Jalan Panjang Menjadi Seorang CEO

Jalan Panjang Menjadi Seorang CEO
Prioritas Utama


__ADS_3

Jelang acara yang tinggal 5 hari lagi, tanpa hentinya kami terus bekerja lebih giat lagi untuk menutupi seluruh pekerjaan yang kemungkinan akan menghambat. Pasalnya ada banyak orang yang hadir sekitar 200 tamu undangan juga ada puluhan dari media.


“Katering dan dekorasi sudah di cek lagi Ran?” Tanyaku untuk memastikan EO dan pihak hotel yang kami sewa sudah selesai di dua urusan penting itu.


“Segera aku cek kembali, nanti Zahra dan Fabian yang akan urus”.


Rania lanjut menghubungi pihak EO dan juga manajemen hotel untuk konfirmasi masalah persiapan yang tinggal menunggu beberapa hari lagi. Karena hal penting bagi kami adalah semua bisa terencana dan terjaga agar tidak ada kecacatan selama pelaksanaan acara.


“Hallo, selamat siang”


“Baik pak, segera tim kami akan datang kesana untuk mengecek”. Rania berjalan ke ruangan lain yang disana ada Fabian dan zahra juga yang lainnya.


“Bian, Zahra, segera ke hotel dan cek menu-menu makanan yang sudah dipesan untuk acara. Kalian lebih tau masalah rasa kuliner, aku serahkan tugas ini kepada kalian berdua”.


“Jika menurut kalian rasanya tidak cocok, beri masukan dan kalau ada menu yang menurut kalian harus di ganti, langsung saja diskusikan dengan pihak manajemen dan juga kepala kokinya”.


“Mengerti?” tanyanya kepada mereka berdua yang sedang mendengarkan perintah rania.


“Siap mbak”.


“Ok mbak ran.


Sudah menunjukan pukul 11 siang, waktu yang terus berputar membuatku semakin gelisah akan semua hal. Memikirkan semua yang sudah direncanakan dan juga hal-hal lain yang takutnya tidak kami sadari namun penting dilakukan. Aku terus mencari-cari hal apa lagi yang kemungkinan tertinggal tanpa kami ketahui.


“Sha, tolong ke ruangan bawah, anak-anak debugger, menemukan kerusakan di sistem.” Rania mengintruksikanku untuk melihat kerusakan yang di temukan oleh para pegawai magang yang bertugas untuk mencari celah kerusakan aplikasi yang kami buat.


Di ruangan khusus yang disediakan di lantai bawah ada 11 orang. Tadinya ruangan ini adalah ruang tamu, namun karena untuk mengetes aplikasi yang kami buat, maka ruangan ini di sulap menjadi tempat untuk para pencari bugs (kesalahan dalam pemrograman) menjalankan tugasnya. Meskipun sedikit agak sempit, tapi dirasa cukup nyaman, dan tak ada yang protes terhadap hal itu.


“Coba tampilkan...” aku memerintahkan seorang perempuan yang menjadi pegawai magang dari salah satu universitas swasta di ibu kota.


Parasnya bak lolita, mungil mengenakan dress bergaya one piece putih membalut tubuh mungilnya, jelas terlihat jika wanita ini dari kalangan berada dan memiliki keakhlian lebih dari teman-teman sebayanya, karena untuk menemukan kesalahan dalam pemrograman membutuhkan pengetahuan fundamental terhadap ilmu pemrograman itu sendiri, dan wanita yang bernama Lidya ini berhasil menemukan celah kerusakan hanya dalam kurun waktu 2 hari saja.

__ADS_1


“Ini log, dari catatan kerusakan yang sudah saya proses. Yang paling fatal itu di sistem penyimpanan. Jika saya menyimpan item aksesoris ini ke dalam storage character, itemnya seperti hilang tidak bisa di temukan didalam ruang penyimpanan” ia menggerak-gerakan mouse yang ia pakai untuk menandai beberapa kesalahan dalam sistem yang ia maksud, yaitu penyimpanan untuk player.


“Kemungkinan besar, ini bisa jadi karena item nya atau, ada sesuatu hal yang lain di kode program di sistem penyimpanannya”.


“Bagus sekali. Kirim report nya langsung ke saya”.


“Terima kasih. Kalian semua terus upayakan semaksimal mungkin, cari hal-hal aneh lainnya dan langsug informasikan jika ada kejanggalan di sistem” Ucapku lanjut berjalan ke tangga menuju lantai dua untuk menyelesaikan masalah yang tadi Lydia tunjukan.


.......................................................


Menuju petang, aku duduk santai di depan kantor bersama yang lainnya, Rania, Stefan dan Xian sudah pulang duluan dan menyisakan aku, dahlan, dan Lydia. Kami berbincang-bincang santai sembari menyeruput segelas kopi yang tadi dibuatkan oleh dahlan.


“Mas, anu... Saya boleh minta ijin cuti tidak untuk bulan depan”.


Dahlan malu-malu mengutarakan keinginannya untuk mengambil cuti, ia ingin pulang ke kampung halamannya di jawa dan mengabari keluarganya kalau dirinya sekarang sudah punya pekerjaan tetap di perusahaan dan memiliki gaji UMR yang bisa menunjang kehidupannya dan juga membiayai sekolah adik-adiknya di kampung.


“Tentu, untuk sekarang ini kamu terus bantu kami semua ya dahlan. Aku sangat berterima kasih karena kamu sudah mau ikut bagian menjadi dari tim”.


“Satu hal lagi, ingat selalu untuk terus belajar mengasah kemampuan, itu hal penting ketika bekerja bersamaku”.


“Nah Bagus itu”.


“Eh Lydia, terima kasih ya, aku sangat terbantu. Tadi sudah aku perbaiki kesalahannya, besok kamu coba cek lagi, jika masih tetap sama, kasih tau aku”


“Baik pak” Ucapnya lirih.


“Ada masalah apa?” wajahnya seperti kurang bersemangat dan dari tadi hanya mendengarkan kami berbicara saja. Aku pikir dia sedang menunggu ojek online atau jemputan dari pacarnya, dan tak terlalu menghiraukannya.


“Pak sharon, apakah tim debugger hanya diperlukan sampai party release saja, atau ada kemungkinan kami nantinya akan dipekerjakan disini?” Aku kenal betul tatapannya itu, seperti memohon dan meminta diriku untuk memberikan ruang kepada tim magang yang 5 hari lagi mereka tidak akan berada bersama kami lagi.


“Iya. Kami sangat menghargai semua tim termasuk kalian, dan kami pasti membayar dengan upah yang layak sesuai ketentuan kontrak, dan ada bonus juga dari tiap kesalahan-kesalahan di sistem yang sudah kalian temukan, saya benar-benar menghargai jasa kalian semua”

__ADS_1


“Namun saat ini, kami hanya perusahaan kecil dengan nilai valuasi rendah belum memiliki banyak pemasukan yang besar untuk bisa menjamin kesejahteraan semua karyawan”.


Sangat disayangkan, hal itu benar adanya. Walaupun banyak tawaran investasi miliaran di depan mata kami, namun belum tentu untuk bisa merekrut karyawan baru yang takutnya nanti hanya akan menambah beban pengeluaran perusahaan. Sebagai perusahaan baru aku harus bertindak efisien dan mementingkan prioritas-prioritas yang sudah kami rencanakan sesuai dengan kebutuhan.


“Saya benar-benar suka kerja di tempat ini, semoga suatu saat jika sudah bisa merekrut anggota baru, saya bisa diterima kerja di tempat pak sharon”. Sorot matanya menyiratkan keteguhan hati dan kejujuran dari ucapannya. Lidya memiliki bakat dan juga masih muda, banyak perusahaan yang pasti akan bisa menerima kinerjanya, sangat disayangkan jika aku tidak menerima keinginan besarnya itu.


“Tentu”.


.......................................................


Tinggalah aku bersama dahlan, kami lanjut bercakap hal-hal yang tak begitu penting, berguyon dengan teman segelas kopi hangat menyertai kami berdua. Dahlan hanya akan pulang jika kantor sudah kosong dan dirinya kini mengontrak di daerah perkampungan tak jauh dari Central Arkadia dan sudah disediakan motor untuk keperluannya dalam mobilitas harian untuk pulang-pergi kantor.


Aku masih menunggu indira yang saat ini masih terjebak macet di daerah pusat, paling setengah jam lagi pun sampai. Karena aku masih belum bisa membawa kendaraan sendiri, kini hanya bisa bergantung pada istri untuk antar jemput tiap hari ke kantor, meski jaraknya cukup jauh dari kantor Indira namun ia tak mempersoalkan itu, hanya saja, jika berangkat, kami berdua harus pergi sejak dari jam 6 pagi hari untuk menghindari macet juga untuk tiba tanpa terlambat ke kantor.


Di kejauhan mobilnya terlihat dan kian mendekat, ia membuka kaca mobil dan menyapa kami berdua, tak lupa ia turun, dan menyerahkan paperbag berisikan makanan ke Dahlan.


"Wah mbak, terima kasih banyak".


"Iya , tadi aku sengaja membungkusnya sehabis rapat, sayang sekali banyak makanan yang tidak habis"


"Tenang saja, itu bukan makanan sisa, semuanya baru ko.." Ucapnya meyakinkan dahlan, jika makanan yang ia terima itu adalah makanan baru yang belum disentuh siapapun.


"Siap mbak Dira, terima kasih banyak loh, saya jadi hemat uang makan. heheheh" disusul senyumnya yang terkekeh.


"Ok, kita pamit ya..".


"Ayo sayang.." ajaknya mesra menggengam jemariku menuju mobil.


.


.

__ADS_1


.


*************************


__ADS_2