
Halisa terus menutup wajahnya dengan sebuah selendang hitam yang pernah Alistie berikan beberapa waktu lalu. wanita itu terus tertunduk malu dihadapan Andre setelah mendapat pertanyaan perihal siapa ayah kandung Loli.
Andre berdecak kesal, pria itu terus memijat pelipisnya dengan prustasi. Bagaimana tidak? jawaban yang Halisa berikan sama sekali tidak membuat batin Andre puas. Andre terus mengutuk dirinya yang selalui dirundung rasa penyesala. betapa bodohnya Andre karna sudah mempertanggung jawabkan perbuatan nakalnya pada seorang wanita yang sering menjual tubuhnya untuk mendapatkan uang.
"To... tolong jaga, Loli." ucap Halisa dengan bibir bergetar.
Andre memiringkan senyum licik, seolah jengah melihat tingkah Halisa. bagaimana mungkin wanita itu meminta hal tersebut pada Andre? sedangkan dulu Halisa tidak pernah memperdulikan Loli dan malah meninggalkan mereka akibat rasa hausnya akan sentuhan laki-laki dan kekayaan.
Tidak mendapat hasil, Andre pun pergi begitu saja meninggalkan kantor polisi tersebut. meskipun kenyataannya hubungan Andre dan Loli sudah membaik. hal itu sama sekali tidak menutupi rasa penasaran Andre untuk mencari tahu siapa Ayah dari Loli.
Setelah bertanya pada Halisa, Halisa sendiri tidak tahu siapa Ayah dari anak itu. mengingat pria yang pernah tidur dengannya bukan satu atau dua orang.
Bi As, setelah seminggu lebaran berlalu ia langsung datang kembali kerumah Tuannya. terlebih setelah Bi As tahu akan kehamilan Alistie dirinya merasa memiliki tanggung jawab lebih. Bi As merasa prihatin atas Alistie yang pernah mengalami keguguran, maka dari itu ia berinisiatif untuk benar-benar menjaga Alistie dengan ketat. tentu saja hal itu juga atas perintah Andre.
"Bi,"
Bi Astuti memutar badannya mengahad kearah Alistie, "Iya Neng?"
"Andre kemana yah?" tanya Alistie mengerucutkan bibir.
Entah mengapa semenjak ia tahu jika didalam perutnya sedang ada janin yang tumbuh Alistie snagat tidak ingin berada jauh dari sang suami. sedangkan Andre sendiri beberapa hari ini sering mengalami morning sickness.
"Kayanya beli minyak angin deh, Neng yang hamil pak Andre mual-mual." sahut Bi As diselingi tawa kecil.
"Ujang sama Mang Udin kapan pulang katanya Bi?"
__ADS_1
"Besok atau gak lusa, Neng. arus balik mudik, biasa mereka mau ngindarin macet."
Alistie menganggukan kepalanya, sungguh ia sangat merasa bosan. Andre sama sekali tidak membiarkan Alistie berkatifitas. Alistie ingin berbelaja ke mall saja itu harus dalam pengawasannya.
"Aku pulang..."
Alisti melirik kearah sang suami yang baru saja kembali, "Kamu kemana ajah si? beli obat angin kok lama banget."
Cup... Andre mendaratkan ciuman dipipi sang istri, kemudian meletakan belanjaanya tepat dihadapan Bi As. "Aku mampir beli buah, tadi dilampu merah liat tukang rujak bawaanya pengen ngiler."
"Itu ngidam namanya, Pak Andre." celetuk Bi As spontan.
Andre melirik kearah wanita paruh baya tersebut, "Emang bisa? Alistie yang hamil masa saya yang ngidam, Bi."
Andre terkekeh, ia kembali mendekatkan diri pada Alistie kemudian mengecup bibirnya singkat.
"Malu... ada Bi As!" geritu Alistie memincingkan mata.
"Bibi udah biasa, Neng. pas belum hamil ajah Pak Andre nempel terus, apalagi sekarang."
"Tuh denger, Bi As ajah pengertian." ucap Andre menyeringai.
Andre membaringkan tubuhnya dengan santai dan menggunakan paha Alistie sebagai alas bantal. "Jangan cape-cape, mau makan, mau mandi, mau ngapa-ngapain pokonya harus sama aku."
Astaga, kesiagaan Andre sudah melebihi batas wajar. mungkin bisa dikatakan ia talut jika kejadian dimasa lalu terulang kembali. sampai saat ini pun Andre masih merasa bersalah karna menganggap dirinya tidak becus untuk menjaga istrinya.
__ADS_1
"Tuh Bi, Andre lebay ya."
Bi As terus menertawakan tingkah manis sang majikan. wanita paruh baya itu mendekati Andre dan Alistie dengan membawa nampan dan sebuah pisau untuk mrngupas buah, "Bibi maklumi. kalo ini Bibi ada dipihak Pak Andre. demi kesehatan Ibu dan calon debay."
Andre terus memandangi wajah cantik Alistie, pria itu bahkan menyentuh hidung kecil istrinya kemudian berkata. "Kamu gak mau apa gitu?"
Alistie menggelengkan kepala dengan raut wajah datar. "Aku biasa ajah, cuma agak bosen ajah.
"Udah Bibi bilang, Pak Andre yang ngidam. buktinya tiap hari Pak Andre masuk angin."
"Iya sih, aku pengen makan yang asem-asem. kayanya seger gitu." ucap Andre.
"Mau Bibi buatin sambal gula merahnya?" tanya Bi As menawarkan.
"Boleh tuh, kayanya enak. pedes asem gitu."
Tidak masalah waktu untuk berlibur kejepang tertunda lama. kenyataanya tanpa berlibur pun Andre sudah merasa sangat bahagia. ia sangat menantikan kelahiran bayi didalam perut Alistie. terlebih Andre sendiri merasakan bagaimana repotnya menjalani morning sickness. bagi Andre inilah proses menjadi seorang Ayah sesungguhnya.
"Pah, Main Yuk."
Bi As dan Alistie langsung saling melirik satu sama lain. tentu Bi As tahu apa yang terjadi dirumah itu selama dirinya pergi, karna Alistie sempat bercerita
"Boleh, tapi bentar ya. Papah mau makan ini dulu."
Binar senyum Loli terpancar, begitupun dengan Bi As dan Alistie. mereka pikir Andre akan menolak, ternyata tidak. sepertinya Andre benar-benar sudah bisa menerima kenyataan meskipun batinnya masih menyimpan sedikit rasa penasaran perihal ayah kandung Loli.
__ADS_1