
Alistie menggerakan tubuhnya perlahan. menangkap cahaya, ia sendiri tidak mengetahui dimanan keberadaanya sekarang. ia hanya merasakan jika tubuhnya benar-benar terasa lemah, dan perutnya terasa ngilu.
Alistie melirik kesisi kirinya, ia mendapati sesosok Andre yang sedang menatap sambil menggengam tangannya. Alistie mengerjap, kemudian berucap. "Aku dimana Ndree..." tanya Alistie lemah.
Andre tersenyum tipis, ia mengeratkan genggaman tangan tersebut dan menjawab. "Kita di rumah sakit."
Bibir Alistie bergetar, ia menyentuh perut ratanya dengan tatapan yang terus mengarah pada sang suami. "Ndre anak kita?"
Cup... kecupan singkat Andre daratkan didahi sang empu, "Istirahat, jangan banyak gerak."
Mata Alistie mengembun, ia mencengkram kemeja yang suami kenakan dan kembali bertanya. "Ndre jawab, Anak kita gimana?"
Tidak ada kata yang keluar dari mulut Andre, pria itu hanya terus mengelus kepala Alistie.
"Ndre..." Air mata Alistie mulai menetes, "Jawab kenapa kamu diem ajah!"
Andre mengcium punggung tangan Alistie, ia menempelkan tangan tersebut kewajahnya sendiri kemudian berkata. "Maafin aku,"
Deg... dari ucapan Andre, Alistie sudah bisa mengetahui dengan jelas. jika bayi dalam kandungannya tidak tertolong.
__ADS_1
"Aku gak bisa jagain kamu sama calon bayi kita."
Tangis Alistie pecah, ia menjerit sejadi-jadinya. "Enggak, itu gak mungkin. bayi kita baik-baik ajah."
Andre benar-benar tidak tega, Alistie sendiri terlihat sangat terpukul mendengar kenyataan pahit tersebut. tak hentinya Andre mengutuk diri karna tak sanggup menjaga istri dan calon bayinya.
"Bayi kita, Ndre..." ucap Alistie histeris.
Meskipun begitu Andre tetap terlihat tegar, ia tidak menunjukan kesedihannya sama sekali. pria jangkung yang berstatuskan suami Alistie tersebut menyeka perlahan air mata yang membasahi wajah Alistie. Andre memeluk dan memberikan kehangatan sekaligus ketengan untuk Alistie.
"Aku gak suka kamu nangis,"
Dalam keadaan yang maaih terisak Alistie menjawab, "Kita kehilangan calon anak, wajah kalo aku begini."
Alistie seketika menghentikan tangisannya, ia menatap lekat wajah sang suami. "Bohong, aku tau kamu sedih. kali ini kamu gak bisa nyembunyiin itu dari aku."
Bola mata Andre terus melirik kekiri dan kekakan, memang ucapan Alistie itu benar. tapi ia tidak ingin larut dalam kesedihan tersebut.
"Aku serius, aku baik-baik ajah. karna calom bayinya gugur kamu harus dihukum."
__ADS_1
Alistie mengerucutkan bibir dengan sorot mata yang berbinar.
"Kamu harus lembur, sampe kamu hamil lagi." celetuk Andre santai dengan raut wajah datar.
Alistie benar-benar terlihat menggemaskan, ia hanya mengangguk pasrah dan langsung memeluk Andre dengan begitu erat.
"Jangan sedih lagi Al, aku gak bisa liat kamu nangis." ucap Andre memohon.
Alistie mendongakan wajahnya, dengan mata yang berkaca wanita itu berkata. "Ndre aku mau Rara masuk penjara."
Andre memiringkan senyumnya, jauh dari sebelum Alistie meminta hal tersebut Andre sudah membuat tuntutan laporan terhadap seseorang yang membuat dirinya dan Alistie kehilangan bayi. dengan bermodalkan CCTV dari caffe tentu itu bukan hal yang sulit bagi Andre untuk membuat Rara membusuk dipenjara.
Ditempat lain, Farhan mendorong sang istri kesudut ranjang. pria tersebut mencengkram bahu sang istri dengat tatapan kejam mematikan, "Jawab pertanyaan aku, apa yang dimaksud Alistie soal kamu pencuri."
Rara mendorong Farhan kasar hingga tubuh pria tersebut terdorong. ia mengeratkan giginya jengkel kemudian berkata. "Kenapa? semua ucapan Alistie bener! kita udah ngejalin hubungan dari semenjak kamu masih sama dia. dan aku gak terima kamu pergi gitu ajah lebih memilih Alistie dari pafa aku!" pekik Rara dengan emosi yang meluap.
Plakkk... tamparan keras Farhan daratkan, "Jangan bilang pernikahan kita semua ini adalah rencana kamu!"
"Kalo iya kenapa? biaya tebusan dan pernikahan semua itu duit Aliatie," Sejenak Rara menajamkan tatapannya pada sang suami. "Dan satu hal yang harus kamu tau, aku orang yang udah nyerang Halisa sampe dia gak sadarkan diri. dan terakhir aku salin video scandal kalian biar Halisa dipenjara." Rara terkekeh, ia tertawa lepas penuh kemenangan. "Aku juga dengan sengaja nyiramin air keras kewajah, Halisa. biar dia cacat, soal kamu masuk penjara itu udah rencana aku. pada akhirnya aku datengin keluarga kamu buat kasih bantuan biaya tebusan. dan kita bisa menikah."
__ADS_1
"Setan!" Farhan mendorong dan menampar Rara berulang kali, tetapi wanita tersebut tidak menjerit merasakan sakit. ia hanya terus tertawa lepas tanpa beban. "Perempuan gila!"
Ya, Farhan awalnya memang ragu untuk menikah dengan Rara. meskipun keduanya pernah menjalin hubungan gelap, akan tetapi Farhan melihat kebaikan Rara yang sudah membujuk keluarga untuk mengeluarkan pria tersebut dari penjara. pada Akhirnya Farhan pun menikahinya.