
Klik
Tanpa diketahui Sashi pintu ruangan itu sudah terkunci otomatis saat Ken menekan sebuah tombol remot yang ada dimeja.
" kemari," jari Ken mengayun menyuruh Sashi mendekat.
Dengan wajah yang cemberut, Sashi mendekati Ken sambil menenteng paperbag ditangannya.
" Kenapa wajahmu seperti itu? jangan membuatku tidak berselera untuk makan." Ucap Ken.
Sashi menghelakan nafasnya, berusaha menetralkan mimik wajahnya. ia meletakkan paperbag dimeja tepat dihadapan Ken.
" duduk disini." Ken menepuk nepuk pahanya
Mata Sashi membulat " ti tidak tuan, a aku disini saja. " Sashi berusaha untuk menolak.
" jangan membantahku " suara bariton itu penuh dengan penekanan.
Sashi menggaruk belakang lehernya yang tidak gatal, disini masih ada sofa yang kosong kenapa harus duduk dipangkuan Ken?
Pria itu jengah lama sekali istrinya merespon, Ken menarik tanga Sashi hingga akhirnya ia duduk dipangkuan Ken.
__ADS_1
" Begini lebih baik. " ucapnya sedikit menyeringai
" tu tuan kalau kak Adam masuk bagaimana? " tanya Sashi, sangat memalukan jika Adam tiba tiba masuk melihat Sashi duduk dipangkuan Ken.
" Dia berani masuk tanpa seizinku akan ku patahkan kakinya. " Ken hanya menakut nakuti Sashi , pasalnya Ken sudah ancang-ancang mengunci ruangannya agar si pengganggu itu tidak masuk seenak jidatnya
" kau masak apa hari ini hemm? " tanya pria itu sedikit melembut.
" aku masak steak dan aku membawakan teh hijau untukmu tuan." posisi mereka yang berdekatan membuat Sashi grogi bukan main. Apalagi sedari tadi tangan Ken melingkar dipinggang Sashi.
" sepertinya perutku belum lapar, tapi ada sesuatu yang lain yang merasa lapar. " ucap Ken sambil membuka ikatan rambut Sashi
" ma maksudnya? " tangan Sashi sedikit mendorong dada Ken.
Sashi hanya menggelengkan kepalanya, karna tadi saat masak dia juga sudah mencicipi makananya sepiring.
" Good " dengan seringai licik dibibirnya
Mata Sashi membulat mendapat serangan mendadak dari Ken, Ciuman itu bermula lembut lama kelamaan semakin menuntut. Lidah pria itu bermain main didalam mulut istrinya. Sungguh makan siang yang lebih nikmat dari pada sepiring steak.
Namanya wanita bagaimanapun otak ingin menolak tapi tubuh meminta, Ken memberikan kenikmatan untuknya ntah kenapa rasanya Sashi juga ingin membalas ciuman itu.
__ADS_1
Ken makin bersemangat, istrinya juga membalas setiap kenikmatan yang ia beri. Ken bangkit dari duduknya sambil menggendong Sashi tanpa melepeskan ciuman panas mereka.
Ken kembali menekan tombol hingga terbukalah sebuah pintu dan itu adalah kamar yang ada diruangan Ken. ia merebahkan tubuh Sashi diranjang tanpa melepaskan ciumannya, tubuhnya sudah menindih tubuh Sashi. Akhirnya Sashi mencoba mendorong dada Ken hingga ciuman itu terlepas. Sashi butuh oxygen nafasnya memburu Ken tak memberinya kesempatan bernafas.
Ken menempelkan Keningnya pada kening Sashi, mereka saling merasakan hembusan nafas masing-masing. Perlahan mata mereka saling bertemu, Ken benar-benar tak bisa menahan ia harus menuntaskannya.
" aku menginginkannya, " deru suara yang berat menahan gojak dalam dada.
" tuan... " suara Sashi melemah, ia juga sangat menginginkannya.
srekkk.... Baju Sashi sudah robek siapa lagi pelakunya kalau bukan Ken. Ia melempar asal baju Sashi, melepaskan apapun yang menutupi tubuh istrinya. Pria itu juga melepaskan bajunya dan melemparnya kesembarang arah.
Senjata sudah meronta ronta, Ken kembali mencium bibir Sashi dengan rakusnya. Tangan Sashi ia naikkan keatas kepala, memberikan sensasi liar namun nikmat.
Dan......
terjadilah apa yang seharusnya. ššš
.
.
__ADS_1
Biar aja readers yang ngehalu sendiri wkwkwk...