Kabut Asmara

Kabut Asmara
Episode 99


__ADS_3

"Dar..."


Gadis yang sedang asik bermain bersama Loli itu melirik kesumber suara.


"Eh, Kak Jessi." ucap Loli saat melihat sang Paman datang bersama istrinya.


"Gue sama Jessi mau ajak Loli keluar, tadi gua udah hubungin Andre. dan dia ngijini." ucap Tian kepada Daryani.


Gadis itu terus merapatkan bibirnya seolah enggan untuk mengeluarkan suara sepatah katapun. Daryani hanya mengangguk dnegan wajah tanpa ekspresi hingga pada akhirnya Loli pun beralih ketangan Jessi.


"Iki bocil, sama Jessi manggil Kak terus, tapi sama aku?" batin Daryani memelas.


Tian mengembangkan senyumnya menatap Daryani yang sedari tidak membalas tatapannya. "Kalo gitu kita pamit,"


Daryani pun hanya mengangguk sambil terus tertunduk. ia sama sekali tidak ingin melihat wajah Tian. Daryani merasa sangat dirinya bodoh karna terlalu mudah mengartikan kebaikan seseorang dengan rasa tertarik.


"Dar..." Ujang yang melihat keanehan pada Daryani pun berusaha menanyakan apa yang terjadi.


"Aku gapapa!" sahut Daryani spontan sambil berlalu, padahal Ujang belum melemparkan pertanyaan apapun.


Di dapur. Daryani terus meneguk air, tenggorokannya terasa tercekat. batinnya sakit tapi tidak ada bekas luka di bagian tubuhnya. semua ini selalu ia rasakan setiap kali dirinya dipertemukan kembali oleh Tian. ingin marah akan tetapi pada siapa? Tian sendiri tidak bersalah sebab semua ini terjadi karna dirinya sendiri yang begitu mudah membuka hati untuk seseorang.


"Ahhh..." Daryani merengek setelah air dalam gelas itu berhasil ia tumpahkan kedalam mulutnya, "Nyesel aku wis balik. tau begini mending aku dikampung ajah," jerit Daryani terisak.


"Lohh Dar, kamu kenapa?" tanya Ujang saat melihat Daryani dengan kondisi menyedihkan.


"Aku tuh benci sama Mas Tian, sama diri aku sendiri juga benci. aku tau Mas Tian sudah punya istri, tapi aku tetep gak terima. Mas Tian juga tau kalo aku suka sama Dia, tapi dia malah kaya sengaja gitu mau manasin aku." lirih Daryani berucap.

__ADS_1


Ujang tersenyum kikuk. benar apa yang ia pikirkan sebelumnya, karna pemuda tersebut sempat melihat Loli dibawa oleh Pamannya dan juga Jessi. Ujang melangkah mendekati Daryani, ia meraih gelas ditangan Daryani kemudian berkata. "Udah, Dar. iklasin Den Tian. semua udah jelas, cowo yang kamu sukain itu gak bales perasaan kamu. kamu lebih beruntung dari aku."


Tangisan Daryani sejenak meredam, gadis itu langsung menyeka butiran air mata yang membasahi pipinya. "Sampean kenapa, Jang?"


"Aku ditolak perempuan, karna aku jelek."


Daryani semakin menajamkan tatapannya pada Ujang, "Kenapa toh? sekarang kan sampean wis ganteng. gak dikejar lagi?"


Ujang mendudukan bokongnya tepat disebelah Daryani, pemuda itu tersenyum tipis kemudian menjawab. "Ya enggaklah, kalo aku balik lagi ngejar dia itu percuma. sedangkan aku udah tau kalo pun dia terima aku itu semua karna fisik!"


Daryani menganggukan kepalanya dengan ekprsi datar, "Gitu ya."


"Iyalah..."


"Jang..."


"Mm?"


"Kenapa, Dar?"


"Sampean jangan terlalu baik sama aku, aku iki orangnya baperan. kalo tiba-tiba aku salah prediksi lagi gimana?"


Ujang terkekeh, "Baik? aku ini cuma kebetulan mau bikin kopi. ini waktunya ngopi karna aku gantian jaga sama bapakku."


"Te... terus?" tanya Daryani dengan suara bergetar.


"Ya aku cuma kebetulan ajah liat kamu nangis, jadi yaudah sekalian kepo ajah."

__ADS_1


Daryani mengeratkan gigi, kemudian memukul Ujang dengan kemonceng. "Opo? tak kirain peduli, ternyata sampean cuma kepo! keterlaluan kamu Jang." rengek Daryani histeris.


"Aduh, enggak. bukan gitu!"


"Ya terus opo?"


Ujang menyunggingkan senyumnya kemudian menuangkan air dan memberikannya pada Daryani agar wanita itu sedikit lebih tenang. "Gini Dar, kamu jangan biasain. jangan kamu salah artikan kepedulian seseorang itu sebagai kekaguman atas diri kamu."


"Maksud sampean?" tanya Daryani lirih.


"Contohnya aku. aku baik sama kamu, bukan berarti aku suka kamu."


Daryani hanya tertunduk tanpa menjawab satu patah katapun. mungkin apa yang Ujang katakan memang benar, ia terlalu mudah mengklaim kebaikan seseorang dengan istilah menaruh perasaan.


"Aku gak mungkin suka sama kamu, kita jelas beda. aku ini dari kampung, kerjaanku cuma supir. sedangkan kamu? kamu editor Penulis terkenal, sadar dirilah aku mah sebelum naruh perasaan." celetuk Ujang.


"Sampean nyindir aku ya?"


Ujang mengerutkan dahi merasa heran atas tuduhan yang Daryani lemparkan. "Nyindir apa?"


"Aku suka sama, Mas Tian. Mas Tian orang kaya aku cuma gadis kampung, sampean nyindir aku gak sadar diri." gerutu Daryani mengerucutkan bibir.


Ujang mengibaskan tangannya dengan kepala yang menggeleng. "Demi Allah, Dar. aku gak ada maksud. itu memang prisip aku pribadi, aku gak ada maksud buat nyinggung kamu."


"Terus aku karo sampean kenapa gak mungkin? aku iki kan juga cuma gadis kampung."


Ujang menghela nafasnya kasar, "Ya jelas beda. kamu itu editor, aku ini cuma sopir. jauhlah!"

__ADS_1


"Ora! aku iki cuma tukang cek typo doang, bisa dibilang aku ini penggemar yang diistimewakan sama idolanya. aku bisa begini di bantu pamanku, asal kamu tau ya, Jang. aku iki megang leptop ajah gemeteran, untung, penulis NAC. baik, dia mau ngajarin aku."


Ujang hanya tersenyum kikuk. dalam batinnya Ujang merasa Daryani benar-benar sangat polos. wanita ini bahkan tidak pernah berpikir terlebih dahulu sebelum bicara. tanpa Daryani sadari, gadis tersebut sedang mempromosikan dirinya terhadap Ujang, agar pemuda itu tertarik padanya.


__ADS_2