
Sebenarnya, ada rasa sedikit kesal terhadap Finna karena perlakuan buruknya terhadap Indira dan juga karena ucapannya semalam, namun aku mencoba bersikap biasa saja dihadapannya, tak ingin terlihat tidak menyukai sahabat baik dari Indira itu.
Selama ini Finna selalu menjadi bahan obrolan aku dan Indira, karena bagaimanapun ia adalah sahabat baik ketika mereka masih berstatus mahasiswa S1 di Jogjakarta. Namun sikapnya berubah, setelah ia menyelesaikan studi nya di luar negri dan kembali ke Indonesia.
Beberapa kali Indira mencoba menghubunginya tidak pernah bisa dan selalu di tolak oleh Finna, dan ketika mendapati fakta bahwa Andre dan Finna menjalin asmara, ia pun menyerah untuk mendapatkan keduanya, sahabatnya juga pacarnya. Cobaan berat yang menimpanya itu menjadi celah untuk ku mengisi kembali hatinya yang telah kosong dan mengembalikan keceriaanya seperti sedia kala. Sekitar 4 bulan aku menemani hari-harinya yang selalu diliputi kesedihan. Butuh kesabaran untuk bersama Indira kala itu, kapanpun ia butuh untuk bercerita aku selalu menyempatkan waktuku untuk mendengarkannya, karena hal yang ia butuhkan adalah ditemani oleh orang lain dan mendengarkan segala keluh kesahnya.
“Kalian tidak ada agenda kan hari ini ?” Tanya Indira kepada kami berdua.
“Aku sedang tidak minat kemana-mana hari ini” Jawab Finna dengan cuek sambil memakan cemilan dan menonton tayangan televisi di ruang tengah.
Aku hanya mengangguk saja, dan menunggu kalimat selanjutnya dari Indira, sepertinya ia sedang merencanakan sesuatu dengan kami.
“Aku tinggal sebentar ya, mau belanja beberapa keperluan. Bahan-bahan di kulkas sudah habis” Indira lekas berjalan menuju pintu keluar.
“Aku hanya sebentar ko, kalian tidak perlu khawatir” ucapnya dan meninggalkan kami.
Hanya suara siaran televisi yang terdegar, kami sibuk dengan urusan masing-masing, Finna menonton televisi dan aku membuka laptop untuk mengerjakan beberapa hal yang belum sempat dikerjakan kemarin.
Kami terdiam beberapa lama karena sedikit canggung dengan situasi seperti ini, dan Finna pun bukan orang yang dengan mudah untuk membuka obrolan dengan orang yang baru saja ia kenal.
“Kamu semalam menginap disini?” tanyaku sekedar basa-basi dan memecahkan kebisuan diantara kami berdua yang sedang duduk berjauhan di sofa ruang tengah.
“Iya” ucapnya singkat bahkan tidak berusaha untuk melirik lawan bicaranya.
__ADS_1
Sepertinya aku memang tidak menyukai sikapnya yang dingin itu, mungkin lebih baik aku diam saja dan tidak mempedulikan kehadirannya. Aggap saja sedang tidak ada siapa-siapa.
Selang beberapa menit, Finna duduk sedikit bergeser dan menatap ke arahku dengan pandangan matanya melihat mataku, kami saling pandang.
“Sha, emhh...” panggilnya.
“Kenapa Fin?”
“ Sorry, karena sudah mengkritikmu tadi malam, maafkan aku” ucapnya dengan pandangannya tajamnya menatapku.
“Aku tidak terlalu mempedulikan hal itu, tetapi aku belum bisa memaafkan atas perlakuanmu selama ini kepada Indira” sontak Finna kaget dengan ucapanku, meskipun ia telah berbaikan dengan Indira dan tidak lagi mempermasalahkan hal yang sudah terjadi, akan tetapi aku belum bisa mempercayainya sekarang ini.
“Indira banyak bercerita tentangmu dan juga Andre, dan apakah kamu bisa membayangkan bagaimana rasanya ditikam oleh sahabatmu sendiri?” emosiku meluap dan ingin rasanya menampar wanita ini karena kebusukannya yang telah membuat Indira sedih.
“Aku harap, kamu bisa menepai janjimu, aku tidak akan pernah memaafkan siapapun yang mencoba membuat Indira sedih, Aku pasti buat perhitungan denganmu jika kamu tak menepati janji”. Ada rasa lega setelah mengancam Finna yang kini tertunduk dihadapanku itu, beberapa kali tangannya berusaaa mengusap air matanya sendiri.
“Tentu sha.. Aku pasti akan akan menepatinya. Aku sadar telah jahat kepada temanku sendiri dan membuatnya menderita”. Kemudian terdengar isak tangis yang begitu pilu, mungkin saja benar kalau Finna sudah menyadari kesalahan-kesalahannya dan ini adalah hal yang baik agar ia bisa lebih bersikap selayaknya seorang sahabat.
Kami berbincang berbagai hal di hari-hari Indira putus dari Andre, Kondisi dirinya yang beberapa kali masuk rumah sakit, percobaan bunuh diri dan keterpurukannya selama ini dan juga menceritakan proses Indira bisa menjadi tegar menghadapi itu semua. Aku menceritakan semuaya tanpa ada hal yang coba ku tutupi.
Pada akhirnya aku pun menjadi iba pada wanita dihadapanku ini, dan mencoba menenangkannya.
“Sudahlah, tak perlu disesali. Semua kejadian ini pasti ada hikmah tersendiri bagimu juga bagi Indira” tuturku mencoba menenangkannya yang kini tertunduk menangis.
__ADS_1
“Terima kasih sha.. Tak salah Indira memilihmu, kamu orang yang sangat tepat untuk Indria”
“Kalian pasti menjadi pasangan yang bahagia, aku mendukung kalian berdua” ucapnya dengan lembut dan tersenyum kepadaku.
Krekk...
TIba-tiba pintu terbuka, Indira masuk membawa tas belanjaan yang penuh oleh beberapa barang didalamnya.
“Loh, kamu kenapa Fin?”
“Sha, kamu apain Finna, ko dia nangis?” Indira nyerocos karena kaget sahabatnya terlihat menangis dan masih ada sisa-sisa air mata dipelupuk matanya.
Ia merangkul tubuh sahabatnya itu yang masih duduk di sofa. Dan menatap tajam ke arahku yang juga tak jauh dari tempat Finna duduk.
“Emh... Lebih baik tanya Finna saja” jawabku karena bingung mau menjelaskan apa.
Kedua perempuan ini pun saling berpelukan, terdengar disela isak tangis Finna ia berucap maaf, kemudian Indira pun ikut menangis.
Aku meninggalkan mereka berdua yang masih saling peluk, pergi menuju ke balkon apartement dan menyalakan rokok, tak enak rasanya di antara mereka berdua, dalam kondisi seperti itu lebih baik menunggu seperti hal nya menunggu hujan reda.
.......
...
__ADS_1