Kabut Asmara

Kabut Asmara
Episode 86


__ADS_3

Pintu kamar Tian pun terdorong oleh Andre, sepupu yang sudah Tian anggap sebagai kakak sendiri itupun akhirnya datang. Ya, sedari kedatangannya Tian memang sering mengajak Andre untuk berbicara. namun apa daya? istrinya saja sampai mengamuk lantaran sibuknya pekerjaan pria tersebut. tentu Tian juga berpikir dua kali untuk meminta waktu tersebut dari Andre.


Di balkon luar kamar, Tian ternyata kembali meminum-minuman keras. sebenarnya apa yang terjadi dengannya? kenapa akhor-akhir ini Tian sangat sering mengkonsumsi minuman keras?


Andre menatap tajam kearah Tian, ia mundudukan bokongnya didepan pemuda itu. sorot matanya sendiri terlihat sudah dipenuhi dengan begitu banyak pertanyaan. sejenak Andre menyingkirkan botol dihadapan Tian kemudian berkata, "Ada apa?"


Tian membalas tatapan Andre, kali ini benar-benar terlihat jelas jika Tian sedang memiliki begitu banyak masalah.


"Mau ngomong apa?" tanya Andre meriah rokok ditangan Tian dan mematikan bara dari rokok tersebut.


Tian menelan salivanya, ia terlihat takut. sungguh tingkah Tian benar-benar membuat Andre penasaran.


"Je... Jessi hamil."


Deg... ucapan Tian berhasil membuat Andre terkejut.


"Gu... gue minta, lo yang sampein ini ke bokap gue." titah Tian pada Andre.


Pantas saja beberapa waktu lalu Tian sempat tepar san menginggau menyebut-nyebut nama Jess, ternyata Jess itu adalah Jessi, kekasih Tian diluar negri.


"Tumben mau tanggung jawab, dia pacar atau cewe nakal yang lu tidurin."

__ADS_1


Tian terkekeh, tentu itu adalah kekasih Tian. sejenak ia menepuk bahu Andre kemudian berkata. "Pacar gue lah, yakali gue nikahin pel*acur! gue gak sebodoh elo."


Dasar Tian, dalam hal sedarurat ini ia masih sempat-sempatnya menyinggung masa lalu Andre yang tengah menikahi Halisa begitu saja. meskipun begitu Andre tidak mempermasalahkannya karena ia sendiri juga sudah bahagia bersama Alistie.


"Aneh banget, biasanya maenin perempuan. sekarang tiba-tiba mau tangung jawab."


Tian menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia tersenyum kaku kemudian berkata. "Tadinya sih gak niat, cuma karna dia perawan, ajah yaudah gue mau tanggung jawab."


Andre mengerutkan dahi, ternyata Tian dan dirinya nyaris sama. mungkin kekacauan ya g Tian alami selama ini adalah dampak dari rasa bersalahnya. ia cenderung melampiaskan segalanya kepada minuman keras karna terdesak oleh Jessi yang meminta pertanggung jawaban sesegera mungkin.


"Trus Daryani?"


"Daryani kenapa?"


Tian mengerutkan dahi dengan wajah datar, "Deket?"


Andre mengangguk, "Alistie bilang Daryani suka sama lo, dia sendiri yang ngomong sama istri gue gara-gara lo ngajak dia kencan di lestoran."


Tian berpikir keras, sejak kapan ia dan Daryani kencan. seketika pria itu langsung mengingat kejadian semalam dan menjelaskannya pada Andre. " Jadi gini, semalem gua laper. gua keluar cari angin sama dia, karna gua kasian dia kaya lagi moody gitu. nah pas gue makan, dia kesulitan potong daging, bukan daging deh. dia malah fokus motong piringnya, seluruh pengunjung sampe merhatiin gue sama dia. karna Daryani brisik banget, jadi gue bantuin dia potong tuh makanan."


"Jadi lo gak suka sama dia?" tanya Andre memastikan.

__ADS_1


"Ngaco lo, gue cuma cinta sama Jessi. ini bukan dunia sinetron, upik abu sama majikan. sejak kapan?" celetuk Tian.


Benar apa yang dikatakan Tian, ia tidak mungkin menyukai Daryani. dari penpilan saja mereka sudah sangat berbeda. mungkin kisah seperti itu hanya ada di novel dan dunia pertelevisian.


Brug... Andre dan Tian melirik kesatu arah yang sama. saat pintu kamar Tian terdorong dengan sangat keras.


"Ndre dibawah ada cewe yang cariin, Tian."


"Siapa?" tanya Tian spontan.


"Aku gak tau, agak bule."


Tian langsung beranjak dan berlalu dengan begitu cepat menuju lantai dasar. Astaga jangan-jangan itu Jessi. lama menunggu kepastian dari Tian pada akhirnya gadis itu memutuskan untuk menyusul sang kekasih yang telah berjanji untuk mengatakan masalah ini kepada keluarganya. bukan Tian tak ingin menepati janji, namun masalahnya ia tak kunjung menemukan waktu yang tepat untuk mengatakan segalanya kepada keluarga.


"Jes... What are you doing here?" tanya Tian gugup.


Jessi dengan wajah merona dan mata menggenang langsung mendekati Tian dan Plakk... tamparan keras tepat mendarat dipipi kirinya.


"Jess, Please don't be angry dear. why don't you just wait for me."


Jessi yang sedari tadi sudah menjatuhkan butiran air matanya pun sampai merasakan sesak yang lyar biasa dibagian dadanya. "You are crazy? until when are you going to keep me waiting or until this baby is born?"

__ADS_1


Daryani yang tidak mengerti saat mendengar perdebatan kedua pasangan itupun sampai kerepotan membuka aplikasi penerjemah untuk mengetahui apa isi dari perdebatan antar Jessi.


"Iki mereka ngomongin opo toh? aku ra ngerti." ucap Daryani memelas, tentu saja perasaannya sudah tidak karuan karna ia sendiri sudah curiga saat melihat wanita yang tidak lain Jessi itu datang dengan keadaan menangis.


__ADS_2