Kabut Asmara

Kabut Asmara
Episode 50


__ADS_3

Untuk sementara waktu Andre dapat dibebaskan. berdasarkan rekaman dari CCTV kediamannya, Andre sedang berada di acara pernikahannya pada saat jam penyerangan Halisa. Andre dan Alistie sejenak bisa bernafas dengan lega, didalam mobil keduanya saling menatap dengan pemikiran yang berbeda.


"Jangan nangis lagi. udah aku bilang semuanya bakalan baik-baik ajah," ucap Andre menenangkan sang istri. pria itu bahkan mengusap setetes ai mata yang mengalir di wajah Alistie dengan penuh kelembutan.


"Aku takut."


Andre tersenyum tipis. ia bisa merasakan betapa cemasnya wanita tersebut saat keduanya berurusan dengan polisi. lagi-lagi Andre bisa melihat jelas jika Alistie benar-benar mencintainya, tanpa keterpaksaan. Cup... kecupan singkat Andre daratkan dipucuk kepala Alistie, ia mengelus rambut panjang istrinya kemudian berkata. "Aku bakalan ada terus disamping kamu,"


Ucapan Andre memang selalu membuat batin Alistie merasa tenang. takut itu pun sedikit demi sedikit hilang, Alistie akan merasa jika dirinya aman saat sedang bersama sang suami.


"Pulang sekarang?" tanya Andre lembut.


Alistie hanya mengangguk patuh, tidak ada hal lain dalam pikirannya. yang Alistie inginkan sekarang adalah memeluk Andre dan memanjakan sang suami dengan penuh cinta dan kasih sayangnya.


Drtt.. Drtt.. suara getaran terdengar dari ponsel Alistie, belum sempat Andre mamajukan kendaraannya ia melirik ke ponsel tersebut dan membaca nama seseorang yang menghubungi Alistie.


"Hana?"


Alistie mengangguk, kemudian langsung menjawab panggilan dari editornya tersebut. "Iya Han?"


"Al, buku kamu kena hak cipta."

__ADS_1


Deg... Alistie membulatkan matanya, ia terkejut mendengar pernyataan sang editor. bagaimana mungkin buku barunya kena hak cipta? sedangkan itu semua murni hasil pemikirannya sendiri tanpa menjiplak atau mengcopy karya orang lain.


Andre merebut ponsel ditangan Alistie. "Maksudnya apa? hak cipta apa?" tanya Andre heran yang memang ia sendiri tidak tahu sama sekali perihal dunia tulis-menulis.


"Dua jam setelah rilis buku Alistie di cekal, naskahnya mirip sama milik seseorang. pihak kantor terancam gara-gara hal ini."


"Enggak itu gak mungkin, itu bener-bener murni hasil pemikiran aku sendiri, Han." pekik Alistie gelisah.


"Aku percaya sama kamu, Al. pihak kantor lagi nyelidikin siapa penulis buku yang isinya mirip sama punya kamu. masalahnya buku dia lebih dulu dirilis dari pada punya kamu."


Mata Alistie menggenang, ia langsung memutuskan panggilan dari Hana secara sepihak. artikel-artikel yang ditulis oleh jurnalis yang tidak bertanggung jawabpun bermunculan. semua isi dari artikel tersebut menyudutkan Alistie. tentu hal itu semakin membuat Alistie terlumpuhkan, bawasamnya serangan demi serangan terus bermunculan.


"Ini apa? aku gak mungkin jiplak karya orang lain. itu semua mustahil. sebenarnya ada apa ini? kenapa masalah terus datang? kamu masuk kantor polisi dan sekarang buku aku d cekal." Alistie menangis, ia benar-benar sudah tidak bisa mengontrol emosinya sendiri.


"Tapi siapa? apa salah aku sama dia? Halisa? Farhan? atau siapa? sedangkan aku sendiri gak pernah gangguin hidup mereka." jerit Alistie histeris.


"Iya makanya kamu tenang dulu, kamu harus bisa ngontrol emosi kamu."


"Kamu pikir aku bisa tenang? buku aku di cekal, kamu ajah cuma di bebasin sementara. kalo polisi dapet bukti lagi gimana? aku juga bisa masuk penjara Ndre. perusahaan bisa dituntun, dan aku yakin mereka bakalan minta biaya kerugian gak sedikit." tegas Alistie meninggikan suara.


Andre mengerti, mungkin ini memang masalah yang rumit. tapi sebagai suami Andre akan terus berada di samping Alistie, membantu dan mendukung apapun yang dilakukan Alistie. ia percaya Alistie tidak mungkin melalukan hal yang sehina itu. sebab yang ia tahu untuk mengurus buku ini Alistie sampai mengurangi jam makan dan tidurnya hanya untuk menuelesaikan cerita dalam buku tersebut.

__ADS_1


"Atau jangan-jangan ini semua ulah, Farhan?"


Alistie mengerutkan dahinya, ia menatap Andre tajam. "Gak, itu gak mungkin. aku gak pernah sembarangan, naskah aku selalu terjaga dileptop. gimana caranya Farhan mgambil naskah itu di leptop aku?"


Andre terdiam, ia sedang berpikir keras. "Siapa orang yang pernah baca?"


Alistie mencoba mengingat kembali, ia memejamkan matanya sejenak kemudian berkata. "Aku pernah ngerjain naskah itu dicaffe beberapa waktu lalu,"


"Sama siapa?" tanya Andre spontan.


"Temen-temen aku."


"Coba kamu inget-inget lagi, kalo misalkan mereka pelakunya. apa kamu pernah mgasih kesempatan ke mereka buat copy naskah kamu."


Alistie kembali mengingatnya. ia membulatkan matanya saat menyadari jika dirinya pernah meninggalkan leptop tersebut bersama teman-temannya saat Alistie pergi ketoilet. "Aku... aku ke toilet."


"Leptop kamu tinggal?" tanya Andre mencecar.


Alistie mengangguk pasrah. memang belum bisa disimpulkan. seketika ingatannya langsung tertuju pada ucapan teman-temannya.


"Hidup Alistie enak banget ya, cantik, berbakat. dari jamannya kita SMP ajah dia paling mencolok."

__ADS_1


"Siapa sih disini yang gak iri sama dia?"


"Semua orang iri, apalagi sekarang dia udah jadi istri Duda kaya. Astaga istri penulis, suami pembisnis. gak kebayang anaknya nanti jadi apaan?"


__ADS_2