
INFO BUAT PEMBACA, SEGALA SESUATUNYA AKAN AKU JELASKAN DIAKHIR CERITA. KENAPA DAN APA ALASAN AKU MENULISKAN CERITA PENDEK INI.
Yuli berjalan, engtah ada dimana dia sekarang. Tentu Yuli tidak benar-benar pergi ke Bekasi. ia hanya ingin bersembunyi pergi dari lingkungan keluarga untuk menyembunyikan aib tersebut.
Lelah berjalan. Yuli duduk disebuah warung kecil, ia melirik kesuatu arah. dimana ada seorang wanita dengan pria yang sedang menimang gemas buah hatinya.
"Ya Allah, mudah-mudahan aku sama Sean nanti bisa kaya mereka." batin Yuli.
Sejenak Yuli menghela nafas. ia melirik kearah lain dengan sorot mata bingung, "Aku harus kemana? disini pasti kontrakan mahal." gumam Yuli.
"Kontrakan Neng?" tanya pemilik warung menyambar.
Yuli memutar tubuhnya menghadap pemilik warung tersebut. "I... iya, Bu. tapi jangan mahal-mahal."
"Disini biasa, 700 ribuan, Neng. kebetulan Ibu punya dibelakang sebaris 4 pintu," ucap watita paruh baya menjlaskan
__ADS_1
Yuli menggeleng canggung, tentu ia keberatan. sebab uang yang ia miliki hanya beberapa, ditambah dari Daryani.
"Emang Neng maunya berapa? harga bisik-bisik deh."
Yuli menelan salivanya, tentu bukan waktu yang mudah untuk menghitung jumlah uang dan memikirkan biaya pengeluaran selama hidupnya nanti.
"Anu, aku..." Yuli menghentikan ucapannya sejenak, "500 ribu gimana, Bu?"
Wanita paruh baya itu mengangguk, tanpa mengatakan apapun. ia langsung mempersilahkan Yuli untuk mengikutinya ketempat kontrakan yang dimaksud.
Yuli gemetar. bagaimana dengan biaya hidupnya? biaya persalinan dan yang lainnya. Astaga kenapa Yuli tidak berpikir kesana, tentu jika tidak ada pemasukan, yang namanya pengeluaran pasti akan terus berjalan setiap harinya.
Yuli mengangguk pasrah, ia mengabsen setiap titik ruangan yang sepertinya hanya seluas tiga meter persegi.
"Kamu gak bawa apa-apa?" tanya si pemilik.
__ADS_1
Yuli menggelengkan kepala dengan mata redup.
"Yaudah, Ibu kasih kasur lantai sama 1 bantal. kalo lemari cuma ada rak ini ajah."
Yuli meloskan air matanya dihadapan wanita tersebut. sungguh ia merasa kehidupannya sangatlah sulit dan berat. ia terus memikirkan apa yang akan terjadi kedepannya jika ia terus seperti ini? bagaimana dengan isi perut? membayar kontrakan yang tentu setiap bulannya harus terlunaskan.
"Loh, kok nangis? kamu kenapa?"
Yuli menggelengkan kepalanya. ia mencoba menyembunyikan air matanya lalu meraih tas dan mengambil beberapa jumlah uang untuk membayar sewaan, "Ini buat bulan ini dan bulan depan, Bu." lirih Yuli menyodorkan uang.
Sedikit tidak tega. wanita tersebut tidak langsung mengambil uang Yuli. ia justry mendudukan Yuli dan mencoba menenangkannya, "Kamu kenapa? kalo uangnya pas-pasan kamu bayar bulan pertama ajah. bulan besok bisa tunggu sampe orang tua kamu kasih."
"Enggak, Bu. gapapa. aku masih ada kok. terima kasih udah bantu saya sebelumnya." ucap Yuli terisak.
Merasa heran dengan gadis yang berada dihadapannya. Wanita yang kerap dipanggil Bu Linda tersebut tidak bisa berbuat banyak, tentu sangat tidak sopan mengorek informasi dari seseorang yang baru saja ia temui. Bu Linda sangat menghargai privasi mereka yang membutuhkan jasa dan bantuanya.
__ADS_1
Yuli sampau harus mengganti ponselnya dengan ponsel murah. untuk biaya hidup yang akan terus berjalan. setelah Bu Linda meninggalkannya sendirian didalam ruangan, Yuli langsung mengunci kamar dan melempar tasnya kesembarang arah.
"Ahhhhh...." Yuli menjerit, ia sudah sabgat prustasi. baru sehari ia jauh dari kedua orang tuanya, Yuli bahkan sudah merasa jika hidup ini benar-benar sangat sulit. "Sean...." lirih Yuli terisak. ia meraih selembaaran foto Dean didalam tas kecil, "Buruan pulang! aku gak sanggup jalanin ini sendiri. aku takut Bapak sama Ibu bunuh aku!" jerit Yuli dengan air mata yang terus berderai.