Kabut Asmara

Kabut Asmara
Episode 60


__ADS_3

"Ndree..."


Pria jangkung itu melirik kearah sang istri, "Apa sayang?"


"Jadi menurut kamu gimana?" tanya Alistie.


Andre berpikir keras, mendengar cerita dari sang istri saja cukup membuatnya merinding. Andre tidak bisa membayangkan bagaimana jika dirinya ada di posisi Loli. tentu itu sangatlah menyakitkan, terlebih Loli sendiri tidak mengetahui apa kesalahanny sehingga semua orang menjauhinya.


"Kamu mah diem terus." gerutu Alistie mengerucutkan bibir.


Andre tersenyum tipis, ia kembali merapikan kemejanya kemudian berkata. "Aku sih setuju ajah, kasian juga, Loli."


Alistie memancarkan senyum yang berbinar, ia beranjak dan langsung memeluk tubuh sang suami dari belakang. "Aku sayang kamu," ucap Alistie menempelkan wajahnya di punggung sang suami.


Andre langsung memalingkan tubuh, ia menarik Alistie agar semakin dekat dengannya kemudian berkata, "Aku lebih sayang kamu." kemudian mengecup pucuk kepala sang istri dan mengelus kepalanya pelan.


"Aku takut Loli trauma."


Andre memandang lekat dua bola mata indah Alistie, "Selama kamu ada sama dia, aku yakin Loli gak akan terpuruk."


Bagi Alistie ucapan Andre selalu saja menbuat dirinya tenang, kehangatan dan kelembutan sang suami sukses membuat Alistie benar-benar tergila-gila pada Andre. Jujur awalnya Alistie sendiri sedikit sulit menerima pahitnya komentar masyarakat sekitar perihal dirinya yang bersedia dipersunting oleh seorang Duda. tapi hal itu tidak berangsur lama, cinta dan kasih sayang Andre berhasil membuatnya takut dan bahkan tidak ingin ditinggalkan walau hanya sedetik.


"Pulang cepet ya," ucap Aliastie sambil memberikan tas kerja Andre.


"Kenapa?"


"Ya gapapa, aku mau waktu kamu lebih banyak lagi buat aku."


Andre tersenyum tipis, ia mengecup singkat bibir Alistie kemudian setelah itu memasuki mobilnya untuk segera pergi ke kantor.

__ADS_1


Mobil mesin sudah Andre nyalakan, tak hentinya Alistie memancarkan senyum kebahagiaan. senyum yang selalu Andre rindukan saat dirinya tidak ada disamping Alistie.


"Pulang cepet!" pekik Alistie sambil melambaikan tangan.


Semua masalah memang terus saja berdatangan, tapi mereka selalu bisa menyelesaikan masalah tersebut dengan begitu mudah. akibat masalah tersebut Andre dan Alistie jadi semakin lengket. mereka cenderung saling mengkhawatirkan.


"Tante..."


Alistie melirik kesumber suara, dahinya mengerut dengan bibir yang mengerucut sebal. "Kamu..."


Pemuda kecil yang sebelumnya mengatakan jika Loli menangis dan tidak ingin bersekolah akibat tidak memiliki seorang teman.


"Aku mau main."


Alistie bersimpuh, ia menatap sebuah kotak makanan yang pemuda kecil itu bawa kemudian berkata. "Main sama siapa?"


"Sama, Loli." sahut anak itu mengembangkan senyum.


"Nanti orang tua kamu marah." celetuk Alistie.


Anak itu menggelengkan kepala, dengan bibirnya yang masih mengerucut ia berkata. "Aku udah ijin sama Mamah, dan Mamah udah gak larang aku buat main sama, Loli."


Alistie tertawa kecil, entah mengapa ia merasa jika sikapnya sekarang seperti seorang ibu yang menerapkan banyak aturan terhadap Loli.


"Kenapa Tante kenawa?"


"Nama kamu siapa?"


"Dicko." ucap anak laki-laki tersebut polos.

__ADS_1


Alistie mengangguk, ia mendirikan tubuhnya kemudian meraih tangan kecil Dicko. "Oke deh, tapi kalo Mamah kamu marah Tante gak tanggung jawab ya."


Dicko mengangguk, ia menyeret tas kecil yang dilengkapi dengan roda. sungguh pemuda cilik ini sangat menggemaskan, Alistie bahkan langsung mengajak Dicko untuk bertemu dengan Loli.


"Aduh mana gak ada Bi As." batin Alistie.


Dicko melirik kesebuah ruangan, yang dimana terdapat Loli yang sedang bermain disana. dengan sangat spontan pemuda kecil itu menghapiri Loli.


"Loli..."


Loli yang melihatnya pun keheranan, dan sedikit takut. "Mamah..." pekik gadis tersebut memanggil Alistie.


"Lagi bikin minum, kamu main dulu ajah sama Dicko." sahut Alistie dari dapur.


Dicko kembali mengembangkan senyumnya, pria kecil tersebut langsung menyodorkan makanan kepada Loli. yang sudah sang ibunda siapkan. "Ini buat kamu."


Loli masih keheranan, ia hanya terdiam dengan raut wajah dingin.


"Maafin aku ya, aku mau kok jadi temen kamu."


Ya, beberapa waktu lalu Loli sempat mengajak Dicko untuk bertemenan. karna Loli merasa pemuda kecil itu terus memperhatikannya, seperti seseorang yang ingin mengenal. namun naasnya, saat Loli menawarkan pertemanan Dicko melah menolak dengan alasan jika sang ibu melarangnya untuk bermain dengan Loli.


"Buat apa kamu kesini? Mamah kamu nanti marah."


Dicko menggelengkan kepalanya, "Enggak, Mamah aku udh ngijini kita main bareng."


"Beneran? nanti kamu dimarahin."


Dicko dengan sangat aktifnya langsung duduk bersama dengan Loli. "Aku mau main sama kamu, Mamah aku udah ngijinin kita buat temenan. Ini dari Mamah aku buat kamu."

__ADS_1


Astaga, Alistie mengintip dari balik tembok. sungguh ini sangat menggelikan. sepasang anak kecil yang saling berbicara dengan penuh keseriusan. anak yang tidak mendapat restu dari sang ibu untuk menjalin hubungan dengan seorang gadis yang ia inginkan. seketika insting kejiwaan novelis Alistie bekerja, ia langsung mendapat inspirasi meskipun ceeita tersebut sudah sangat lumrah.


__ADS_2