
Setelah beberapa hari masa pemulihan akhirnya Sashi diizinkan untuk pulang. Ken membukakan pintu mobil untuk Sashi agar ia bisa masuk, Sashi menyerngit heran melihat Ken membukan pintu mobil untuknya.
" Masuklah. " perintah Ken pada Sashi.
Sashi masuk kedalam mobil, Ken lalu berputar untuk masuk kedalam mobil. Keadaan masih hening, Sashi masih merasa canggung dengan sikap Ken yang semakin hari semakin berubah padanya. Sashi hanya berfikir mungkin Ken hanya kasian padanya lalu menolongnya dalam unsur kemanusiaan saja tidak lebih.
hening...
hening...
tidak ada yang memulai percakapan, hingga akhirnya Sashi memberanikan diri untuk membuka mulutnya.
" tu tuan. " Sashi masih sedikit gugup, ada rasa takut dibenaknya. ia takut Ken kembali bersikap datar padanya, apalagi mulut Ken yang benuansa pedas.
" Hmm.. " tanpa mengalihkan pandangan pada jalanan sebab ia sedang menyetir mobil. dan benar saja pria itu tetap dingin dan datar, Sashi sedikit menelan salivanya. Sashi mengurungkan niatnya untuk berbicara pada tuannya.
Merasa Sashi tak kunjung berbicara, Ken sedikit melirik Sashi ia bisa melihat kegugupan pada istrinya.
" ada yang ingin kau katakan? " tanya Ken sedikit melembut.
Sashi memalingkan pandangannya pada Ken, ditatapnya pria tampan yang duduk disebelahnya.
__ADS_1
" anu tuan, mmm.. bisakah tuan mengantarku ke restaurant HighClass?? " Sashi sedikit ragu menanyakan ini.
" kau mau makan disana? " tanya Ken.
" tidak tuan, hanya saja aku sudah lama tidak memberi kabar pada atasanku. aku hanya takut dipecat tuan. "
Ken sedikit menaikkan ujung bibirnya. " baiklah akan aku antar, setelah itu kita pulang ke apartemen kau harus banyak istirahat. "
Sashi mengangguk bahagia dan mengeluarkan senyum manisnya.
.
.
Jantung Sashi berdetak kencang menghadapi pria yang ada dihadapannya. Sashi hanya bisa menundukkan kepalanya sambil menarik narik ujung bajunya.
" sudah keputusan final, pihak restauran sudah tidak bisa menerima kamu lagi Sashi. " ucap manager yang tengah duduk dikursi kerajaannya.
" pak, maafkan saya. tapi mohon jangan pecat saya pak. " Sashi masih tetap memohon agar tidak dipecat.
" Bagaimana aku bisa percaya padamu. Surat dari rumah sakit saja kamu tidak bawa. Aku tidak bisa percaya hanya dengan ucapan."
__ADS_1
Bukannya Sashi tidak membawa, hanya saja semua itu diurus oleh Ken. Bukti nyata hanya luka tusukan yg masih diperban diperut Sashi, tapi mana mungkin wanita itu menunjukkannya pada pak manager.
Bisa saja ia meminta Ken untuk menjelaskan pada pak manager, tapi Sashi tetaplah Sashi yang tak ingin melibatkan siapapun dalam urusannya.
....
Sashi keluar dari ruangan pak manager dengan lesu matanya menarawang otaknya berputar bagaimana cara agar ia tetap bisa bekerja, sebab hutangnya saja pada Ken sangat banyak.
Saat berjalan keluar, ia memutuskan untuk menemui pak Rahman dan juga chef Dani. Sebelum ia menemui pak manager Sashi sudah menemui pak Rahman dan Dani terlebih dahulu, menceritakan apa yang terjadi lalu meminta pendapat mereka.
" bagaimana apa manager bisa memberimu kesempatan? " tanya pak Rahman
Sashi hanya menggeleng, matanya sudah berkaca kaca ingin sekali ia menumpahkan airmatanya namun tetap ia tahan.
" tenanglah, aku dan pak Rahman akan membantumu agar kamu bisa kembali bekerja. " Dani tetap memberi semangat pada Sashi.
Sashi hanya tersenyum getir meratapi nasibnya. Satu satunya jalan hanya meminta tolong pada Ken. Agar Ken mau menjelaskan bahwa ia memang benar dirawat dirumah sakit. Sashi harus memberanikan diri ia tetap bertekad untuk meminta tolong pada Ken.
...
Semoga saja Ken bisa membantunyaaa.... š
__ADS_1