Jalan Panjang Menjadi Seorang CEO

Jalan Panjang Menjadi Seorang CEO
Aku Bahagia


__ADS_3

Pikiranku melayang tak menentu saking terlalu banyaknya hal yang sedang ku pikirkan, tentang pernikahan, keluarga juga masalah-masalah yang sedang muncul di perusahaan. Meski rania dan stefan memintaku untuk fokus ke penyembuhan akan tetapi tak bisa begitu saja untuk dilupakan bahkan untuk sejenak pun tidak akan bisa.


Sedari tadi aku hanya mencorat-coret buku harian yang selalu ku pakai untuk menuangkan segala gagasan atau hanya sebatas menuliskan kebutuhan esok hari yang sekiranya sangat penting untuk dilakukan.


tok.. tok.. tok..


"Masuk" ucapku tak tau siapa jam 11 malam seperti ini mengganggu waktu istirahatku.


"Kau belum tidur?, ada hal lain yang ayah ingin bicarakan" Ayah masuk ke kamar dan duduk di sofa yang tau jauh dari ranjang kamar tidur.


"iya".


"Bagaimana kabar perusahaanmu nak?" tanya nya seperti ia telah tau kalau anaknya diam-diam sudah membuat cakarnya sendiri di dunia bisnis.


"Ayah mendengar beberapa point penting dari perusahaanmu, kenapa tidak kau bawa ke E.C Group? agar bisa kau kelola lebih baik dengan mengandalkan orang-orang terbaik yang bisa ku sarankan".


Ayahku ini bukan orang yang sabaran, segala sesuatu harus cepat dilakukan dan jika tidak bisa, perbanyak jumlah orang yang bisa mendorong mempercepat semua proses. Aku kenal pemikiran seperti ini, bahkan semua kalangan elit akan begitu juga termasuk ayahku.


"Ayah, aku tidak begitu memahami dunia bisnis. pengetahuanku akan hal itu sangat sedikit. Akan tetapi, aku tau satu hal yang mungkin ayah sudah lupakan di usia ayah sekarang ini"


"Apa yang maksud?" tanya ayah, tersinggung dengan ucapanku yang didalam pandangannya seperti meremehkan kemampuan ilmu perbisnisan yang ia telah miliki selama puluhan tahun.


"Begini, saat ini tim utama yang aku miliki itu ada 3 orang terdiri dari Hustler yang dapat membuka jejaring bisnis dan relasi yang menopang laju perusahaan, Hacker yang menguasai teknologi dan mencari jalur terbaik dalam penanganan persoalan yang bisa diselesaikan dengan cepat, kemudian ada hippster yang mendisain keseluruhan dari produk dan memberikan nilai lebih dari produk andalan perusahaan. dibawah tiga orang itu ada 5 orang tim teknis dibidang-bidang yang telah kami buat sesuai kebutuhan".


"Kita hanya perusahaan kecil, jika tiba-tiba kami harus masuk ke sebuah perusahaan besar dan kemudian ada banyak lagi orang yang terlibat, bagaimana menurut ayah? apakah itu adil bagi tim yang turut membangun perusahanku ini dari titik zero?"


Masalah yang kami hadapi sebenarnya sederhana, hanya saja kondisiku kali ini membuat rencana sedikit lebih meleset dari perkiraan, dan tentu solusinya bukan menambahkan banyak orang. jika itu terjadi, bisa menjadi singgungan keras ke orang-orang yang telah membersamaiku membangun perusahaan.


"Hmm.. kau benar, akan tetapi di kondisi sekarang kau harus lebih realistis nak, cobalah untuk lebih membuka dirimu dan juga perusahaan yang kau buat itu, berkesempatan menjadi bagian dari grup besar bukan kah itu peluang yang bagus. toh suatu saat perusahanku ini akan jatuh ke tanganmu dan adik-adikmu".

__ADS_1


"Berapa lama lagi memangnya ayahmu ini bisa menangani perusahaan sebesar itu, kau tau?". tanya ayah sedikit emosi karena aku terus mengelak menjadi akhli warisnya kelak ketika ia sudah tak bisa lagi mengurusi perusahaan yang tergabung di E.C Group.


"Berikan kesempatan untuk ku, ayah. Bagaimana pun, aku ingin hidup dengan jerih payahku sendiri bersama orang-orang yang selalu bersama denganku, tolong jangan Egois!".


Kini ia diam seribu bahasa, tatapannya semakin lengah dan memikirkan kembali ucapan dan semua tindakannya selama ini kepada anak-anaknya. Sangat jelas, tidak ada anak yang bahagia tanpa kehadiran sosok orang tuanya secara nyata. Dan yang aku rasakan selama ini adalah kehadiranya dihidupku tak berarti apa-apa.


"Baiklah, terserah padamu saja" ucapannya lemah, menyerah dengan segala argumen yang aku sampaikan, ia pun tak bisa mengelak hal yang sebenarnya ia sudah sadari.


"Aku akan kembali ke kamar, beristirahatlah, esok pagi adalah hari besarmu". ucapnya kemudian meninggalkan ruang kamar yang aku tempati di kediamannya pak danang.


Lelah, itu yang aku rasakan ketika berbicara dengan ayah kandungku sendiri. Tak mudah mendapatkan titik celah yang bagus untuk menghalau segala perintahnya.


......................


Pagi ini aku di rias dan memakai kemeja dan jas berwarna hitam lengkap dengan celana berwana sama. Disepanjang usiaku, baru kali ini aku merasakan dirias dengan memakai pakaian yang mewah yang telah dibelikan oleh ayah. Di depan cermin besar di kamar aku menatap ke wajahku yang telah dipoles menjadi terlihat sangat tampan dan berwibawa sekali. Tak buruk juga sesekali berdandan, pikirku saat melihat hasil dari riasan dari tukang rias profesional.


"Mas nya sudah tampan, kami memberikan sentuhan sedikit saja agar telihat lebih baik lagi". ucap perempuan yang mendandaniku itu.


"Terima kasih".


Waktu menunjukan pukul 8:43 pagi hari dengan cuaca sedikit mendung dan dingin 19° Celsius. masih ada waktu 15 menit lebih untuk bersiap-siap ke acara ijab qobul yang akan diselenggaran langsung di taman dalam rumah pak danang yang sudah di dekor secara minimalis karena jumlah tamu pun hanya dari kalangan terdekat saja paling banyak pun sekitar 50 orang saja.


Semua sudah berkumpul di taman dengan konsep garden party, dengan meja-meja bulat di disain seperti cafe outdoor yang tidak begitu banyak pernak-pernik.


"Marilah kita sambut mempelai Pria dari keluarga Bapak Ellard Channing. Sharon Ezra Channing". Seorang pemandu acarayang sudha membuka rangkaian kegiatan memanggil mempelai pria yang disambut tepuk tangan riuh terdengar disusul lantunan musik syahdu dari dawai biola dan dentingan piano menambah suasana romantis untuk sebuah pernikahan yang seadanya, tak kurang dari 1 hari penuh dalam proses penyiapannya pun.


Aku dan ayah berjalan pelan menyusuri karpet berwarna merah jambu menghantarkanku ke sebuah kursi mempelai. aku duduk dan disebelahku ada ayah yang bangkunya sedikit terpisah. Tak sabar rasanya ingin melihat indira yang mengenakan gaun pengantin.


Tak lama dari setibanya kami di atas stage tempat akan melangsungkan prosesi ijab qobul, ia memanggil mempelai wanita dan orangtuanya.

__ADS_1


Benar-benar seperti bidadari, indira berubah semakin cantik dengan riasan tipis dan bibir berwarna pink. Rambutnya yang digerai dengan hiasan mahkota di rambutnya bak bidadari dalam cerita dongeng. gaun putih yang melewat sedikit transparan dibagian lengannya memberikan nuansa manis dan juga anggun, terlihat cocok melekat ditubuhnya yang ramping. aku benar-benar mengagumi kecantikan calon istriku yang tak berapa lama lagi akan sah sebagai pasangan suami-istri.


Ia melirik ke arahku ketika sedang berjalan, senyum manisnya sangat memabukan, aku sedikit grogi juga dibuatnya. hadirin tamu undangan pun terpana oleh cantik dan keanggunan indira disaat ia berjalan menuju altar pernikahan kita.


Sesaat sudah tiba di stage sederhana yang dihiasi berbagai macam bunga warna-warni kami duduk berdampingan di hadapan kami penghulu sudah siap untuk membacakan ikrar dari sumpah setia kita berdua dihadapan tuhan untuk saling menjaga dan menyayangi, begitulah isi ikrar yang kami berdua baca disusul ucapan yang sangat ditunggu-tunggu.


"Sahhh".. disusul ucapan oleh para tamu undangan yang menyaksikan momen berharga ini, tak terasa air mataku pun berlinang sedikit membasahi pipi ini, terharu dan juga bahagia yang tak akan bisa ku jelaskan dengan jutaan kata-kata menjadi sebuah cerita.


"Terima kasih sayang, kamu telah mau menjadi istriku" ucapku kepada indira, dan mengecup lembut keningnya itu.


Kini kehidupanku telah sempurna karena keberadaanya. Pertemuan yang yang tak disangka telah mengantarkan kami ke altar suci pernikahan kami berdua untuk berucap setia sehidup semati saling menjaga dan menyayangi.


"Sha kenapa nangis?".


"Enak saja, aku kelilipan bukannya menangis, emangnya kamu cengeng. hahah" aku menyembunyikan rasa bahagiaku yang teramat dalam sampai akhirnya sempat sedikit menitikan air mata yang telah aku hapus dengan lengan jas yang aku pakai.


"Aku bahagia sha.. bimbinglah aku ya sayang..". indira menatapku yang masih mencoba menghapus tetes air mata yanh sulit sekali ku bendung.


" ya. tentu".


...****************...


.


.......


......Ilustrasi......


__ADS_1


__ADS_2