
" Kau mempermainkan keluarga Mahanta?? "
tatapan tajam itu seolah ingin membunuh
masih dengan air mata yang mengalir deras, sashi kembali mencoba untuk mengungkapkan semua
" aku mohon maaf pi... aku menyesal, aku egois hanya memikirkan diriku sendiri saat itu tanpa memikirkan dampaknya. papi maafkan aku.. maafkan akuu... ." sashi menunduk dengan air mata yang masih setia mengalir.
" besar sekali nyalimu mempermainkan keluarga Mahanta, aku menyesal telah membelamu saat itu. harusnya aku lebih percaya pada putraku sendiri. Dan harusnya kau membusuk dipenjara!! " fauzi mengatakan dengan penuh penekanan.
fauzi bangkit dari duduknya berdiri dihapan sashi yang masih bersimpuh. " kepulangan ku ke tanah air disambut dengan kenyataan pahit, beruntunglah karna kau seorang wanita jika kau seorang pria sudah kumusnahkan kau sekarang juga, pergi kau dari sini. aku tidak ingin melihat wajahmu lagi. "
Baru satu langkah sashi langsung memeluk kaki fauzi, tidak membiarkan pria paruh baya itu pergi begitu saja. " papi maafkan aku ku mohon pi, ada hal yang harus papi tau, bahwa aku sangat menyayangi papi dengan setulus hatiku. aku menyayangi papi seperti aku menyayangi ayah kandungku... , papi tolong maafkan aku. aku memohon maaf darimu pii. " tangisannya semakin pecah.
" lepaskan aku !! " bentak fauzi, suara itu menggema ke seluruh mansion. tubuh sashi bergetar ia merasa sangat takut dengan bentakan itu, tapi tangannya masih tetap memeluk kaki fauzi.
" apa kau tidak mendengar apa yang aku katakan!! " bentaknya lagi. tidak mau membuat fauzi semakin murka dengan terpaksa sashi melepaskan pelukannya. sashi menangis tersedu sedu menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Saat ingin melangkah pergi, pandangan fauzi tertuju pada Ken yang terlihat lebih santai namun tetap memasang wajah datarnya.
__ADS_1
" Lebih baik akhiri semua ini, bukankah kau punya wanita yg sangat kau cinta? " ucapan itu ditujukan pada ken yang masih duduk disofa.
sashi mendengar itu, sashi tau arah pembicaraan fauzi yaitu sebuah perceraian. hatinya terasa ditusuk pedang, sedih, sakit, dan hancur itulah yang dirasakan sashi saat ini. semua orang yg ia cinta hilang. orang tua, sahabat baiknya, mertuanya dan suaminya juga sebentar lagi juga akan meninggal kannya. itulah yang ada didalam pikiran wanita malang itu.
Ken berdiri memajukan diri berhadapan dengan fauzi. memandang dalam papinya.
" papi yang menyuruhku memulainya, dan sekarang papi juga yang menginginkan aku untuk mengakhiri nya. ya papi benar tentu saja aku punya wanita yang kucinta saat ini, dulu papi membuatku sangat terkejut dengan memaksaku harus menikahi sashi, dan sekarang aku akan memberikan kejutan untuk papi. " ken mengeluarkan senyum tipisnya.
" aku tunggu kejutan darimu. " memukul bahu ken, lalu berbalik melangkah menuju kamarnya dengan senyum penuh arti.
sepeninggal fauzi, ken yang masih berdiri dan sashi yang masih berlutut memukul pelan dadanya yang terasa sesak. matanya sudah mulai membengkak akibat tangisan yang tiada hentinya. keadaan masih hening , hingga akhirnya sashi buka suara.
" tuan... maafkan aku, maafkan aku. setelah apa yang aku lakukan padamu hidupku tak tenang tidurku tak nyenyak. rasa bersalah menyelimuti hari hariku tuan, aku menyesal... sungguh aku menyesal tuan. "
hikss..
hikss..
" wanita bodoh " gumam ken yang melihat sashi masih terisak dan tertunduk.
__ADS_1
" bangun! " suara bariton itu sedikit meninggi, sashi menggelengkan kepalanya iya masih ingin dalam posisinya.
" kau ingin memberi tontonan pada para pelayan dengan keadaan mu seperti ini. ?" ucap ken
Ken sedikit berjalan meninggalkan sashi ia berniat untuk keluar mencari angin segar.
" saat aku kembali, jika aku tidak melihatmu dikamar, akan ku patahkan kakimu. jangan meremehkan ucapanku ini ! "
perkataannya penuh dengan penekanan. ken kembali melangkahkan kakinya keluar meninggalkan sashi begitu saja.
....
.
.
ššš
huaaah thor smpe ngantuk ngantuk ngetiknya, karna thor sempatnya cuma malam readers, jdi kalau ada kata kata yang ngaco harap dimaklumi.
__ADS_1
readers pasti uda tau apa yang author inginkan. hehehe
..