
Pukul 00.18 dini hari
Sashi yang merasa gelisah hanya bisa mondar mandir tak karuan, apalagi Abian sudah dijemput oleh Adam untuk menginap diapartemennya. Awalnya Sashi tidak mengizinkan Adam membawa Abian, namun Adam membawa-bawa nama Ken maka wanita itu terpaksa membiarkan Adam membawa Abian.
Akhirnya yang ditunggu pun tiba, Ken masuk kedalam mansion. Melihat Sashi sekilas lalu mengacuhkan wanita itu yang sedari tadi telah mengkhawatirkan dirinya.
sashi terbelalak melihat wajah Ken yang begitu banyak memar, langkah kakinya refleks mengikuti pria itu dari belakang.
" tuan.... tuan... " Sashi mencoba memanggil Ken, namun pria itu sama sekali tak mengubris istrinya.
Dan sekarang Ken telah masuk kedalam kamarnya diikuti Sashi yang masih mengejarnya dari belakang. Saat Sashi telah masuk kedalam kamar dan posisinya masih berada diambang pintu, ia mencoba memanggil Ken kembali.
" tuan apa yang terjadi denganmu, kenapa wajahmu penuh luka seperti ini? " Sashi sangat khawatir pada Ken.
Ken yang masih membelakangi Sashi sontak membalikkan tubuhnya menghadap Sashi, menarik wanita itu dan dengan kuat menutup pintu kamar.
Bruak....
Sashi terkejut, saat pintu telah ditutup Ken mendorong tubuh Sashi hingga tubuhnya sudah menempel di dinding. Ken mencengkram bahu wanita itu dengan kuat seakan tak mengizinkan wanita itu lepas.
" Berani sekali kau padaku! " sentak Ken pada Sashi, ia sadar pasti Ken akan membahas masalah mereka yang tadi sore.
__ADS_1
Mata Ken layaknya mata elang yang ingin memburu mangsanya.
Sashi tak mau kelihatan lemah, ia berusaha untuk kuat seperti dulu. Walaupun dia merasa sangat sakit untuk melepaskan Ken.
" ini semua untuk kebaikan kita bersama tuan. " Sashi mati-matian menahan air matanya.
" Kebaikan apa !!! " Jawaban Sashi malah membuat suaminya itu semakin murka
" a.. a.. aku... " Sashi terbata-bata, mulutnya terasa terkunci. Ia juga merasa cengkraman Ken dibahunya semakin kuat. Menandakan pria ini sangat marah besar padanya.
Bugghhh.....
" aakkhhh.. " Sashi berteriak saat Ken meninju dinding, membuat wajah Sashi berpaling dan memejamkan matanya. ia benar-benar takut melihat Ken saat ini.
Sashi tak berani menatap mata Ken, akhirnya air mata itu tumpah.
" Lihat aku!! " sentak Ken lagi.
perlahan Sashi membuka matanya dan sedikit demi sedikit melihat sorot mata Ken yang tak bersahabat.
" Kau ingin mempermainkan aku lagi?? kau ingin bermain dengan seorang Mahanta? " tanya Ken dengan nafas yang sudah tak beraturan sebab darahnya sudah naik ke kepala.
__ADS_1
Bulir bening itu kembali jatuh dipipi Sashi. " bukan begitu tuan , aku hanya ingin melihatmu bahagia bersama wanita pilihanmu"
" bullshit!! " Ken membentak Sashi, membuat wanita itu kembali memejamkan matanya karna takut.
" Setelah kau mampu mencuri hatiku lalu dengan entengnya kau bilang ingin berpisah denganku?
kenapa kau tidak berfikir kenapa Abian aku bawa kesini !! " pertanyaan keluar dari mulut yang penuh dengan emosi.
" itu semua karena aku telah yakin padamu!! " Ken kembali berteriak dihadapan Sashi. "Aku yakin kau yang mampu menjadi ibu bagi Abian, aku yakin kau yang pantas mendampingi hidupku. "
Ken ingin mengatakan cinta. Tapi kenapa harus berteriak?? itu semua karena emosinya yang sudah tak terbendung dan tidak dipungkiri juga bahwa ia sangat takut kehilangan Sashi, pria itu ingin mempertahankan wanitanya, yang telah ia yakini sebagai cinta terakhir dalam hidupnya.
Sashi terdiam, matanya memerah dan terasa perih. Apa yang didengarnya tidak salah jika Ken telah yakin pada wanita itu. Jantung Sashi berdetak dua kali lebih kencang.
Saat mata bertemu mata, biarlah indra penglihat yang menjawab, dan ternyata benar tak ada kebohongan pada manik hitam nan tegas itu.
Sashi kembali meneteskan air matanya, tangan kanannya perlahan mengelus pelipis mata Ken yang sobek akibat pukulan Jerry.
Ken sudah tak mampu menahan gejolak dalam dirinya. Cinta, sayang, marah, emosi, semua bercampur menjadi satu didalam darah Ken saat ini.
.
__ADS_1
.
š