
Sashi mengalihkan pandangannya menatap jalanan dari dalam jendela kaca mobil yang sangat mewah. Pandangannya sangat sendu, meratapi nasibnya yang telah menjadi pengangguran. Butuh waktu yang lama untuknya bisa bekerja di Restauran HighClass, apalagi Restauran itu sangat terkenal dikalangan kelas-kelas elite.
Tanpa terasa Sashi meneteskan airmata dan terdengar sedikit isak tangis yang berusaha ia tahan, Ken yang masih memegang kendali stir mobil mendengar isak tangis Sashi yang duduk disebelahnya.
" Jangan buang-buang tenaga hanya karna kehilangan pekerjaan, utamakan kesehatanmu. Jika mereka tidak menginginkan mu untuk kembali bekerja lebih baik kau lepaskan saja, dari pada kau harus memohon seperti tidak punya harga diri saja. " suara bariton yang dikeluarkan Ken mampu membuat Sashi sedikit tertusuk. Ken seperti orang tak bersalah, hingga berbicara pada Sashi saja dia tak mengalihkan pandangannya dari jalanan.
Wanita itu sedikit tersenyum getir, Sashi masih tidak mau melihat Ken tatapannya masih kearah luar jendela mobil.
" tuan tidak tau rasanya jadi aku. Butuh waktu yang lama untukku mendapatkan pekerjaan tetap, tapi dengan mudahnya tuan mengubah semua itu. " Sashi menarik nafas lalu membuangnya perlahan. "ternyata benar kekuasaan dapat merubah apapun dengan sangat mudah, semudah membalikkan telapak tangan. " Sashi kembali tersenyum getir.
Ken langsung menepikan mobil dengan mendadak, ia buka seatbelt yang terkait pada tubuhnya dengan kasar. Ken menarik lengan Sashi agar wanita itu mau memandangnya.
Dengan terpaksa Sashi menatap wajah tampan suaminya dengan mata yang berkaca-kaca. "Apa salahnya jika tuan berkata jujur pada manager tentang kondisiku tuan. " Air matanya jatuh, bibirnya bergetar.
" Aku sudah jujur tentang statusmu pada mereka lalu apa itu masih kurang? " tanya Ken penuh dengan penekanan. "Kenapa aku harus menceritakan kondisimu? apa aku juga harus menceritakan kalau kau dikroyok warga, rumahmu dibakar dan bahkan kau mendapat tusukan diperutmu ! " intonasi Ken naik 1 oktaf.
" Cih... kau bilang dengan kekuasaan bisa mengubah segalanya? yaa kau benar sekali. Maka dari itu manusia dituntut untuk bekerja keras agar bisa hidup dibalik kerasnya persaingan. Aku mengatakan kebohongan pada menager restauran karna aku punya alasan. Kalau kau sudah mengerti lebih baik jangan menentang segala keputusanku.." Ken menatap Sashi dengan intens, tangannya masih memegang lengan Sashi dengan kuat.
__ADS_1
Benar Ken memiliki alasan untuk itu semua, hanya saja Ken tak pandai bermanis ria. Ken sudah jatuh hati pada Sashi, hingga ia tak mau membuat wanita yang ia cintai terlalu kelelahan untuk bekerja. Cukup wanitanya itu menikmati hasil jerih payahnya saja.
" tuan lepaskan aku. " pinta Sashi pada Ken, ia mengusap air matanya dengan tangan kirinya
Ken tidak mengindahkan permintaan Sashi, Ken semakin menatap intens netra milik wanitanya. Terkadang Ken heran, kemana Sashi yang posesif seperti diawal mereka menikah. Sashi yang tergila gila dengan Ken hingga menjebak pria itu agar menikahinya. Tapi sekarang posisinya malah berubah, Ken menggilai wanita ini sangat menggilainya.
" tuan lepaskan! " Sashi menarik tangannya, ia sedikit memberontak agar Ken melepas cekalan tangannya.
Bukannya terlepas malah Ken makin mendekatkan tubuhnya pada Sashi, Ken menurunkan sandaran duduk Sashi hingga posisinya sedikit tertidur dan dengan cepat Ken sudah berada diatas tubuh Sashi,
Hingga ciuman itu terlepas kala keduanya hampir kehabisan oxygen, Ken tak melepaskan Sashi hingga membuat nafasnya tersengal. Ken menempelkan Keningnya pada kening Sashi, wajah mereka sangat dekat hingga Sashi mampu merasakan Nafas beraroma mint suaminya.
Tiba-tiba Sashi sedikit meringis merasa nyeri pada perutnya. "tuan perutku... "
Ken yang mendengar ringisan Sashi sontak menaikkan sedikit tubuhnya.
" oh shit kenapa aku tidak bisa menahan gelora dalam diriku ini." Ken bermonolog pada dirinya sendiri.
__ADS_1
Ken tak sadar sedikit menimpa perut Sashi, dan merutuki kebodohannya.
" Maaf... " ucapnya melembut. Ken kembali ke posisi duduknya, tangannya menaikkan ujung baju Sashi dan mengelus lembut luka tusuk yang telah dijahit itu, Ken juga khawatir jika jahitannya berdarah.
" masih sakit...? " tanya Ken lagi
Bagai terhipnotis Sashi menggelengkan kepalanya, ada kehangatan yang ia rasakan,
Rasa kesalnya pada Ken seperi hilang begitu saja
" Kita harus cepat kembali ke apartemen, dan kau harus beristirahat. " Ken kembali melaju mobilnnya membelah jalanan ibukota menuju apartemen.
.....
Tbc šš
readers tau apa yg othor inginkan. hihihii....
__ADS_1