Jalan Panjang Menjadi Seorang CEO

Jalan Panjang Menjadi Seorang CEO
Seperti Hari Lalu


__ADS_3

“Lan, aku harus ketemu Sharoon hari ini. kamu jangan kemana-mana, nanti sore ada pertemuan tolong kamu persiapkan semuanya ya". Rania mengintruksikan Dahlan untuk pertemuan nanti sore. kini sosok Dahlan lebih aktif membantu Rania dalam pengelolaan administrasi kantor karena belum lama ini ia mengetahui kemampuannya dalam bidang administrasi kantor seperti mengurus berkas dan juga membantu pencatatan sementara keuangan perusahaan.


Dengan kata lain, Dahlan telah mendapatkan tanggung jawab lebih untuk bisa ikut andil dalam berbagai macam urusan perusahaan.


“Baik, saya segera persiapkan semuanya" singkatnya menjawab perintah atasnya itu.


Dahlan terlihat sibuk, terbenam di meja kerja dengan laptop mengetik agenda-agenda rapat sore ini dan juga mempersiapkan berkas-berkas lainnya yang akan menjadi bahan untuk semua tim. Ia terlihat sangat cekatan dalam menangani berbagai macam tugas tanpa memikirkan hal lainnya, hanya jika ada sedikit hal yang tidak ia fahami, maka akan bertanya terlebih dahulu kepada Rania.


Pada mulanya kami hanya membutuhkannya untuk menjadi staf yang bisa menjaga kantor dan juga membersikan ruangan saja sebagai office boy, namun karena ia pun lulusan SMK dan memang sudah terbiasa dengan penggunaan komputer, rania berinisiatif untuk mengajarkannya membuat surat-surat dan juga pengetikan dokumen. Tak disangka kemampuannya cukup membantu dan menjadi nilai lebih dari kinerjanya itu.


.........


"Hallo Mas Hendy, apa kabar.." Rania masuk ke dalam kafe dan menyapa si pemilik tempat. Mereka berbincang sebentar untuk basa basi kemudian menoleh ke arah ruangan tempat aku dan stefan duduk.


“ Mas, aku pesan Iced lemon tea ya”.


“Siapp.. tunggu sebentar" mas Hendy lalu menyiapkan seduhan teh hijau yang masih dalam kemasannya, dan memanaskan air.


“ Hai.. Kalian sudah lama disini?" tanya rania dengan penuh keceriaan yang terlihat jelas diraut wajahnya. Bagaimana pun, kami adalah kawan akrab sejak lama dan rania sudah mengetahui akan kabar stefan yang nantinya bergabung.


"Lumayan.. sini duduk. masa kamu mau berdiri terus". stefan menggeser tempat duduk yg kosong untuk untuk Rania.

__ADS_1


Kemudian perbincangan jadi semangkin santai sejak kedatangan Rania. Terlihat dari ekspresi stefan yang mulai jd banyak bercanda seperti biasa ketika kami berkumpul.


Pertemanan memang tidak akan lekang oleh waktu. Dimana pun dan kapanpun, pasti akan ada titik balik bagi semuanya untuk bertemu dan bercurah keluh kesah sehari-hari, atau hanya sekedar menceritakan cuaca hari ini yang dipenuhi angin ribut, juga pepohonan yang hampir roboh diterpa angin kencang atau hujan yang tak kenal waktu kapan kan turun.


"Eh.. kenapa Medina tidak diajak stef.." tanya Rania agak heran dengan pasangan yang baru saja kemarin melangsungkan akad nikah.


"Istriku sedang mempersiapkan untuk besok ke jepang. kami mau berlibur seminggu disana". timpalnya menjelaskan rencana bulan madu ke negeri para samurai dan menjadi kesempatan untuk rehat sejenak dari dunia pekerjaan yang banyak menyita waktu mereka berdua.


Aku memang lebih banyak diam, sejak dulu lebih banyak memperhatikan obrolan saja, dan paling menimpali sesekali. Mereka ini memang suka sekali ngobrol ngalor-ngidul kadang becandaanya absurd sulit sekali mencari celah dimana lucunya obrolan mereka itu. Tetapi aku senang dengan suasana seperti ini, seperti kembali pada waktu dahulu masih sama-sama berstatus mahasiswa yang masih lugu tanpa beban hidup berlebih seperti sekarang.


........


Mas Hendy datang dan meletakan pesanan Rania, iced lemon tea yang sangat segar terlihat dari irisan lemon yang terapit beberapa es batu.


“Eh.. apanya mas?” rania terheran dengan ucapannya itu, ia merasa hanya memesan es lemon tea saja tidak ada pesanan lain yang ia tunggu.


”Bukan. Maksudku itu kalian. Kalau ada Hena, lengkap sudah kalian jadi empat serangkai.


Mendengar itu kami jadi terdiam teringat akan teman yang begitu sangat berharga yang selalu membersamai kami, Disaat sedih maupun disaat senang. begitu mendengar namanya ada rasa sedikit sesal yang begitu mendalam. ia seperti hilang tanpa jejak, setelah dahulu orang tuanya sakit keras dan ia memutuskan untuk pulang kampung, namun tak ada pernah kembali dan hanya info dari kampus kalau ia memutuskan untuk berhenti kuliah sejak saat itu.


Tak lama mas hendy pergi, Rania sesenggukan, menangis pilu. Air matanya mengalir deras membasahi pipinya. Aku faham sekali, jikapun bisa, aku pun masih ada rasa penyesalan terhadap Hena. Namun apa boleh buat, jika takdir mengijinkan kami untuk bertemu kembali maka pasti suatu saat akan bertemu.

__ADS_1


“Aku sudah berupaya semampuhku mencari Hena, entah ada dimana ia sekarang”. Stefan menghela nafas panjang, menceritakan pencariannya ke semua tempat yang ia singgahi saat sedang dapat tugas dari kantor untuk keluar kota. diantara kami, hanya stefan yang memang gigih mencari Hena. namun seperti mencari jarum dalam tumpukan jerami, ia menyerah tak mungkin bisa menemukannya tanpa ada sedikit pun petunjuk.


“Berdoa saja, suatu saat nanti kita pasti bersama-sama lagi". ucapku mencoba menenangkan mereka berdua, terutama Rania yang masih menangis.


“Apa mungkin Hena sudah...” kalimatnya terhenti tak kuasa melanjutkan ucapannya itu. kami berdua mengerti apa yang akan ia sebutkan. Namun aku masih percaya bahwa tuhan akan memberikan jalan untuk kita bisa bertemu lagi dengan Hena.


Lama kami terdiam sibuk dengan pikiran masing-masing sampai hujan turun pun kita masih terpaku, terdiam seribu bahasa. Stefan yang biasanya bisa memecah keheningan juga sekarang ini seperti orang yang tengah putus akal.


Setiap pertemuan pasti ada perpisahan, namun akan selalu ada jalan untuk bertemu kembali disuatu masa dan waktu yang tepat. Bagaimana pun manusia hanya bisa berusaha, selebihnya tuhan yang mengatur semuanya.


.....


“Hai semuanya..” suara yang sangat familiar ini tiba² saja menyadarkanku untuk kembali ke dunia nyata jauh dari khayalan yang sedari tadi aku buat karena memikirkan Hena.


“Loh kalian berdua tumben kemari?” ucapku kepada Indira dan Finna yang baru saja datang menghampiri kami bertiga.


“Iya tadinya aku mau quality time berdua, eh kalian ada disini juga ternyata” timpal Finna yang langsung mengambil tempat duduk.


“Maaf sha, aku gak ngabarin kamu, apa kita berdua mengganggu kalian ya?” Indira memang seperti itu, selalu merasa tidak enakan.


”Santai saja, justru bagus kalian bisa kemari. makin banyak orang makin seru”. Stefan tersenyum sedikit dipaksakan agar tidak terlalu membuat mereka khawatir.

__ADS_1


Suasana canggung yang tadi membentengi kami berdua perlahan hancur, obrolan demi obrolan terus mengembalikan keceriaan kami. Benar kata stefan, beruntung sekali Indira dan Finna datang kalau tidak, mungkin akan sulit bagi kami untuk membuka obrolan yang akan mengalihkan topik pembicaraan tentang keberadaan hena yang masih misteri.


.....


__ADS_2