
Lelah memghadapi sikap Andre hang terus mengabaikan Loli. seharian penuh Alistie memanjakan gadis itu, membawanya pergi berbrlanja dan makan di restauran. entah sampai kapan hal ini akan berlanjut, Alistie benar-benar sudah tidak tahu lagai bagaimana cara meyakinkan sang suami agar memahami jika anak kecil ini tidak ada sangkut pautnya dengan rasa kecewa dan kesalnya.
Alistie terus memijat pelipisnya. meskipun ia selalu mengatakan pada Loli jika Alistie baik-baik saja saat gadis kecil tersebut menanyakan keadaanya.
"Loli mau apa lagi?" tanya Alistie penuh kelembutan.
"Udah Mah. Loli mah pulang ajah," sahut Loli dengan mulut yang padat.
Alistie menghembuskan nafas pelan, ia melirik kearah arlojinya sejenak kemudian berkata. "Yaudah, nanti kita mampir di toko obat sebentar ya."
"Mamah kenapa? sakit?"
"Mamah gapapa."
Keduanya pun pergi dari tempat tersebut untuk membawa Loli pulang. pikiran Alistie sangatlah kacau, ia ingin menangis namun air matanya tak kunjung keluar. Astaga wanita itu tak habis pikir akan suaminya, ia sampai tidak bisa mengenali sipat Andre yang sekarang. dimana sosok Andre yang baik, perhatian dan penuh kelembuatan? "Astaga, Ndre..." batin Alistie merengek.
Untuk kali pertama Alistie sama sekali menyesal saat dirinya terjebak kemacetan diJakarta. Alistie berpikir, syukurlah hal ini terjadi karna akan memperlama waktunya untuk sampai dirumah. dengan begitu ia bisa langsung menidurkan Loli tanpa harus gadis itu melihat apa yang akan Loli dan Andre lakukan setelah mereka berada dirumah.
Ponsel Alistie saat itu tak hentinya berdering, sesekali Alistie melirik meskipun pada akhirnya mengabaikan ponsel tersebut. cukup lama mereka terjebak kemacetan sebab ada beberapa mobil yang terlibat kecelakan yang membuat kondisi jalan menjadi padat merayap.
"Loli tidur ajah, kayanya macetnya masih lama."
Loli menganggukan kepalanya perlahan, mata gadis itu memang sudah terlihat redup.
Ditempat lain, saat Andre tak hentinya menghubungi Alistie. wanita itu sudah pergi seharian dan terus saja mengabaikan panggilan Andre, terlebih Alistie pergi dengan keadaan marah.
"Sial!" umpat Andre melempar ponselnya keatas ranjang.
Andre mengacak rambut hitamnya, sungguh ia sangat gelisah. perasaannya menjadi tidak karuan. Andre meraih segelas air yang berada diatas nakas dan meneguknya sampai habis.
__ADS_1
"Ndre..."
Andre berdecak, ia kenal suara itu. itu adalah Tian sepupu kurang ngajarnya yang sudah tidak tinggal disini lagi.
"Sepi banget nih rumah." gumam Tian sambil mengabsen setiap sudut ruangan.
"Kenapa?" pekik Andre dari lantai atas.
"Pada kemana?"
"Gak tau!"
Tian langsung mengerutkan dahinya, ia menajamkan tatapannya kearah Andre saat suara pria tersebut terdengar ketus dan berbeda.
"Kenapa lo?" tanya Tian.
"Alistie marah, dia pergi udah seharian dan sampe sekarang belum pulang."
Tian menahan senyum seolah sedang meledek, "Loli kemana?"
"Dibawa dia!"
Tian membuka lemari besar yang menyimpan beberapa minuman beralkohol. tidak lupa pria itu meraih gelas dan meletakannya dihadapan Andre.
"Ini yang tamu lo atau gue?" celetuk Tian.
Andre hanya terdiam, raut wajahnya benar-benar terlihat sangat prustasi.
"Sebenarnya ada apa? lo pasti ada masalah."
__ADS_1
Andre memutar matanya dengan wajah memelas. sejenak ia menghembuskan nafas untuk sedikit lebih relix kemudian pria tersebut menatap Tian dan berkata, "Alistie marah."
"Kenapa? lebay banget istri lo dikit-dikit marah."
Andre kembali meneguk anggur dihadapannya, "Itu bukan salah dia, ini semua karna gue."
"Cerita jangan setengah-tengah biar gue gak salah paham," tegas Tian penuh penekanan.
"Alistie ngerasa gue terus acuhin Loli."
Tian semakin mendalamkan lipatan didahinya dan mempertajam tatapannya terhadap Andre, "Terus lo sendiri?"
"Iyah,"
"Kenapa?"
"Karna setiap kali gua liat Loli, gua ngerasa diri gue bodoh kenapa bisa-bisanya gue mau nikahin Halisa."
Tian mengerti, sebelumnya ia sendiri memamg sudah tau perihal Loli bukan anak kandung Andre. itu sebabnya jika ada kesempatan Tian selalu menyinggung Andre dengan nada meledek.
"Gua bisa ajah nerima Loli, tapi gua butub waktu. penyesalan itu datang setiap kali gua liat anak itu, gua sayang sama, Loli. gua juga bingung kenapa gua bisa kaya gini sedangkan waktu yang gua habisin bareng Loli tuh gak sebentar. gua kecewa, gua marah, gua ngerasa dibohongin."
Tian menghela nafas kasar kemudian menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Gue juga bingung sih, gue gak pernah ngalamin ada di posisi lo. tapi Loli itu gak salah, coba deh lu kasih penjelasan ke Alistie. atau enggak lo cari tau ajah siapa bapaknya biar semuanya clear."
"Gue udah coba jelasin sama Alistie, tapi Alistie gak mau tau! dia terus maksa gue buat nerima tanpa mikirin gimana perasaan gue."
Tian hanya terdiam, dalam hal ini ia sendiri berada dalam posisi yang sulit. ingin berpihak pada Andre tetapi Tian merada iba akan apa yang sudah Andre alami. tentu menyakitkan membersarkan anak dan ternyata itu adalah orang lain. disisi lain Alistie juga benar, Loli tidak bersalah. semua akan baik-baik saja jika mereka saling menerima kenyataan satu sama lain.
Mudah bagi Alistie, tapi tidak untuk Andre. tetap saja Andre merasa dirinya masih dijadikan badut lolucon oleh Halisa karna sampai sekarang pria itu masih hidup dengan anak yang entah siapa Ayahnya.
__ADS_1