JEBAKAN CINTA SASHI

JEBAKAN CINTA SASHI
Bab 55


__ADS_3

Sashi meletakkan bunga mawar putih tepat didepan nisan, ia duduk terpaku disebelah nisan kedua orang tuanya. Air mata berlinang hingga matanya membengkak, setelah ia mendoakan ayah bundanya rasanya Sashi enggan untuk pergi dari tempat pemakaman itu. Rasa rindu sungguh tak terbendung.


" Ayah bunda aku yakin pasti kalian akan memarahiku. maafkan aku yang tidak bisa menjadi anak seperti yang kalian harapkan." Air matanya semakin keluar dengan derasnya, Sashi memeluk batu nisan bundanya. " Sashi rinduu... sangat rinduu.. hidup Sashi penuh dengan penyesalan tanpa tau bagaimana cara menebus dosa itu, ayah bunda bantu aku.. hikss hikss.. "


Sashi merasa tak sanggup untuk berkata kata lagi, ia sudah sesegukan matanya sudah sangat bengkak. Dan suaranya sudah mulai serak. "bantu Sashi untuk menyelesaikan ini semua ayah bunda hikss.. hikss.., haruskah Sashi pergi dari hidupnya dan membiarkan dia memilih pendamping hidupnya."


Angin yang mengudara dan Langit yang sudah kelihatan mendung seolah juga merasakan kesedihan yang dialami Sashi.


Rintik rintik hujan mulai turun membasahi bumi juga membasahi tubuh yang kelihatan rapuh itu. Hujan semakin deras tapi tak sedikitpun Sashi beranjak dari duduknya, ia biarkan rasa dingin menyapu tubuhnya tak perduli ia hanya ingin melepas rindu pada orang tuanya.


Setelah sekian lama akhirnya hujan pun berhenti, Sashi yang masih duduk dan basah kuyup dikejutkan dengan lemparan tanahliat yang mengenai punggungnya, seketika ia menoleh kebelakang, sekilas ia melihat ada seseorang yang berlari menjauhinya membuat Sashi menggeleng gelengkan kepalanya.

__ADS_1


" mungkin iseng kali ya." Sashi bermonolog pada dirinya sendiri, tangannya berusaha menggapai tanah liat yang menempell dibaju belakangnya.


Pandanganya kembali tertuju pada nisan kedua orang tuanya " ayah bunda, Sashi pamit dulu ya." ia mengembangkan senyuman lalu berdiri menuju rumahnya.


Diperjalan menuju rumah terasa sangat aneh melihat ekspresi orang-orang disana saat melihat Sashi, dari awal ia menginjakkan kakinya dikampung halaman hingga saat ini, terutama kaum ibu-ibu. Sashi menyerngit heran, ada apa dengan mereka? Bahkan Sashi tidak melakukan hal hal yang merugikan mereka semua.


Sashi kembali menggelengkan kepalanya ia tepis segala pikiran buruk, toh ia juga baru hari ini sampai dan tidak melakukan apapun.


...


Beralaskan tikar Sashi merebahkan tubuhnya yang lelah, tangannya menaikkan selembar foto orangtuanya dengan Sashi yang berada ditengahnya.

__ADS_1


"ayah bunda semoga keputasanku ini adalah hal yang sangat tepat. Walaupun Sashi tidak bisa menjadi bagian dari hidupnya tapi dia akan tetap menjadi Cinta dihati Sashi." ia berbicara pada foto yang masih dipegangnya, Sashi sudah memikirkan matang matang keputusannya untuk bercerai dengan Ken.


Sashi tidak ingin kembali egois, walaupun rasanya berat ia harus tetap melepaskan pria yang sangat ia cintai itu. Sashi sudah berencana ketika balik ke ibukota dia akan langsung berbicara secara baik-baik dengan Ken soal keputusannya ini.


Tangan Sashi beralih pada kalung emas yang melingkar dilehernya, yaitu kalung pemberian orangtuanya dengan simbol matahari sebagai penghiasnya. Sashi kembali tersenyum, lalu perlahan matanya sedikit demi sedikit mulai terpejam.


Praankkk......


Sebuah batu berhasil mendarat masuk kedalam rumah tua itu, kaca berserakan dimana mana. Sashi amat terkejut matanya kembali terbuka lebar hingga kantuknya sampai hilang. Jantungnya berdetak sangat kencang.


Dari luar rumah juga sudah terdengar suara ribut-ribut, Sashi menyerngit bingung. Pintu rumah sudah di gedor dengan sangat kuat, suara itu membuat Sashi melangkah menuju pintu untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.

__ADS_1


happy reading readers,


semoga novel othor bisa diterima dengan sangat baik, thor juga mau ingetin untuk tetap tinggalkan jejak agar up nya makin kenceeenggg..... šŸ˜‚


__ADS_2