Jalan Panjang Menjadi Seorang CEO

Jalan Panjang Menjadi Seorang CEO
Rania


__ADS_3

Siang ini aku hendak ke sebuah pusat perkantoran di kawasan Arcadia di daerah pusat karena ada sebuah janji dengan seorang penyewa gedung-gedung disana. Ya. Aku akan menyewa kantor untuk membangkitkan Oxygen, sebuah program yang nantinya akan aku launching diberbagai platform device.


Setelah sarapan pagi bersama indira, kita berdua keluar apartemen bersama menuju parkiran mobilnya. Hari ini aku meminta indira mengantar ke daerah pusat sebelum ia menuju kantornya karena masih satu arah.


"Sha, kamu kenapa tidak belajar mengendarai mobil, kan lebih enak kalau sudah bisa, kamu bisa pinjam mobil aku, jadi tidak perlu terus-terusan setiap hari naik kendaraan umum. Ucap indira memncoba membujuk ku belajar mobil.


Lama aku berpikir untuk menjawabnya, dan memang apa yang ia bicarakan ada benarnya juga. "Nanti kalau semua sudah stabil, aku pasti belajar" ujarku menanggapi opini nya.


"Kamu ada meeting penting di pusat hari ini?" tanya indira.


"Emh.. Nanti malam aku ceritakan semuanya ke kamu ya" jawabku dan mengusap lembut rambut hitam indira yang sengaja di gerai lurus bak artis sampo terkenal. Aku suka sekali mengusap, mengelus rambutnya yang lembut ini seperti ada rasa sayang yang kian menguat yang tak perlu di ceritakan kepadanya.


Indira tak banyak tanya seperti perempuan pada umumnya, jika aku bilang nanti malam aku ceritakan semuanya, ia akan menurut dan tidak akan bertanya sebelum aku menceritakannya sendiri. Aku suka perangainya yang seperti itu karena kebanyakan lelaki akan sangat bosan jika terus-terusan ditanya tentang kegiatan pekerjaanya, sangat mengganggu!.


"Dira, aku turun di depan lampu merah didepan ya" pintaku kepadanya.


"Eh, kenapa?" tanya nya keheranan dengan intruksiku.

__ADS_1


"tidak apa-apa, aku harus bertemu Rania, temanku di dekat sana, aku sudah janji bertemunya pagi ini.


" Ok deh" jawabnya singkat dan buru-buru menghentikan laju kendaraan tepat di sebuah convenient store dekat lampu merah.


"Semangat kerjanya sayangku" ucap indira dan mengecup bibirku dengan lembut.


"Kamu juga, hati-hati di jalan ya sayang" timpalku, kemudian keluar dari mobil dan berjalan ke sebuah gang kecil di dekat lampu merah.


......................


Setelah mencoba menghubunginya, panggilanku tersambung dengan seorang wanita yang sudah ku kenali suaranya yang tidak pernah berubah dan membuat janji bertemu dengannya pagi ini.


Aku membuka ponselku dan membuka map yang ia kirimkan dengan penanda kediamannya itu, aku pun mengikuti arahan dari peta itu masuk ke sebuah gang kecil menjauh dari jalan raya.


Wilayah ini cukup kumuh dengan sampah berserakan dimana-mana, banyak pula anak-anak kecil berlarian berlalu-lalang di gang kecil yang hanya cukup di masukin oleh motor saja.


Aku berhenti tepat di titik yang ia berikan alamatnya. setelah mengecek kesana kemari, aku yakin dengan sebuah rumah kecil dengan atap seng dan juga tembok putih yang sangat kusam termakan usia.

__ADS_1


Tok tok tok.. Aku mengetuk pintu rumah itu sambil mengucapkan salam.


Dan tak lama, pintu itu pun terbuka perlahan dengan seorang wanita yang aku kenali sejak dahulu sewaktu masa kuliah, teman baik yang selalu membantuku namanya Rania Insani Putri.


"Rania, apa kabar?" tanya ku basa-basi.


"Baik sha, ayo masuk dulu" ucapnya mengajak masuk ke dalam rumahnya.


"Maaf sha.. Rumahnya berantakan" lanjutnya, membungkuk untuk mengambil beberapa mainan anak-anak dan beberapa file-file yang berserakan di lantai rumah yang hanya menggunakan tikar lusuh.


"Ran, aku ada hal penting yang mau aku bicarakan. Apa kamu ada waktu?" tanyaku serius menatap matanya.


"Santai dulu, aku buatkan kamu kopi ya. Biar enak ngobrolnya" ia pun berlalu ke dapur, beberapa menit kemudian, sebuah nampan dengan secangkir kopi dan pisang goreng tersaji di depanku.


"Ayo sha di minum kopinya, aku baru selesai buat pisang goreng juga sebelum kamu datang. Semoga kamu suka".


Perlahan aku meminum kopi dan menikmati pisang goreng buatannya. Walaupun tadi sudah sarapan bersama indira, akan tetapi aku tidak akan menyianyiakan pisang goreng buatan rania yang juga nikmat sekali dengan kopi hitam ini, seperti ada rasa nostalgia disana, sebuah rasa yang aku lupakan di masa lalu ketika masih berstatus mahasiswa.

__ADS_1


__ADS_2