
"Dar," Alistie menyentuh bahu Daryani saat gadis tersebut sedang menyantap mie instan diruang makan.
"Dalem, Mba?"
Alistie mendudukan bokongnya dikursi sebelah Daryani. wanita tersebut terus menebar senyum cantiknya sambil menatap Daryani lekat, "Aku boleh tanya sesuatu?"
Deg...
Perasaan Daryani tidak karuan. tatapan Alistie yang seolah sedang mengintimidasinya sukses membuat Daryani langsung kehilangan selera makan. sejenak gadis itu mendorong mangkuk mie tersebut, kemudian menjawab. "Apa ya Mba?" tanya Daryani kikuk.
"Kamu sama Ujang?"
Daryani melebarkan senyumnya dengan perasaan yang sedikit lebih lega, "Oh iya, tafi aku rebus mie sama Ujang."
Astaga, bukan hanya polos. gadis ini juga sangat telmi. Alistie sendiri harus ekstra sabar saat berhadapan dengan Daryani yang sedikit bebal.
"Bukan masalah mie rebusmu. aku tanya, kamu sama Ujang pacaran?"
Daryani terdiam dengan raut wajah datar. gadis itu berpikir sejenak, kemudian langsung sadar dan mengerti perihal apa yang sedang dibahas oleh Alistie. "Ujang? karo aku?" Daryani memelas, bibirnya mengerucut dengan mata yang menggenang. "Koyone dia nolak aku toh, aku udah bilang suka. tapi dia gak nanggepin jadi koyo digantung gitu loh Mba." ucap Daryani.
Cukup mengejutkan, lantas kenapa Loli bisa mengatakan jika Ujang dan Daryani berciuman? pertanyaan itu langsung menyabar Alistie sekarang.
"Kata Loli kamu sama dia ciuman?"
Daryani membulatkan matanya terkejut mendengar pernyataan itu dari Alistie, "Ciumam? Neng Loli?"
"Bukan Loli. tapi kamu sama Ujang," sahut Alistie spontan.
"Iya, maksud aku gitu. Neng Loli tau dari mana toh?"
"Jadi bener apa yang Loli bilang?" tanya Alistie memastikan.
Daryani mengibaskan tangannya dengan kepala yang menggeleng cepat. wajah gadis itu sampai memucat saat Alistie terus mencecarnya, "Iki gak seperti apa yang ada dalam pikiran, Penulis NAC. sumpah aku sama Ujang kami gak sengaja toh."
Alistie terkekeh melihat kecemasan Daryani. padahal niatnya hanya ingin tahu kebenarannya saja. tapi ekpresi Daryani sudah sangat ketakutan seperti maling yang ketahuan.
"Jadi gini, Dar. aku sama Andre gak masalah kalo kamu sama Ujang ada hubungan. aku cuma mau bilang, lain kali kalo mau nyosor liat kondisi. tau sendiri anakku itu liciknya kebangetan." celetuk Alistie diselingi tawa kecil.
__ADS_1
"Ora to Mba, koyone gak mungkin. Ujang gak nanggepin." Daryani kembali menekuk wajahnya dengan mata yang menggenang.
"Kenapa gitu?"
"Dia gak pede, dia terus ajah ngerendah. katanya dia gak pantes karo aku. piye iki Mba? aku ditolak terus karo lanang? opo aku iki jelek? kurang cantik? kemarin Mas Tian, sekarang Ujang." lirih Daryani terisak.
Alistie bingung, entah apa yang harus ia katakan pada Daryani. dalam batin Alistie dab juga pemikirannya Daryani bukanlah gadis yang kurang cantik. hanya saja dalam menaruh perasaan terhadap laki-laki ia selalu salah orang.
"Sabar, jodoh gak akan kemana. kamu deketin ajah terus, nanti juga Ujang luluh. buktinya kemarin kalian sempet ciuman kan."
"Ahaa..." Daryani memekik hingga sukses membuat Alistie mengerjap kaget.
"Astaga, kamu ini ngagetin ajah si Dar."
"Hehe maaf, to Mba. aku reflek." ucap Daryani memelas.
"Kenapa? kamu mau ngomong apa?" tanya Alistie penasaran.
"Aku sempet dicium Ujang kemarin. yaudah aku mau minta tanggung jawab karo bapaknya. lagian koyone Ujang itu cowok baik-baik, dia pasti ngerasa berdosa. cuma aku pegang tangannya ajah dia udah teriak-teriak bukan muhrim." ucap Daryani santai.
Alistie mendalamkan lipatan didahinya setelah mendengar pernyataan dari mulut Daryani, "Masa iya begitu? nanti yang tanggung jawab bukannya Ujang, tapi malah Mang Udin kelar kamu, Dar." celetuk Alistie meledek.
"Sayangg..."
Alistie melirik kesumber suara kemudian beranjak dan berkata, "Andre manggil aku. aku pergi dulu, semangat Dar."
"Asyiap Mba," sahut Daryani mengacungkan jempolnya.
Setelah Alistie keluar dari dapur dan mendapati sang suami sudah rapi mengenakan jas kantornya wanita tersenut langsung menekuk wajahnya, seolah tidak suka.
"Dasi aku dimana?" tanya Andre mendekati sang istri.
"Mau kemana?" sahut Alistie kembali bertanya dingin.
Andre menyunggingkan senyumnya, kemudian mengecup pucuk kepala Alistie singkat. "Kerja, kan udah sebulan lebih seminggu aku cuti."
"Jangan!" pekik Alistie mengeratkan gigi.
__ADS_1
"Jangan apa?"
"Jangan kerja!"
Andre mengerutkan dahi, merasa heran mendengar ucapan istri garangnya. "Kalo aku gak kerja nanti yang bayar persalinan kamu siapa?"
"Kan bisa kerja dari rumah!"
"Ketemu clien? meeting?"
"Bisa dari leptop!"
Andre terkekeh, ia langsung merangkul sang istri untuk membawanya kedalam kamar. "Sayang, aku bukan CEO perusahaan yang seenaknya cuma nyuruh-nyuruh orang."
Alistie terus menasang raut wajah murung, "Pokonya gak boleh!"
Andre memiringkan senyum, ia bersimpuh dihadapan Alistie kemudian menempelkan wajahnya dibagian perut wanita tersebut. "Pasti bawaan bayi," celetuk Andre.
"Pokonya aku mau kamu dirumah, manjain aku! aku ini lagi hamil, aku gak mau kamu sibuk lagi kaya yang sebelumnya!"
Andre tersenyum tipis, ia mencoba memberikan pengertian dengan bersikap manis dengan terus mengelus perut Alistie penuh kasih sayang.
"Anak Papah, tolong kasih pengertian sama Mamah. Papah mau kerja, cari uang buat biaya persalinan." sejenak Andre mengalihkan sorot matanya kearah wajah sang istri kemudian mengecup perutnya secara singkat, "Jangan bikin Mamah sensitif terus." ucap Andre melingkarkan tangannya dibagian perut sang istri dengan wajah yang menempel.
"Kamu bisa banget ya, aku kan maunya dimanja terus. aku gak mau jauh dari kamu." rengek Alistie memelas.
"Iya sayang, hari ini aku pulang cepet. kamu jangan khawatir, pokonya aku bakalan tetep jadi suami siaga."
"Janji?"
"Janji."
Alistie membisu, dengan wajah murungnya.
"Percaya sama aku, aku gak bakalan bikin kamu kecewa lagi." Andre beranjak, menatap Alistie lekat sambil menyingkirkan rambut halus yang menutupi wajah sang empu.
"Yaudah!" Alistie langsung memeluk Andre dengan erat, mengiyakan usaha suami yang sedari tadi terus meyakinkannya.
__ADS_1
Mungkin beberapa wanita hamil banyak seperti Alistie. mereka menjadikan kehamilan sebagai alasan agar dirinya menjadi semakin dekat dan dimanjakan oleh para suami. padahal Alistie hanya takut, sekarang dirinya sedang hamil dan Andre kembali disibukan dengan pekerjaan yang selalu menguras waktu kebersamaan antara dirinya dan sang istri.
"Aku sayang kamu!" ucap Andre mengelus pucuk kepala Alistie, membalas pelukan wanita itu dengan penuh perhatian.