhnya, dan terus meminta maaf atas kesalahfahaman ini.


Setelah sedikit tenang aku ajak duduk di sisi kasur terus mengusap-usap rambutnya agar ia jadi lebih tenang. Tak tau lagi harus berbuat apa untuk bisa menenangkannya, hanya ini yang bisa aku lakukan sampai dia bisa lebih mengerti bahwa tak ada maksud untuk ku memjahilinya.


“Ini minum dulu” aku menyerahkan botol air kemasan yang tadi aku beli di terminal.


“biar kamu tenang”.


“Emhh..” ia meminum hampir seperempatnya dan tertunduk lemas beberapa saat.


“Sayang.. aku tidak ada maksud untuk menjahilimu, apalagi ayahmu. Tetapi aku salah tidak memberitahukan kalau ayahmu pun meminta aku untuk datang hari ini ke rumah, semuanya sangat tiba-tiba, dan lebih baik di jelaskan nanti saja oleh ayahmu” Aku mencoba merangkai kata yang sekiranya bisa lebih dimengerti oleh pacarku ini, karena kalau tidak ada penjelasan apapun dari ku nanti dipikirannya bahwa benar saja aku tengah mengerjainya.


“Iya aku faham sha, tapi tolong setidaknya kamu beritahu aku. Selama perjalanan aku khawatir sama papah takut ada sesuatu hal penting, karena papah jarang sekali memintaku untuk pulang”. Dalam kondisi tenang, semuanya jadi lebih mudah untuk dimengerti, aku pun faham apa yang dimasudkan oleh indira, memang ayahnya ini sedikit aneh orangnya, mungkin juga beliau sebenarnya menjahili kami berdua.


Hari telah semakin gelap, dan udara pun kian dingin tak seperti tadi siang yang begitu panasnya sampai membuat bajuku penuh keringat bercucuran. Hari ini sangat melelahkan dan kejadian ini pun kian memperburuk benar-benar membuatku sangat lelah dan ingin sekali tidur berbaring di kasur empuk ini, terlebih jika itu bersama Indira wanita tercantik yang paling aku sayangi.


“Aku ke kamarku dulu, kamu beristirahatlah sha..” ucapnya kemudian mengecup keningku.


“Maaf, hari ini aku banyak marah-marah kepadamu sha..

__ADS_1


......................


__ADS_2