
Dua pekan berlalu, dengan berat hati Daryani harus kembali ke kediaman Andre. bagaimana tidak? setiap harinya Alistie terus menggerutu dan mengeluh akan kebosanan. Alistie ingin menyelesaikan pekerjaan yang srbrlumnya telah tertunda, tentu untuk mendapat ijin dari Andre saja butuh perjuangan selama berhari-hari.
Masa bodo tetang dirinya yang egois, dalam hal ini Andre sama sekali tidak ingin mengalah. karna menurutnya kesehatan Alistie dan calon bayi mereka adalah hal terpenting. Namun ternyata Alistie juga enggan menurunkan egonya, setiap hari mereka lagi-lagi tidak saling bicara. meski pada akhirnya keduanya sepakat, Alistie hanya dibolehkan menulis selama 2 jam dalam sehari.
"Assalamualaikum..." pekik Daryani mengetuk pintu, "Iki pada kemana toh?"
Lama, dan tak kunjung dibukakan pintu oleh seseorang dari dalam. Daryani memilih duduk untuk merilexan dirinya, matanya terus beputar mengabsen setiap titik taman di halaman.
"Astaga, mung sawetara menit aku wis inget karo Mas Tian." gumam Daryani memelas.
Daryani menghembuskan nafas pelan, bagi Daryani tidak mudah melupakan seseorang yang pernah mengguncang hatinya. gadis itu akan selalu mengingat pria tersebut sampai pada akhirnya dia menemukan pemuda lain yang akan melelehkan hatinya.
"Dar, Maaf. Bi As lagi masak, aku abis buang air."
Daryani memalingkan wajahnya melirik kesumber suara, "Sampean sopo?" tanya Daryani dengan dahi yang mengerut.
"Aku Ujang, pangling ya..."
Daryani menganga dengan mata yang membelalak. gadis itu beranjak dan langsung mendekati Ujang dengan sorot mata mengintimidasi.
"Sampean Ujang? ora! sampean kok jadi ganteng? pake susuk toh? opo oprasi plastik?" tanya Daryani heran mencecar.
Sungguh, Daryani benar-benar polos. ia bahkan tidak segan menyentuh hidung, pipi, dan bahkan bibir Ujang yang sudah tidak terlihat tonggos.
__ADS_1
"Yallah Dar, bukan muhrim!" gerutu Ujang menjauh.
"Iki loh, aku heran! kenapa muka sampean bisa alus gitu? gigimu kemana to Jang?"
Minggu lalu Ujang memang telah mengubah drastis penampilannya. atas dorongan Andre Ujang pun mengiyakan hal tersebut, memotong gigi dan menjalani treatmen di klinik kecantikan ditemani dua majikannya.
Siapa sangka? setelah semua itu Ujang lakukan, tidak sedikit orang yang terkagum-kagum melihat penampilan barunya. bahkan Daryani saja sampai syok dan tidak percaya. menurut Daryani Ujang sudah seperti aktor korea. berpostur tubuh jangkung, sedikit kurus akan tetapi kekar.
"Ndre..."
Daryani dan Ujang melirik kesatu arah yang sama secara berbarengan.
"Astaga, kenapa harus ada Mas Tian? bisa-bisa gagal move on aku." batin Daryani menggerutu kesal.
"Udah balik Lo, Dar?"
Daryani bergeming, dengan mata mendelik wanita itu menjengkat membawa kopernya masuk kedalam rumah.
"Dia kenapa si?" tanya Tian heran.
"Duka atuh," sahut Ujang sambil menggelengkan kepala. "Mungkin masih suka sama Den Tian."
"Gila ajah, gak gua apa-apain juga."
__ADS_1
Daryani meninggalkan kopernya begitu saja diruang tamu. gadis itu berlalu dengan santai menuju dapur untuk menemui Bi Dar. wanita paruh baya yang sering menjadi sekutunya.
"Dar..."
Daryani menghentikan langkahnya, dan langsung memutar badan.
"Kamu udah sampe sini ajah? cepet banget." ucap Alistie mengembangkan senyum.
Daryani mengangguk kikuk dengan bibir yang mengerucut, "Iya Mba. kebetulan jalanan udah lancar."
Alistie mengangguk, keduanya terus saja bertukar cerita dan dimenit berikutnya Ujang dan Tian pun memasuki ruangan tersebut sambil asik berbincang.
"Gendeng!" gumam Daryani dengan sorot mata tajam mengarah kepada Tian.
"Kenapa Dar? belum move on juga?"
Daryani menghembuskan nafas kasar, bibirnya mengerucut. perlahan ia menggelengkan kepala dengan mata menggenang.
"Udah?"
"Belum to, Mba." rengek Daryani pelan.
Alistie tertawa kecil. wanita tersebut langsung membawa Daryani menuju dapur untuk menghindari Tian yang datang dengan tujuan mencari keberadaan Andre.
__ADS_1