JEBAKAN CINTA SASHI

JEBAKAN CINTA SASHI
Bab 54


__ADS_3

Setelah menempuh 4 jam perjalanan akhirnya Sashi menginjakkan kaki dikampung halamannya tempat dimana ia dibesarkan dulu, Senyum merekah keluar dari sudut bibirnya.


Sashi menghela nafas, merindukan apapun ditempat itu. Matanya sedikit berembun mengenang hal hal indah bersama orang tuanya.


Sashi berjalan kaki untuk sampai rumahnya, disela perjalanan ia melihat beberapa ibu-ibu yang tengah duduk diwarung, ya biasa aktifitas yang dilakukan pasti bergosip ria. Sashi mengenal mereka dan ingin sekali menegur sapa.


" mereka kenapa, mandangin gue segitunya.. " Sashi bergumam pada hatinya sendiri melihat ibu-ibu yang sangat sinis melihatnya.


Bodo amat... ,itulah yang ada difikiran Sashi.


Setelah berjalan beberapa menit akhirnya sampailah ia dirumah yang terbuat dari kayu dan amat sederhana namun punya kenangan indah didalamnya. Rumah yang sudah lama ia tinggalkan. Sashi masih berdiri didepan memandangi rumah itu, tanpa terasa air matanya terjatuh.


" ayah.. bunda.. hikss hikss... "


Lalu dengan cepat ia mengusap airmata yang sudah membasahi pipi, tak sabar ia langsung mengambil kunci pintu yang ada ditas sandangnya.


Ceklek...


Pintu terbuka, hanya ada aroma debu yang ia rasakan. perlahan kakinya melangkah masuk kedalam. Otak Sashi berputar pada masa lalu yang sangat membuatnya bahagia dirumah itu, ya dirumah tua itu.


" tidak ada acara nangis menangis, bunda akan memarahiku nanti. " Sashi menyemangati dirinya sendiri, padahal ingin rasanya ia mengeluarkan semua sisa air matanya.


Tak patah semangat, walaupun merasa lelah diperjalanan Sashi langsung membersihkan rumah itu sendirian, ia tak mau kenangan indah dirumah itu tertutupi oleh debu. Sashi berjanji pada dirinya sendiri untuk menjaga rumah peninggalan orang tuanya.


...


" Sayang"

__ADS_1


"hmm.. " tanpa mengalihkan pandangannya dari berkas berkas yang menumpuk.


" aku telah memanggil disaigner terbaik untuk gaun pernikahan kita. "


Tangan Ken terhenti sejenak saat membalik berkas yang sedang ia baca. lalu Ken kembali membalik kertas yang ada dihadapannya itu untuk diperiksa semua.


" sayang, maaf aku mendadak memberi tau mu, dan aku juga tidak membicarakan hal ini padamu terlebih dahulu. " ucap Felicia sambil menatap pria yang sangat ia cintai


" lalu kenapa kau mengambil keputusan sendiri? " tanya Ken tanpa mengalihkan pandangannya


" aku ingin memberi kejutan untukmu. "


" kejutanmu sepertinya berhasil" jawab Ken dengan sangat datar


Felicia tau Ken pasti tidak suka dengan keputusan yang diambilnya, lalu felis mendekati Ken yang berada dimeja kerjanya.


Tapi ucapan manja itu tidak diindahkan oleh Ken yang masih sibuk dengan urusannya sendiri.


" sayang kau marah aku melakukan ini?? " Ken masih tak perduli hingga membuat felis kesal dan menarik berkas yang dipegang Ken.


Ken langsung menaikkan wajahnya melihat felisia yang ada didepan meja kerjanya. Felis langsung berjalan ke arah samping agar semakin dekat dengan Ken dan memeluk lelaki itu dengan erat.


" aku sangat mencintaimu Ken."


hikss


hikss

__ADS_1


" aku ingin segera menikah denganmu, aku sudah tidak tahan lagi melihatmu bersama wanita lain. aku bisa gila Ken, aku bisa gila."


Felicia melepaskan pelukannya, menangkup pipi Ken dengan kedua tangannya. " aku sangat mencintaimu, ayolah akhiri hubunganmu dengan wanita itu. kita menikah memiliki anak dan hidup dengan bahagia. bukankah kita saling mencintai?? lepaskan wanita itu sayang aku mohon. Dan untuk papi kita hadapi bersama aku yakin papi pasti akan mengerti dengan semua ini. "


Ken hanya duduk santai dikursi kebesarannya, sepertinya kali ini pria itu hanya menjadi pendengar budiman tanpa mau menjawab semua omongan Felicia.


ting


ponsel Felicia berbunyi ia langsung merogoh dari saku celananya dan melihat notifikasi pesan dan membacanya.


" sayang maaf aku harus kembali ke apartemen, direktur rumah sakit meminta beberapa laporan yang harus dikirim sekarang juga. "


" baiklah. " jawab Ken singkat


Tak lupa Felicia mencium bibir Ken sekilas lalu dengan langkah panjang ia langsung keluar dari ruangan tersebut.


Setelah Felisia keluar, Ken langsung mengusap wajahnya dengan kasar ia memijit mijit dahinya, lalu matanya tertuju pada bola air yang ada dimeja.


Ada rasa rindu yang teramat dalam muncul dari hatinya.


Ken berdiri dari duduknya menuju kamar mandi yang ada diruangannya, menghidupkan kran air diwastafel lalu mencuci bibirnya berkali kali untuk menghilangkan jejak ciuman yang diberikan felicia.


drrtt... drrttt...


ponsel Ken bergetar, dengan cepat ia menerima panggilan tersebut.


ken...

__ADS_1


__ADS_2