Kabut Asmara

Kabut Asmara
Episode 100


__ADS_3

"Mamah..." Loli berlari pagi-pagi sekali dengan sangat kencang menuju kamar kadua orang tuanya. tak henti gadis kecil tersebut terus mengetuk sampai pada akhirnya Andre dengan menggunakan boxer diatas lutut tanps mengenakan atasan pun membuka pintu tersebut.


"Hoam..." sejenak Andre menguap dengan mata yang masih menyipit, "Kenapa sayang? masih pagi. Papah sama Mamah masih tidur."


Loli langsung dengan aktifnya menerobos masuk kedalam kamar tersebut mencari keberadaan Alistie.


"Mahh..." pekik Loli memanggil.


"Dikamar mandi sayang, ada apa?" tanya Alistie menjawab.


Andre yang merasa heran dengan tindakan Loli yang terlihat tidak sabaran itupun langsung menghampirinya, "Kenapa? cerita sama Papah."


"Aku mau sama Mamah," tegas Loli menolak.


Andre mengerutkan dahinya, tidak lama setelah itupun Alistie keluar dari dalam kamar mandi dan langsung menghampiri keduanya.


"Ada apa?" tanya Alistie detar.


Loli meraih tangan sang Mama, dan menariknya agar wanita tersebut duduk tepat disebelahnya. gerak-gerik Loli benar-benar membuat Andre penasaran, bawasaanya pria tersebut sama sekali tidak diijinkan mengetahui apa yang akan Loli sampaikan.


Loli mendekatkan wajahnya pada daun telinga Alistie, kemudian berbisik. "Semalem aku liat Mang Ujang sama Bi Dar ciuman,"


Spontan pernyataan tersebut sukses membuat Andre dan Alistie membulatkan matanya secara bersamaan. meski Loli bermaksud merahasiakan hal ini dari Andre, tetapi suara anak itu terdengar cukup.lantang hingga Andre dapat mendengarnya.


"Kamu serius?" tanya Alistie seolah tidak percaya, "Loli masih kecil, emang ciuman itu apa? kaya gimana?" tanya Alistie menggerutu.


"Itu, Mang Ujang gigit bibir, Bi Dar. orang aku liat dengan mata kepala aku sendiri."


Andre dan Alistie semakin dibuat menganga begitu mendengar hal tersebut keluar dari mulut Loli kecil.


"Kamu salah liat kali," celetuk Andre tidak percaya.


"Yaudah Papah tanya ajah sama Mang Ujang. orang aku gak boong."


Alistie masih terdiam dengan raut wajah terkejut. seolah dirinya seeang dibungkam oleh ucapan Loli yang semakin hari, semakin berani.


Beberapa waktu sebelumnya, Loli terus merengek saat dirinya berada dikediaman Tian. ia terus memanggil-manggil Papah dan Mamahnya. sedangkan Jessi sendiri diketahui sedang hamil dalam usia kandungan yang masih terbilang muda, hanya terpaut jarak beberapa bulan dari Alistie. penciuman Jessi sangat sensitif, mencium aroma minyak angin saja wanita itu langsung dapat mengeluarkan seluruh isian dalam perutnya. Pada akhirnya Tian menghubungi Ujang untuk menjemput Loli.


Ujang yang saat itu serang berjaga malam pun akhirnya mengiyakan perintah dari Tian. saat dirinya mengambil kunci mobil didalam tak sengaja langkahnya dihentikan oleh Daryani.


"Kemana to, Jang?"

__ADS_1


"Aku mau jemput, Neng Loli. dia katanya nangis-nangis minta pulang, tapi Den Tian gak bisa nganterin."


Daryani mengangguk, ia menatap tajam kearah Ujang kemudian berkata. "Aku boleh ikut?"


Ujangengerutkan dahinya, "Enggak ah. entar kamu nangis lagi, aku mau kerumah Den Tian loh Dar." tolak Ujang halus.


Daryani memangkas jarak antara dirinya dan Ujang. gadis itu langsung meraih tangan Ujang dan menariknya, "Gapapa. sakit hati itu harus dihadapi, biar aku tau diri. dan bisa nerima kenyataan kalo Den Tian tuh bukan jodohku."


Ujang menelan salivanya, pemuda itupun terpaksa mengiyakan ucapan Daryani dengan syarat yang akan ia lemparkan. "Oke, tapi jangan bikin malu! gimanapun mereka itu udah suami istri. kamu jangan jatuhin harga diri kamu depan Den Tian, yang sama sekali gak pernah bales perasaan kamu."


Daryani menganggukan kepalanya dengan cepat. mereka pun pergi bersama menuju kediaman Tian untuk menjemput Loli.


Dalam perjalan keduanya terus mengisi keheningan dengan obrolan-obrolan singkat. Daryani yang notabanennya adalah gadis polos membuat keduanya terus larut dalam percakapan. meskipun isi percakapan tersebut hanyalah omong kosong mereka terlihat terbuka satu sama lain. Daryani merasa jauh lebih nyaman saat bersama Ujang dibandingkan Tian yang aktifitasnya selalu membuat Daryani insecure, (terancam)"


Mobilpun terhenti didepan rumah besar, tak kalah megah dari milik Andre. melihat hal tersebut Daryani pun berpikir.


"Iya, ya. mana mungkin Mas Tian mau sama aku, rumahnya ajah gede banget kaya gini." ucap Daryani memelas.


Ujang terkekeh, pemuda itu melirik kearah Daryani kemudian berkata. "Mau ikut kedalem atau nunggu disini?"


Daryani menggeleng pelan dengan raut wajah kikuk, "Enggak. aku disini ajah, sampean jangan lama-lama yo."


Ujang pun mengangguk, dan langsung membuka seatbelt yang masih ia kenakan. pria itu langsung keluar dari dalam mobil dan bergegas memasuki rumah besar tersebut.


Beberapa menit pun berlalu, terlihat dari dalam mobil Ujang sudah kembali membawa Loli dalam gendongannya. Loli terlihat sedang terisak dengan mata yang mulai meredup.


Perlahan dengan penuh kehati-hatian Ujang membaringkan Loli dikursi belakang mobil yang akan ia kemudikan. gadis kecil itu benar-benar terlihat kelelahan, sepertinya Loli menangis dalam waktu yang cukup panjang.


"Kasian Den Tian, istrinya kerepotan lagi hamil muda." celetuk Ujang.


Bukannya acuh, Daryani sepertinya terlihat lebih santai dan legowo mendengar hal tersebut dari mulut Ujang.


"Nanti mampir di Alun-alun ya, Jang. aku mah beli siomay disana."


Ujang tersenyum sambil menyalakan mesin mobil, "Siap bos!" sahutnya mengiyakan.


Mereka pun langsung berangkat untuk segera kembali kerumah.


Daryani melirik kearah Loli yang sepertinya sudah terlelap. mata gadis itu bahkan sampai membengkak dan membuat Daryani merasa sedikit iba. "Kasian banget ya, ditinggal keluar sehari ajah udah nangis kejer." ucap Daryani sambil memandang Loli.


"Itu tukang siomay, Dar. disini ajah ya." ucap Ujang menawarkan.

__ADS_1


Daryani pun langsung menganggukan kepalanya mengalihkan tatapan kearah Ujang.


"Kamu tunggu disini, jagain Neng Loli. biar aku yang pesen!"


Lagi-lagi Daryani hanya bisa mengiyakan ucapan Ujang. saat pemuda itu sudah keluar mobil Daryani menampar sendiri wajahnya dengan gigi yang mengerat.


"Dasar lemah, dibaikin dikit ama Ujang ajah langsung kagum. sampean iki gila Dar." gumam Daryani kesal pada dirinya sendiri.


Ujang membuka pintu mobil, dan kembali mendudukan bokongnya dikursi kemudi.


"Abis to Jang?"


"Lagi ngantri, nanti abangnya yang nganterin." sahut Ujang santai.


Daryani terdiam, matanya teralihkan kearah Loli lalu mengerjap dan berkata. "Jang kalo aku suka sama sampean, sampean mau gak nerima aku?"


Tidak terkejut, Ujang malah mendalamkan lipatan didahinya. "Aku baik, gak ada maksud apa-apa Dar. kamu jangan berlebihan."


"Ora, Jang. aku gak mikirin kesitu. justru aku tanya sama kamu. kalo aku suka karo sampean, sampean terima aku gak?" Daryani menajamkan tatapan polosnya kearah Ujang yang seprtinya enggan untuk merespon.


"Aku tau kamu pasti nganggep aku iki cuma cewe baperan,"


Ujang menggelengkan kepalanya menatap Daryani intens. "Sadar diri aku mah Dar. aku cuma supir, gak bisa bahagiain kamu. cuma bisanya kaya gini, makan dilesehan. ngajak jalan bukan di mall tapi dipasar malem."


"Aku tertarik karo sampean, akupun cuma cewe kampung. aku wong ndeso, aku katro. aku rasa kita cocok. kamu bener, mungkin kau terlalu mematok syarat kebahagiaan aku. aku iki kurang bersyukur. itu sebabnya aku tertarik sama cowo sederhana koyo sampean."


Ujang menelan salivanya, ia terpaku mendengar kalimat pujian atas dirinya dari mulut Daryani langsung. gadis desa yang kecantikannya natural lengkap dengan tingkah polosnya.


Mereka hanya saling terdiam dan larut dalam tatapan. Ujang tersenyum tipis, pria itu sepertinya juga tertarik kepada Daryani. sadar akan dirinya hanyalah seorang sopir, Ujang sama sekali enggan untuk memperdulika. perasaannya.


Cup... Ujang dan Daryani saling mempertemukan bibir mereka dengan kondisi mata yang terpejam. Daryani yang notabanenya adalah seorang gadis polos pun berpikir.


"Iki pertama kalinya aku dicium karo lanang." batin Daryani.


Ciuman yang terasa sangat kaku, Ujang sendiri tidak bertindak lebih jauh. sama halnya seperti Daryani, sepertinya pria itu baru pertama kali melakukan hal tersebut kepada seorang perempuan. mengingat penampilannya dulu selalu saja mendapat hinaan dari seorang wanita yang Ujang kagumi.


Tokk... Tokk...


Keduanya langsung tersentak dan saling menarik diri masing-masing.


"Astagfirullah, maafin aku Dar. aku hilaf, aku gak sengaja." celetuk Ujang spontan membulatkan mata.

__ADS_1


Daryani hanya tersenyum kikuk, kemudian menggaruk kepalanya yang tidak gatal lalu menyembunyikan wajahnya yang sudah merona. untuk kaca mobil tersebut tidak memperlihatkan aktifitas didalam jika dilihat dari luar, Ujang merasa bersyukur dan beruntung saat tukang siomay tiba-tiba saja mengetuk dan langsung menyadarkan dirinya dan Daryani.


__ADS_2