
Keluarga besar dari dua belah pihak nampak sudah menyambut kedatangan Alistie, yang baru saja kembali dari rumah sakit. tak sedikit hadiah dan ucapan selamat yang Alistie terima dari pihak keluarga, rekan kerja dan juga teman-teman yang lainnya.
Meskipun bobotnya sedikit meningkat. hal itu tidak membuat kecantikan Alistie berkurang, justru setelah melahirkan beberapa bagian tubuh Alistie sedikit jauh lebih membesar dibandingkan sebelumnya. bukannya membuat Alistie terlihat buruk, wanita itu malah terlihat semakin sexy.
"Duh Mamah Muda," Celetuk Lana gemas.
Sedangkan Rena dan Diana sedang begitu asik mengganggu bayi kecil Alistie dan Andre yang sedang terlelap.
"Pengen bunting..." rengek Diana tidak tahan melihat kelucuan bayi tersebut.
"Nikah dulu baru bunting," ucap Lana membalas.
"Bunting dulu baru nikah."
Semua orang menatap kearah Diana dengan sorot mata yang tajam.
"Kan kalo bunting duluan itu siap gak siap pasti dinikahin, hehe..." celetuk Diana sambil terkekeh.
Ada-ada saja memang tingkah kekonyolan teman-teman Alistie tersebut. ucapan mereka selalu sukses membuat semua orang terkekeh. meskipun mereka tahu ucapan tersebut hanyalah candaan semata.
"Eh si Rara apa kabar? dia masih idup gak sih?" tanya Lana spontan.
"Mati kayanya tuh orang!"
"Diazab tuhan kayanya!"
"Kasian banget ya, pengantin baru bukannya enak-enakan dikamar. malah masuk penjara."
Alistie hanya tersenyum getir. sudah biasa baginya mendengar kata-kata makian untuk Rara dari teman-temannya. sesuatu hal yang dilakukan Rara memang sangat licik dan keterlaluan. mereka semua bahkan sangat membenci dan enggan memaafkan wanita yang sedang mendekam dipenjara tersebut.
"Gue tiap ke mall selalu liat Farhan!" celetuk Lana.
__ADS_1
"Ngapain dia?"
"Jadi SPG kali." sahut Rena spontan.
Alistie hanya bisa menggelengkan kepalanya mendengar celotehan dari teman-temannya tersebut. sangat menyenangkan mempunyai beberapa teman gesrek dan tidak tahu malu seperti mereka, meskipun kadang ucapan salah satunya terdengar sangat menyakitkan. prinsip mereka adalah, "jangan baper! kalo baperan kita gak usah temenan!" ungkapan itu selalu mereka tanamkan didalam benak masing-masing.
"Mamah..." Loli memanggil dengan suara terendah dari balik pintu. gadis itu bahkan hanya berani mengintip dari awal kepulangan Alistie.
Spontan semua orang disana melirik kearah Loli.
"Anak tiri lo ya?" tanya Rena.
Alistie menyunggingkan senyum, kemudian mengalihkan pandangan keraha Loli. "Sini sayang, masuk. kamu gak mau liat adik kamu?" ucap Alistie penuh kelembutan.
Dengan bibir yang mengerucut. Loli kecil pun akhirnya menampakan diri, ia memasuki kamar sang Mama dengan langkah pelan sambil tersipu.
"Kamu udah makan?" tanya Alistie perhatian.
Alistie terkekeh dan langsung mengelus pucuk kepala gadis itu, "Masa sih? buktinya Mamah sayang sama Loli sekarang."
"Kata Dicko, kalo apa-apa pasti Loli gak kebagian sama adik bayi. buktinya tiap malem Adik bayi tidur sama Mamah terus. sedangkan Loli selalu sendirian karna Papah bilang kalo tiap malem Mamah sibuk!" rengek Loli memelas.
Astaga. Lana, Rena, dan Diana tak kuasa menahannya lagi. mereka semua langsung memecah tawa saat mendengar keluhan dari gadis tersebut.
"Iyalah, Mamah kamu tiap Malem sibuk bikin adik bayi sama Ayah kamu." celetuk Rena.
"Kenapa Mamah gak ajak Loli? Loli juga mau ikut bikin adik bayi," ucap Loli dengan bibir yang bergetar dan mata yang menggenang.
Tidak hanya licik, Loli benar-benar terlihat polos dan menyedihkan. meskipun begitu tingkahnya sukses menjadi bahan hiburna untuk teman-teman Alistie. bukannya senang, Loli malah semakin merasa dirinya diduakan dengan kehadiran bayi yang baru berumur beberapa hari tesebut.
"Eh gila, anak gue nangis. dasar kompor!" gerutu Alistie.
__ADS_1
Loli memecahkan tangisannya. benar saja, anak-anak diusia tersebut sangat rentan. padahal Andre dan Alistie sendiri sudah sepakat tidak akan membeda-bedakan kasih sayang pada anak-anaknya.
"Jangan nangis sayang, nanti adik bayinya ikutan nangis. kamu main sama Papah gih diluar." ucap Alistie menenangkan.
"Gak mau! aku mau sama Mamah! Mamah gak boleh pegang-pegang adik bayi. Mamah cuma punya aku!" jerit Loli histeris.
"Eh... eh.. eh, kok nangisnya jadi ngegas!" celetuk Lana.
"Banyak bensin kamu ya, Li." ledek Rena.
"Udah jangan nangis. nanti Papah, sama Mamah kamu gak sayang lagi." ucap Diana mencoba membantu menenangkan.
Sia-sia saja. bukannya membaik, Loli malah semakin memecah tangisannya histeris. hingga Andre yang berada dilantai dasar pun datang menghampiri mereka.
"Kenapa? kok dia nangis?" tanya Andre heran.
"Istrilo gak boleh pegang-pegang bayinya, dia iri takut gak disayang." sahut Rena.
Andre menghembuskan nafas panjang. ia langsung meraih Loli dan mencoba menenangkannya. "Kita main diluar yu sama Papah."
"Gak mau! aku gak mau jauh dari Mamah. tar Mamah pegang adik bayi, terus Mamah kadi gak sayang sama Loli."
Sulit bagi mereka menenangkan Loli. bawasaanya Loli sangat menyayangi Alistie dan merasa posisinya sebagai anak benar-benar terancam.
"Udah, udah. nanti Sean bangun. jangan dipaksa, biar dia disini sama aku."
"Tapi Al..."
"Aku gapapa, kamu kebawah ajah temenin Papah sama Tian." titah Alistie tersenyum tipis.
Andre pun mengiyakan dan meninggalkan sang istri kelantai dasar. Alistie berpikir jika Loli dijauhkan dari dirinya sekarang itu hnaya aakn menambah kecemburuan anak itu saja. Loli sendiri benar-benar berpikir jika dirinya adalah anak Alistie, lahir dari perut Alistie. sepertinya Loli sudah melupakan Halisa. bawasaanya selama ini anak itu tidak pernah menanyakan dimana keberadaan ibu kandungnya.
__ADS_1