Jalan Panjang Menjadi Seorang CEO

Jalan Panjang Menjadi Seorang CEO
Tekad


__ADS_3

kebahagian hanya akan terasa berarti jika telah melewati masa-masa sulit nan pedih. Dari itulah manusia berproses, bersusah payah mencapai hulu dengan mendayung sekuat tenaga sampai titik penghabisan. Meski Rania telah ditinggalkan orang-orang tercinta yang pernah berada didekatnya, ia tak patah arang, setiap ada kesempatan ia selalu menelpon ayahnya atau saudaranya, walaupun tak pernah ada jawaban dan panggilanya tidak pernah diangkat, ia tetap teguh pendirian.


Semua membutuhkan waktu meski lama, dan ia akan terus menunggu untuk itu. Ia merasa kasihan, anaknya tak pernah tau akan sosok orang tua Rania yakni kakek-nenek nya. Seperti di dalam buku pelajaran sekolah anak SD, ada sebuah cerita tentang “Berlibur ke rumah Nenek”, ia menginginkan hal itu pernah terjadi di kehidupan Dea, agar ia bisa merasakan kasih sayang selain hanya dari Ibunya saja, akan tetapi dari bibi, paman, Nenek, Kakek serta yang lainnya.


Dirinya melamun untuk beberapa saat, sampai dahlan memberikan isyarat tanda ada panggilan telepon yang tak dihiraukan oleh rania.


“Mbak ran, ada telepon”. Teriak dahlan dari meja officer. ia pun bergegas menghampiri dan mendekatkan gagang telepoon ke ke telinganya.


“Hallo selamat siang”.


“Baik. Berkasnya sebentar lagi akan kami kirim, mohon tunggu sebentar ya pak” ucap rania membalas panggilan yang menanyakan conferensi pers yang akan di gelar ketika di acara grand opening perusahaan.


“Baik pak.. baik.. iya, terima kasih banyak atas kerjasamanya pak”.


Rania masuk ke ruangan tim, dan mendekati meja fabian.


“Bian, kirim draft untuk conferensi pers ke media Kabar Indonesia. Mereka ingin membaca detail rancangan dari Project Oxygen”. Fabian yang sedang menyeruput kopinya itu, meletakan kembali cangkirnya yang masih penuh dan langsung fokus pada tugas Rania untuk mengirim draft ke media yang dimaksud.


Tak disangka-sangka, ada Media besar yang langsung menanyakan proses dari perusahaan yang nantinya menjadi naungan dari sebuah proyek ambisius bernama Project Oxygen. Direktur Kabar Indonesia, akan membuat berita awal dari proyek ini. Kabar bagus itu pun tak disia-siakan dan langsung disambut oleh fabian yang juga melampirkan 2 foto sebagai bahan berita yang nantinya akan terpampang di media, sesuai yang diperintahkan oleh rania.


 


“Ngomong-ngomong Xian kemana ya? Apa dia tidak masuk hari ini?” tanya rania kepada fabian dan zahra yang ada di dalam ruangan tim.


“Dia udah datang pagi sekali, terus ia bilang harus ke daerah tangerang, dia mau konsultasi terkait beberapa bugs program yang tidak bisa dia atasi.”


“Aku pikir Xian sudah bilang ke mbak ran..” Rania langsung mengambil smartphone nya dan mengecek pesan masuk dari Xian jam 8 pagi tadi. Dia tidak memperhatikan notif dari smartphone nya itu.


Pola kerja startup bisa dibilang sakat flexible dan dinamis, bisa bekerja dalam jarak yang jauh sekalipun asalkan terhubung ke internet, dan begitulah yang terjadi pada mereka ketika harus mengerjakan banyak tugas, dan lagi persiapan grand opening nanti harus sempurna tanpa cacat agar mendapat kepercayaan dari calon mitra dari perusahaan-perusahaan lain.

__ADS_1


Intinya ini nanti akan menjadi portofolio pertama dari perusahaan dan citra baik ditentukan disaat acara pembukaan grand opening. Antusiasme dari para tim pun sangat besar, mereka bekerja sangat keras demi mewujudkan acara yang sangat baik, setidaknya demi kepuasan tiap-tiap individu mereka.


“Lan, belikan makan siang untuk kita semua, tanya yang lain mau makan apa saja. Ini uangnya ya” Ia memberikan 4 lembar uang seratus ribuan untuk membeli makanan untuk makan siang.


“Baik mbak” ucapnya mantap lalu masuk ke dalam ruangan tim untuk memastikan pesanan apa saja, dan kembali ke rania.


“Mbak ran dan kayla mau pesan apa ?”.


“Aku ikut saja dengan yang lain” Tanpa mempedulikan dahlan, ia kembali sibuk di depan laptopnya tengah membuat beberapa disain animasi untuk background layar di grand opening nanti.


“aku juga sama” kayla ikut menanggapi.


 


Disisi lain, Finna sedang bermalas-malasan di kamar tidur tamu. Ia merasa sudah terlalu lama berada disini dan sedikit merasakan bosan karena tidak pergi kemana-mana. Namun begitu ia maklum dengan kondisi yang telah terjadi. Rasanya tak bagus juga ketika sahabatnya sedang mengalami maslah namun ia tak berada disampingnya.


Klekkkk


Suara pintu terbuka perlahan, indira masuk dan tersenyum melihat tingkah laku kawannya itu seperti sedang menghadapi masalah berat yang teramat sulit.


“Kenapa finn, suntuk?” ia pun ikut merebahkan dirinya di kasur bersama finna.


“Tidak ada. Jadi kapan pernikahannya dir? Masa tidak jadi.” ia memastikan bahwa sahabatnya ini bisa segera melangsungkan pernikahan meskipun itu sederhana agar menjadi tali yang erat untuk sepasang kekasih ini agar tidak terpisahkan.


“Ayahku dan ayah sharon sedang membicarakannya, kita serahkan ke orang tua saja” Finna mengernyitkan dahinya, sedikit penasaran tentang ayahnya sharon yang indira katakan.


Mereka berdua saling berbincang, lebih tepatnya bergosip tentang kehidupan pribadi sharon dan ayahnya. Finna yang baru mengetahui faktanya itu membelalakan mata tanda tak percaya.


‘HAH.! Kamu tidak salah ucap dir?. Ellard Channing ini dira, pemilik E.C Group, kamu tidak asal bicara kan?. Tanya nya tidak percaya terhadap ucapan indira yang mengatakan sharon adalah anak tertua, pertama dari Ellard Channing.

__ADS_1


“Loh, kalau tidak percaya, kamu turun saja ke bawah tanyakan langsung pada orangnya”. Tangkas indira sedikit sewot karena finna tidak mempercayainya.


“Bukan begitu, tapi kenapa bisa sharon jadi manusia terlantar seperti itu sedangkan ayahnya pemilik group perusahaan besar”. Indira pun menjelaskan semua hal-hal yang baru saja ia ketahui tentang kehidupan sharon dan keputusannya meninggalkan keluarga demi membangun karirnya sendiri.


Finna hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya saja, tak habis pikir, bagaimana bisa sharon lebih memilih sengsara tanpa sedikitpun menerima bantuan dari keluarganya sendiri. Finna membayangkan ini adalah sebuah cerita novel atau drama-drama korea yang sering ia tonton tentang anak seorang pengusaha besar pergi dari rumahnya untuk menjadi orang yang biasa tanpa menikmati semua kekayaan orang tuanya.


“Betul fin, atau kamu tanya sharon saja, pasti dia kan jawab”.


Bagi finna persoalan percaya itu mudah, namun  otaknya seperti tiba-tiba tak bisa memproses semua informasi yang ia dapatkan itu secara cepat. Namun begitu finna salut dengan pendirian sharon yang lebih memilih untuk pergi dan menjadi bebas sesuai kehendaknya dalam membangun karir tanpa perlu campur tangan orang tua.


Sudah sejak lama finna menyadari ada hal yang lain yang ia lihat dari sharon, dan itu pun yang membuatnya ingin membantu sharon tanpa memikirkan siapa jati dirinya. Ada sorot mata tajam yang seolah menggambarkan sesuatu yang ia yakini, dan begitulah yang terjadi.


Meski belum resmi, tapi sharon membuktikan tekadnya yang ambisius dalam project Oxygen yang kini telah menjadi nyawa dari perusahaan yang ia dirikan bersama rania dan juga stefan. Ternyata memang ia memiliki darah seorang pebisnis ternama yang jauh melebihi ayahnya sendiri.


Tanpa ia sadari, ia mulai menaruh kekaguman lebih besar lagi kepada Sharon, bahwa sosok orang yang ia kenal bukanlah orang sembarangan, sharon memiliki darah seorang veteran di dunia perbisnisan di Negara Indonesia.


“Dira, kamu sangat beruntung sekali bisa mendapatkan sharon..” ucapnya iri dengan seseorang yang telah menjadi tambatan hatinya indira.


“Terima kasih fin, semua ini berkatmu juga”.


.


.


.


.


*************************

__ADS_1


__ADS_2