
tok..
tok..
Ken tersentak dari tidurnya mendengar seseorang mengetuk kaca jendela mobilnya, Ken masih menyenderkan punggungnya dikursi mobil, lalu tangannya menekan tombol untuk membuka kaca jendela mobil.
" urusanmu sudah selesai? kenapa lama sekali, cepat masuk! " titahnya pada sashi yg sedikit membungkuk melihat Ken dari luar kaca jendela mobil. Awalnya Ken ingin ikut kedalam restauran, namun Sashi melarangnya. Ken adalah orang yang sangat terpandang, Sashi tidak mau menjadi bahan gosip dikalangan teman-temannya karna diantar oleh Ken.
Sashi menggelengkan kepalanya. " belum selesai tuan."
" Lalu aku harus menunggu berapa lama lagi? " tanya nya dengan wajah yang datar.
Sashi menggigit bibir bawahnya. " tu tuan, bisakah kau membantuku... ?"
.
.
Ruangan Manager
Pak Rahman dan Chef Dani sudah berusaha untuk memberi pembelaan untuk Sashi kepada pak Manager. Namun keputusan manager sudah bulat,ia tetap akan memecat Sashi.
terdengar suara ketukan pintu membuat pak manager mengalihkan pandangannya ke arah pintu dan mempersilahkan masuk.
__ADS_1
Sashi membuka pintu dengan perlahan dengan menundukkan kepalanya. Pak manager geleng geleng kepala melihat Sashi yang tidak mau dipecat olehnya.
" Ada apa lagi? " tanya manager sedikit kesal.
Sashi menaikkan sedikit kepalanya, ia sekilas melihat pak Rahman dan Dani diruangan itu yang tengah duduk disofa. Lalu pandangannya kembali tertuju pada manager yang ada dihadapannya.
" pak saya membawa seseorang yang bisa menjadi saksi dan memberi bukti kalau saya memang benar dirawat dirumah sakit." ucap Sashi dengan penuh keyakinan.
" baiklah jika dia bisa memberiku bukti aku akan memberimu kesempatan kedua, tapi jika dia tidak memberi bukti kau harus bisa menerima kalau restauran ini tidak bisa menerimamu lagi. "
ucap pak manager dengan nada yang tegas.
Sashi tersenyum mendengar kesempatan kedua, lalu ia kembali memandang pak Rahman dan Dani yang juga tersenyum padanya, dengan penuh keyakinan Sashi melangkah keluar dan membuka pintu lalu ia memanggil seseorang yang mampu membuat mata pak manager terbelalak.
Ken masuk dengan gagahnya, masih tetap memasang wajahnya yang dingin dan datar. Karna memang seperti itulah Ken. Tak hanya manager bahkan pak Rahman juga terperangah dibuat Sashi, berbeda dengan Dani yang sama sekali tak terkejut.
Manager langsung berdiri menghampiri Ken, begitu juga dengan pak Rahman ia langsung berdiri untuk memberi salam hormat pada Ken. Dani berdecih mau tak mau dia juga harus mengikuti langkah pak Rahman.
" tuan Kenfredy suatu kehormatan anda bisa datang kesini. Apa anda perlu sesuatu? saya akan menyuruh pelayan untuk menyiapkannya. " tanya manager pada Ken sambil mempersilahkan Ken untuk duduk disofa tunggal yang berada ditengah.
" tidak perlu. " suara bariton yang mampu membuat Manager menelan salivanya.
Sashi hanya berdiri , wanita itu sedikit bergeser kearah Dani dan itu semua tak luput dari pandangan suaminya.
__ADS_1
Sashi sedikit berdehem untuk menghilangkan kecanggungan " ekhem.. pak manager, tuan Kenfredy adalah orang yang saya maksud tadi. "
Manager sebenarnya merasa sangat gugup dengan kedatangan Ken. "baiklah tuan, saya akan menjelaskan terlebih dahulu. "
" tidak perlu, langsung pada intinya saja. " Ken tidak menyukai hal yang bertele tele. Matanya yang tajam kembali melihat Sashi yang masih anteng berada disebelah Dani. Ken tidak menyukai pemandangan itu.
Lalu pandangannya kembali ia alihkan pada Manager restaurant
Manager kembali menelan salivanya. "Begini tuan, Sashi menjelaskan pada saya akan membawa saksi dan juga bukti bahwasanya ia selama ini dirawat dirumah sakit. Saya juga tidak menyangka kalau orang yang dia maksud adalah anda tuan. Singkatnya, bisakah anda memberi bukti surat dari rumah sakit yang menyatakan bahwa Sashi dirawat inap lebih dari seminggu, karna bagaimana pun juga Sashi juga harus mengikuti prosedur kerja disini. "
" Benar tuan, jika ada bukti Sashi akan diberi kesempatan kedua. " selah pak Rahman yang tidak menginginkan Sashi dipecat.
Ken sedikit menaikkan ujung bibirnya. Pandangannya ia tujukan pada Sashi, ia keluarkan senyum yang sedikit menyeringai dan itu mampu membuat Sashi bergedik ngeri begitu pula tatapan Ken padanya yang membuat Sashi menggigit bibir bawahnya.
" kau dirawat dirumah sakit? bukankah kau bersenang-senang dengan suamimu?? !" ucapkan Ken tanpa mengalihkan pandangan pada Sashi sambil mengeluarkan seringai licik pada wajah tampannya.
Jedduuarr... !!! bagai petir disiang bolong.
Semua mata tertuju pada Sashi, sungguh ini diluar dugaan. Sashi mengira Ken mau membantunya untuk mempertahankan pekerjaannya, tapi....
.
.
__ADS_1
hedueh babang Ken š©š²