Jalan Panjang Menjadi Seorang CEO

Jalan Panjang Menjadi Seorang CEO
Awal Baru


__ADS_3

Stefan memandangku seakan-akan hendak mengutarakan sesuatu yang bersifat sangat rahasia Dan juga pasti ini adalah hal penting baginya. Ia meminum kopi di cangkir keramik putih lalu mulai membuka obrolan yang membuatku sangat tercengang.


"Bulan depan aku keluar dari perusahaan" ia menghentikan kalimatnya dan menyerahkan selembar surat pengunduran dirinya dari perusahaan tempatjya bekerja sebagai wakil direktur, aku membacanya secara seksama. Dan betul saja ia serius dengan omongannya itu.


"Aku akan membantumu membangun perusahaan, dibagian apapun yang sekiranya kamu sangat membutuhkan keakhkianku, bagaimana?"


Aku masih bingung dengan keputusan mendadak dan Hal lain yang tidak bisa ku jelaskan. Bagiku ini adalah sebuah tamparan keras, Stefan yang selalu berada di zona nyamannya akan membersamaiku membangun perusahaan, entah harus senang atau sedih akan hal ini.


"Aku tidak mengerti apa yang kamu bicaran, apa kamu serius?" tanyaku padanya. Aku mengenali sorot matanya itu, tajam dan sangat serius terhadap keputusannya yang mungkin saja ia telah memikirkan lebih jauh perihal tentang karirnya itu. Ini akan berimbas kepada pendapatannya yang sewaktu dulu bercerita, ia memiliki gaji 100 juta perbulannya.


Stefan adalah kawan karib dan juga seperti saudara kandung sendiri, jika memang itu keputusannya aku tifak akan menolak, hanya saja aku harus tau lebih jelas alasan kenapa ia berani mengambil keputusan ekstrim seperti ini, tentu ini sangat gila untuk orang yang mau mengorbankan pendapatan ratusan juta hanya untuk bergabung ke perusahaan rintisan yang tengah aku bangun.


"Aku harus mendiskusikan ini dengan Rania". segera, aku mengirimkan pesan singkat kepada rania untuk segera datang ke kafe, agar makin banyak orang makin jelas persoalan yang harus dipecahkan. Meskipun aku tau Rania pasti akan setuju saja dengan keputusan Stefan.


Saat ini posisi managerial perusahaan masih terpaku padaku, aku yang memegang keseluruhan dari setiap aktifitas perusahaan, dengan adanya Stefan tentu ini akan menjadi nafas baru bagi kami semua karena ada orang yang sudah lebih faham cara kerja sebuah perusahaan.


Jejaring bisnis yang dimilikinya pun bukan main, banyak dan bisa di andalkan untuk bisa menembus pasar nasional juga global. terbukti dsri perusahaan yang ia tempat sebelumnya yang bisa mengambil project luar negeri berkat kepiawaiannya dalam membuka celah bisnis.


"Kamu ada rencana bulan madu? kemana stef?" tanyaku mengalihkan topik pembicaraan sembari menunggu Rania yang akan menyusul kemari.


"Ayahku memberi tiket pulang-pergi ke Jepang, besok kami berangkat".


”Istriku sangat tidak sabar untuk ke jepang, ini kali pertamanya untuk pergi keluar negeri". Stefan tak hentinya membicarakan istrinya yang sedang kegirangan karena akan pergi berbulan madu di jepang selama seminggu penuh yang saat ini sedang mengepak barang-barang yang akan dipersiapkan untuk dibawa.

__ADS_1


Tak lama berselang saat kami berbincang, mas Hendy datang dengan nampan kayu berwarna coklat yang ia bawa, ada sejenis kue tar tak begitu besar yang khusus ia buat untuk Stefan.


"Selamat atas pernikahannya, semoga kali ini kamu bisa setia dengan pasanganmu” ia meletakan kue tart berbentuk bulat yang kemungkinan berdiameter 6 CM. kue tart yang sangat cantik, aksen warna putih dan juga merah dari saus strawberry dan juga serpihan-serpihan coklat diatasnya.


”Terima kasih mas.. wah kayanya enak” ucapku menanggapi obrolannya.


” Heh!, ini untuk stefan, aku tidak membuatnya untuk mu ya!" mas Hendy melirik ku dengan tatapan kecutnya itu.


”Hahahah.. terima kasih mas, sepertinya enak” stefan tertawa menanggapi kami berdua yang selalu saling ledek, dan juga aku memang senang untuk bercanda dengan si bapak pemilik kafe ini.


”Istrimu kenapa tidak diajak kemari?" mas handy meletakan nampan kosong dan duduk di bangku bersama kami.


”Medina sedang sibuk mempersiapkan keberangkatan ke jepang, besok rencananya kami akan ke jepang selama seminggu”. ia menjelaskan rencana liburan bulan madu nya kepada mas Hendy.


“Cih.. dasar...”.


Kami bertiga memang sudah seperti ini dari semenjak akrab semasa kuliah dulu. Bercanda dan juga saling usil meledek satu sama lain, tak ada rasa segan diatara kami karena hal inilah yang memang membuat hubungan menjadi begitu erat layaknya saudara. Terlebih dari sikap dan perlakuan Mas Hendy yang sangat perhatian.


Dulu aku bekerja di tempat ini saat masih awal-awal dibangun kafe nya. Aku belajar banyak dari beliau, mai dari penyajian menu, melayani pelanggan dan juga mengeksplorasi berbagai macam hal tentang kafe ini agar semakin diminati oleh para pengunjung khususnya anak-anak remaja juga mahasiswa.


Pernah disuatu waktu aku belum membayar uang semester ke kampus, uang hasil kerja yang aku tabung terpaksa aku pakai untuk membantu Hena, yang sedang tertimpa musibah karena orang tuanya dikampung sedang sakit dan ia harus pulang untuk merawat Ibunya itu. Mas hendy yang mengetahui hal ini langsung memberikanku pinjaman uang untuk membayar uang semesteran dengan memotong setiap bulan dari gaji yang aku dapatkan.


Kebaikannya itulah yang membuatku merasakan bahwa Mas Hendy benar-benar orang baik yang mungkin akan sulit aku temukan di belantara Ibu Kota Jakarta. Tanpa pikir panjang ia akan membantu sebisanya jika ada orang terdekatnya sedang mengalami musibah. Dan terhadap Stefan, mas Hendy selalu menasehatinya agar tidak banyak mempermainkan wanita. Playboy ini memang sangat terkenal di lingkungan kampus karena bisa menggaet perempuan manapun yang ia sukai dan mencampakannya dikemudian hari, Mas Hendy sangat tidak senang akan hal itu dan selalu mengingatkan baik-baik kepada Stefan.

__ADS_1


Dilubuk hatinya yang paling dalam, ia bahagia akhirnya Stefan bisa memutuskan untuk menikah dengan tambatan hatinya yang telah ia temukan. Saat ini Mas Hendy masih memberikan nasehat-nasehatnya seputar pernikahan dan rumah tangga yang konon katanya, berumah tangga itu bukan hanya menyatukan dua manusia yang saling mencintai akan tetapi juga menyatukan dua masalah-masalah yang nantinya akan mereka hadapi berdua.


“Jadi kapan kau mau menikahi Indira?” tanya Mas Hendy.


“Aku saja baru bertemu orang tuanya kemarin mas, rencana aku sih bulan depan mau ke cirebon, mau melamar” ucapku serius menanggapi pertanyaannya.


“Baguslah kalau begitu. Tetapi bagaimana dengan orang tuamu, apakah kau sudah ceritakan hal ini kepada mereka?” pertanyaanya ini membuatku sedikit bingung. dan memang benar, lambat laun aku harus menceritakan niatanku kepada orang tua, langkah yang sangat sulit.


“Akan aku usahakan” .


Mas Hendy tak melanjutkan obrolannya dan seperti mengerti dengan ke-enggan-an ku untuk melibatkan orang tua dalam niatan seriusku meminang Indira.


“Baiklah, silahkan lanjut ngobrolnya, aku masih banyak yang harus di kerjakan di dapur”. ujar Mas Hendy dan meninggalkan ruangan ini menuju dapur untuk kembali mengolah masakan-masakan pesanan pelanggan lain.


....


......


Note: akhir-akhir ini author sedang menghadapi banyak masalah, kurang fokus untuk melanjutkan cerita. tetapi sayang sudah berkomitmen, setidanya akan selalu ada update 1 bab setiap hari.


Terima kasih para pembaca yang sudah mau meluangkan waktunya untuk membaca novel saya yang kurang bagus ini.


...

__ADS_1


....


__ADS_2