
Felicia langsung bergelayut manja ketika Ken membukakan pintu untuknya.
" sayang aku merindukanmu. " tangannya dengan erat memeluk Ken, namun pria itu hanya diam saja tanpa membalasnya
" sayang kenapa kau diam? tumben sekali tidak membalas pelukan ku. " felis menampilkan wajah murungnya. " apakah cintamu sudah hilang untukku? "
Ken tersenyum kecut lalu dengan terpaksa ia membalas pelukan kekasihnya lalu kembali memasang wajah datarnya.
" sayang apa kau merindukanku?? " tanya felisia yang masih dalam pelukan Ken
" ya aku merindukanmu" jawabannya sangat datar tak seperti biasanya kala ia menyambut kekasih hatinya
felis melepaskan pelukannya, menangkupkan kedua tangannya pada pipi ken, kaki nya menjinjit untuk mengecup bibir Ken.
" uhuukk.. uhuukkk.. "
Ken dan Felis mengalihkan pandangan pada sumber suara. felis berdecak kesal melihat seseorang yang ada didepannya sedangkan Ken langsung memiringkan senyuman penuh arti.
" ma maaf tiba tiba tenggorokan ku gatal. " Sashi yang sudah selesai dengan acara membersihkan diri langsung keluar kamar dan tidak sengaja melihat adegan felis yang akan mencium bibir suaminya
ada sedikit nyeri dihati Sashi mengingat Ken telah mengambil alih dirinya semalam suntuk, tapi pagi ini sashi harus melihat adegan kemesraan sepasang kekasih tepat dikedua matanya
" Aku akan keluar, aku tidak akan mengganggu kalian. permisi.. "
Sashi melangkahkan kakinya dengan cepat dan melewati Ken dan Felisia begitu saja, saat berpapasan dengan Ken dia menundukkan wajahnya karna masih merasa malu dengan kegiatan mereka tadi malam.
__ADS_1
Saat diambang pintu, Sashi menahan kakinya untuk tidak keluar. ia membalikkan tubuhnya dan memberanikan diri melihat ken, sekilas ia juga melihat felisia yang tidak suka akan kehadirannya
" tuan, 3 hari lagi aku akan kerumah orang tuaku. sekalian aku akan berziara kemakam mereka. a aku cuma minta izin saja, jika tuan mengizinkanku pergi aku akan berangkat. " rasa rindu pada orangtuanya tak terbendung, sashi meremas remas jari tangannya dan berharap ken mengizinkannya untuk pergi.
" hmm.. " hanya itu jawaban dari Ken singkat dan tak bermakna, dan itu membuat felis tergelak
" kau dengar itu sashi? maksud kekasih ku dia tidak perduli kau mau pergi kemanapun. " felis melipatkan kedua tangannya didepan dada, dan melengkungkan senyuman sinis dibibirnya.
sashi hanya tersenyum kecut
" terima kasih tuan, klo begitu aku permisi " sashi kembali melangkah keluar apartemen, dengan langkah yang gontai ia kembali teringat dengan ucapan Ken tadi malam " aku bisa melakukannya tanpa cinta"
Ingin marah tidak bisa sebab Ken adalah suami sahnya yang menginginkan haknya.
.
.
Setelah pintu tertutup Ken menatap felis seakan ingin menindasnya. " kenapa kau berkata seperti itu?? "
" aku?? aku hanya menebak jawabanmu apa aku salah?? " felis menatap heran.
Ntah sudah berapa lama Ken merasa sangat hambar dengan Felisia, Apalagi laporan Adam yang mampu membuktikan Felisia menghambur hamburkan dana dengan sesuka hatinya.
Masalah uang Ken tidak pernah mempermasalahkan, namun ada yang janggal disini. Ken merasa Felisia menyembunyikan sesuatu darinya.
__ADS_1
" sayang kenapa dia ada di apartemen? apa yang kalian lakukan? " kakinya berjalan menuju meja pantry dan menuangkan air lalu meminumnya
" aku memanggilnya kesini untuk membersihkan apartemen, hanya itu. "
" benarkah? " felisia menyipitkan matanya
" percaya atau tidak terserah kau saja, aku bukan pemaksa " ken mengangkat bahunya
" tentu aku percaya padamu, karna cinta Kenfredy Mahanta hanya milik Felisia Bernessa "
felis tersenyum pada Ken, ia sangat yakin kekasihnya itu tak kan berpaling hati pada yang lain. Apalagi saingannya tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan dirinya.
Bahkan banyak wanita yang tergila gila dengan ken, tapi hanya felisia lah yang mampu melumpuhkan hati seorang kenfredy.
tapi dulu.... wkwkwkwk š
ššš
othor : enak punya pacar kayak ken, bisa sukasuka ambil duiiiiittttt....., mudah2an yang mau tinggal kan jejak buat othor jodohnya bisa dapet kayak ken.
udah ganteng sarang duit lagiii
aakkkkhhh mau banget...
( sambil mewek manzaaahh) šš
__ADS_1