Jalan Panjang Menjadi Seorang CEO

Jalan Panjang Menjadi Seorang CEO
Titik Terang


__ADS_3

Rintik hujan teus berderai membasahi bumi, tak ada barang sejenakpun tuk berhenti, tak juga kunjung terlihat sorot terik matahari, masih terhalang awan pekat yang melekat erat di langit sana. Sebisa mungkin aku menghindari cipratan air hujan di balkon apartemen. Tempatnya cukup luas ada bangku dan meja bundar di sini, untuk sekedar menikmati sore hari tenang menatap pemandangan. Karena area outdoor ini pun aku bisa leluasa untuk merokok dan tidak mengganggu udara di dalam ruangan apartemen.


Beberapa kali aku menengok ke dalam ruangan, mereka masih berbicara dan saling meminta maaf karena banyak hal, entahlah aku terlalu malas untuk mengetahui isi hati perempuan yang jika mereka sedih mereka akan menangis, begitupun kala senang, pasti menangis juga.


Tapi yang pasti, mereka berdua telah kembali menjadi sahabat yang akan selalu saling melindungi satu dengan yang lainnya.


“Ekhm..” Indira berdehem cukup keras dibalik pintu kaca balkon yang sedikit terbuka.


“Sudah selesai dramanya?” tanyaku sedikit bercanda. Yang disusul cubitan kencang dipinggangku.


“Awww.. Sakit tau!” aku menghentikan cubitannya itu dengan menepis tangannya dari pinggangku.


“Kamu becandanya gak lucuuuu sha...” .


“Ayo masuk, Finna mau ngomong sesuatu sama kamu” timpalnya kemudian berjalan kembali ke arah ruang depan.


.......


“Sha, aku bersedia bantu kamu, project kamu sebenarnya sangat menjanjikan jika kamu bisa melihat arah lain yang bisa meningkatkan peluang lebih besar” Finna menceritakan bahwa nantinya program yang aku buat itu bisa lebih serius di tindaklanjuti untuk kegunaan yang lebih bermanfaat.

__ADS_1


Segmentasi yang aku buat pada program ini memang terbilang sangat abstrack, kurang jelas target pasar yang akan dituju. Namun begitu Finna menjelaskan kelemahan-kelemahan juga peluang yang bisa diambil dan lebih bisa segera diaplikasikan secara menyeluruh.


“Aku berani bertaruh, Program kamu bisa digunakan sebagai sarana penunjang pendidikan. Kamu tau sebabnya?” ia melemparkan pertanyaan yang sebenarnya bisa aku jawab, hanya saja aku sedikit faham dialektika seperti ini, karena ia lebih bisa memandang lebih jauh dan pasti akan lebih diperjelas maksud dan tujuannya.


Oxygen sebagai sebuah alat untuk menunjang proses belajar-mengajar. Itu adalah ide dari Finna, benar-benar sesuatu yang tidak terbayang olehku pada saat membuat program ini. Pada kenyataanya memang proses belajar mengajar hanya berhenti di sekolah atau universitas, dan project Oxygen bisa memberikan waktu lain untuk semua orang belajar tak mengenal waktu dan tempat.


Ide nya sangat menarik, aku pun menyimak dengan seksama semua kalimat-kalimat yang ia lontarkan. Sisi lain dari program ini ia kikis tuntas bersebrangan dengan apa yang aku pikirkan, tadinya aku hanya terpikir Oxygen akan menjadi ruang untuk siapapun berinteraksi secara bebas dan real-time. Akan tetapi Finna menambahkan value lain yang bisa dikejar, yaitu sebagai sebuah sarana penunjang aktifitas belajar seseorang. Benar-benar ide gila yang sangat masuk akal.


“Bagaimana apa kamu tertarik?” tanya nya kepadaku yang masih terdiam karena kaget dengan ide brilliant dari perempuan ini.


“Ah.. Eh iya.. Idenya sangat menarik, aku hampir tidak terpikirkan untuk menjadi seperti itu”


“Aku akan menanamkan beberapa modal untuk perusahaanmu, namun aku ingin melihat terlebih dahulu, perusahaanya berdiri secara legal dan program yang kamu buat sudah berjalan. Bagaimana?” Ia menawarkan bantuan kepadaku dengan ketentuan untuk terlebih dahulu menjalankan Project Oxygen.


“Baik kalau begitu, aku tunggu kabar baik darimu” ucap Finna menutup pembicaraan kami tentang pembangunan usaha yang sedang ku kerjakan.


.........


Sementara di tempat lain, disebuah rumah kumuh di pusat kota Jakarta, Rania tengah khawatir  karena Dea setelah bangun pagi, tubuhnya demam dan wajahnya sangat pucat. Dengan sigap ia mengompres tepat di kening putri tercintanya itu. Mungkin saja masuk angin, karena dari kemarin hujan dan angin membuat cuaca sangat dingin. Ia hendak membawanya ke puskesmas terdekat, hanya saja hujan sangat deras dan susah untuk menemukan kendaraan umum dalam kondisi seperti ini.

__ADS_1


Ia memeluk anak semata wayangnya itu dengan penuh kasih sayang, berdoa dalam hatinya semoga sang anak segera sembuh dari sakit. Tak tega rasanya melihat putrinya terbaring lemas, biasanya ia sangat bawel di pagi hari seperti ini.


“Lekas sembuh ya nak..” Ucapnya pelan dan mengecup pipinya.


Dea membuka matanya perlahan dan mendapati Ibunya sedang mengusap rambutnya.


“Mah.. Dea haus..” ia menatap nanar ke arah ibunya yang duduk didepannya.


“Tunggu sebentar ya nak”.


Setelah meminum sedikit air hangat, ia mencoba mengangkat tubuh putrinya agar duduk bersandar pada dinding kamar.


“Makan ya nak, mama udah buatkan bubur ayam enakkkk sekali”. di balas anggukan pelan oleh Dea.


Setelah beberapa suap bubur ayam, kemudian meminum obat, Dea pun tertidur kembali.


....


Rania duduk di tepi kasur menatap putri tercintanya, ia merasa sangat kasihan putrinya hidup dalam keadaan yang serba kekurangan juga tanpa tau sedikitpun mengenai sosok ayahnya yang telah meninggalkan sejak ia masih dalam kandungan.

__ADS_1


Andai ia bisa memberikan sebuah keluarga yang utuh, pasti Dea akan sangat bahagia. Namun, pintu hati Rania belum bisa menerima hati yang lain setelah kecewa terhadap Toni pacarnya yang telah membuatnya menderita selama ini karena hamil diluar nikah. Entah masih adakah cinta lain yang bisa ia dapatkan dari sosok laki-laki. Selama ini ketakutan terhadap hal yang serupa, membuatnya menghindari untuk dekat dengan laki-laki dan cenderung menghindari mereka semua. Saat ini dirinya lebih menyibukan diri untuk putri satu-satunya tak ada hal lain yang ingin iya lakukan selain membahagiakan Dea dengan segenap jiwa dan raganya.


__ADS_2