Jalan Panjang Menjadi Seorang CEO

Jalan Panjang Menjadi Seorang CEO
Menjagamu Sepenuh Hati


__ADS_3

“Sayang, ayo sudah jam 7 lewat, aku bisa terlambat nih”. Medina mengetuk pintu kamar mandi, disana stefan masih mandi dengan santainya tak tau kalau  istrinya sudah mulai jengkel.


“Iya sebentar”.


"Ayo sayang, jangan lama-lama mandinya, papah mamah sudah nunggu dari tadi tuh"


"Iya iya.." Dengan santainya stefan keluar kamar mandi yang hanya berbalut anduk dengan semerbak wangi dari sampo dan sabun yang tadi ia pakai berhasil meluluhkan kejengkelan sang istri yang tadi sempet kesal karena lama menunggu suaminya.


cuppssss


Kecupan lembut mendarat di kening medina yang membuatnya semakin salah tingkah.


"Bagaimana hasil tesnya?"


"Ini. sama seperti kemarin. hehee" ucap medina.


"Ayo sayang cepat, segera kita sarapan papah mamah sudah nunggu dari tadi"


"Iya, aku tak sabar melihat rekasi mereka berdua" stefan menimpali ucapan istrinya tak tau reaksi seperti apa dari orang tuanya nanti.


Setelah mandi, dan mengeringkan badan dengan handuk, ia meraih pakaian yang telah disiapkan oleh sang istri, baju kaos oblong tipis warna putih dan kemeja polos berlengan panjang berwana abu muda, celana jeans hitam lengkap dengan sabuk berwarna sama. Istrinya telah mempersiapkan semuanya dengan cekatan.


Medina sudah terbiasa jauh sebelum mengenal suaminya. Di rumah ia selalu membantu ibunya menyiapkan keperluan adik-adiknya sebelum berangkat sekolah dan juga memasak buat mereka semua, tak ada hal yang spesial sampai kini ia telah menikah, rutinitas pagi itu tetap ia lakukan di kediaman keluarga stefan.


“Ayo sayang, yang lain sudah menunggu di ruang makan”. Sebuah kecupan mesra kemudian stefan berikan kepada istri tercintanya itu dan membuat Medina tersipu malu karenanya.


“Pagi semuanya..” sapa stefan kepada keluarganya, ada adik dan kedua orang tuanya yang sedang asik bersantap pagi di meja makan.


“Ayo nak, cepat sarapan”. Pinta sang ibu.


Selagi bersenda gurau diantara waktu sarapan, stefan memberikan pengumuman penting kepada keluarganya, tak sabar jika kabar ini akan membuat semuanya tercengang.


“Sayang.. “ ia melirik ke arah medina yang duduk disampingnya.


“Iya, kamu saja yang bilang ya..” ucap medina pelan.


“Ada apa nak, kalian mau membicarakan apa, ayo bilang?”

__ADS_1


“Emh.. Bilang tidak ya.. Tidak usah aja deh.. hahahah” ia garuk-garuk kepala, malu dengan apa yang akan ia ceritakan.


“Ada apa sih.. Jangan buat mama penasaran ya.. Durhaka kamu nanti!” Ibunya mengancam dan memelototi stefan.


“Jadi.. Kita sudah cek kemarin pagi dan baru bisa mengabari pagi ini setelah cek untuk kedua kalinya".


"Ma.. Pah, Medina hamil” ucap stefan dengan sedikit ragu ketika menyampaikan berita besar ini.


“Haaaaaaaaaaaaa....”


“Yang benar kamu!”


Sontak ibu dan ayahnya stefan tak jadi menyuap makanan karena kaget dengan kabar bahagia dari stefan dan medina.


“Betul itu nak?” ayahnya mengkonfirmasi langsung ke medina, yang kemudian dijawab sebuah anggukan mantap oleh medina.


Ibunya bangkit dari tempat duduk, dan buru-buru mendekati medina memeluk tubuhnya, terharu dengan kabar baik yang beliau terima, ada rasa tak percaya kini di usia 53 tahun dirinya akan menjadi seorang nenek dan mendapatkan seorang cucu dari anak lelakinya.


“Puji syukur nak, selamat ya sayang..” ucap ibunya lirih mendekap erat tubuh medina.


“Selamat ya.. Papah doakan, si jabang bayi selalu sehat dan bisa hadir bersama kita nantinya”.


“Hahaha. Boleh juga kau stefan, ku kira kamu akan menunda untuk punya anak” canda ayahnya kepada anak lelakinya.


“Iya dong pah, kan stefan orangnya rajin bikinnya, masa tidak jadi anak. hahaha” disusul tawa oleh stefan yang ia geli dengan ucapannya sendiri.


“Huh kalian ini bercandanya, ada adik-adikmu itu..” timpal ibunya.


“Ingat ya nak, kamu sekarang harus lebih hati-hati lagi, dan kamu stefan, istrimu sedang mengandung, jangan coba-coba abai dengan tanggung jawabmu”


“Iya ma..” jawab stefan.


—————————————-


Perjalanan ke kantor serasa lebih lama dari biasanya. Ia lebih hati-hati karena si jabang bayi yang ada dalam kandungan istrinya harus mendapatkan perhatian lebih agar tak terjadi hal-hal buruk nantinya. Lambat laun kedewasannya tumbuh seiring perjalanan rumah tangga yang tengah ia arungi berdua bersama Medina.


Ada rasa tak percaya, dahulu dia banyak mempermainkan wanita seenaknya, banyak wanita yang telah ia sakiti dan rasa bersalah itu tetap ada. Meski begitu, rasa bersalahnya tak kemudian menjadikan ia berasa jatuh, sebaliknya kini stefan bersungguh-sungguh untuk membahagiakan wanita cantik yang telah ia nikahi dan telah menyerahkan segenap hidupnya untuk bisa mewujudkan kebahagian dari keluarga kecil yang kini ia miliki.

__ADS_1


Meski ia terus mencoba, akan tetapi dirinya tetap meras kurang baik sebagai seorang suami, apalagi jika dipikirkan beberapa kali olehnya, stefan banyak bersikap kekanak-kenakan dan cenderung egois, yang berujung pertengkaran kecil, meski pun begitu medina tetap menerima dengan lapang dada akan kehadiran suaminya yang keras kepala dan egois.


Kini ia ingin berubah lebih baik lagi sebagai seorang lelaki juga sebagai seorang suami yang memiliki istri dan tak lama akan menjadi seorang ayah bagi anak yang berada dalam kandungan medina.


Aku harus berubah, demimu dan anak kita kelak.


Medina juga bukan tipikal perempuan pengatur yang mengekang suami, ia lebih banyak mendengarkan semua hal dari segala ucapan suami. Mencoba memahami mood sang suami yang tiap menit bisa berubah drastis, beberapa kali mereka bertengkar hanya karena masalah sepele itu telah menjadi pelajaran baginya untuk lebih memahami sosok lelaki yang nanti menjadi ayah dari si bayi.


Meski pun kadang suaminya bersikap keras dalam artian wajar, dirinya tak pernah merasa sakit hati atau menderita karenanya, bagaimana pun baik dan buruknya stefan. Baginya ia adalah sosok lelaki teristimewa dalam hidupnya yang tak akan ada kali kedua bisa mendapatkan sosok yang sama persis, tak ada pun rasa ingin berpaling dari stefan. Dirinya hanya harus lebih bisa bersikap sabar dalam menghadapi keegoisan suaminya yang tiba-tiba meluap tanpa disadari.


“Sayang, bagaimana kesibukanmu hari ini?” ucap medina sembari mengusap bahu stefan.


“Tenang ya sayang, nanti sore aku pastikan jemput kamu dan kita bisa periksa ke bidan di rumah sakit”.


“Jika hari ini kamu sibuk, tak perlu memaksakan. Kita bisa ambil hari lain”


“Tidak sayangku. Nanti sore kita periksa ya.. Kamu tunggu saja nanti”.


“Baik sayang”. Wajah Medina merah merona dengan perlakuan stefan yang kini makin memanjakan dirinya setelah mengetahui kehamilan mereka.


Medina keluar dari mobil ketika tiba di kantornya, ia tetap ingin bekerja meski sedang hamil muda. Beberapa kali stefan melarang, akan tetapi ia tetap bersikeras ingin tetap bekerja dan tak ingin bermalas-malasan hanya karena hamil, ia yakin bayi dalam rahimnya kuat dan bisa bertahan sampai nanti lahir.


“Pastikan kamu tidak terlalu kecapean ya sayang..”. Pinta stefan kepada medina dengan lembut kemudian ia mengecup kening istrinya itu dan lanjut masuk kedalam mobil.


“Bye sayang.. Hati-hati di jalan”


“Iya.. Bye sayang”.


Sekilas mobil yang suaminya pakai menghilang dari pandangan mata. Medina melangkah masuk ke dalam ruangan kantor disambut oleh para karyawan lainnya yang sebaya dengan medina.


“Pagi semuanya...”


“Selamat pagi Ibu Medina..” teman akrabnya di kantor menyapa dan telah mendapat kabar tentang kehamilan medina.


“Asik nih.. Aku bakal punya keponakan..” ucap Stella disusul tawa para pegawai lain yang tak lupa memberikan selamat atas kehamilannya kini.


.

__ADS_1


.


***********************


__ADS_2