Kabut Asmara

Kabut Asmara
KAMS 4


__ADS_3

Sean sangat berantusias dengan membawa selembaran kertas, raut wajahnya yang berbinar benar-benar menandakan jika pemuda itu sedang teramat bahagia.


"Mah..." pekik Sean memanggil.


Alistie yang sedang merangkai beberapa tagkai bunga mawarpun menjawab, "Disini."


Sean langsung menghampiri sumber suara sang Mamah. pemuda itu langsung memeluk Alistie dari belakang kemudan berkata, "Aku punya kejutan."


Alistie terlihat santai seolah tidak perduli. dalam pikirannya ia menebak, "Pasti panggilan orang tua lagi."


"Bukan!"


"Terus apa?" tanya Alistie menatap kearah Sean.


Sean mengembangkan senyumnya. ia langsung menyerahkan secarik kertas ditangannya kepada sang Mamah, "Nih!"


"Apaan? jangan aneh-aneh deh kamu!" gerutu Alistie merasa yakin atas tebakannya.


"Liat!"


Alistie meraih secarik kertas tersebut dari tangan sang buah hati. ia mengamati setiap tulisan pada kertas itu kemudian membulatkan matanya terkeju, "Ini serius? kok bisa?" tanya Alistie heran.


"Bisalah!"


"Bukan kamu pasti yang ngerjain!" ucap Alistie curiga.


Sean langsung merebut kertas itu kembali dari tangan sang Mama, "Yaudah kalo gak percaya!" celetuk Sean ketus. "Kerja keras aku emang gak pernah Mamah hargain!" sejanak Sean meremat kertas tersebut kemudian melemparnya kesembarang arah dihadapan Alistie.


"Bukannya gitu, dengerin Mamah dulu."


Sean tidak menggubrisnya. ia pergi begitu saja dengan perasaan marah.


"Dengerin Mamah dulu!" tegas Alistie meninggikan suara.


Yuli yang menyaksikan hal tersebut merasa sedikit miris. Sean benar-benar terlihat keras kepala, ia sama sekali tidak memalingkan wajahnya sedikitpun meski Alistie terus menjerit memanggil namanya.

__ADS_1


"Astagaaaaa Sean!!" gerutu Alistie kesal.


Malam hari, Yuli mengendap-ngendap saat seluruh orang dipastikan sudah terlelap. perlahan ia melangkah menuju kamar Sean dengan perasaan tidak karuan, karna takutbada seseorang yang akan memergokinya.


Tokk... tok... tok... Yuli mengetuk perlahan, sambil menekan pintu kamar tersebut. setelah terbuka ia langsung masuk dan kembali menutupnya dengan cepat.


"Lama banget si, Lo." celetuk Sean mengerutkan dahi.


Yuli mengerucutkan bibir, menatap tajam kearah Sean kesal. "Kamu bisanya nyuruh-nyuruh doang! kalo ada yang liat gimana?" gerutu gadis itu jengkel.


Sean menghela nafas kasar ia langsung melempar beberapa lembar kertas kearah Yuli, "Tuh kerjain!"


Dengan berat hati Yuli pun meraih beberapa lembar kertas tersebut. beberapa waktu lalu saat Yuli sedang membersihkan kamar Sean, ia tidak sengaja melihat beberapa tugas kuliah Sean yang belum terisi. Yuli membaca dan sedikit memahami tugas tersebut, pada akhirnya Yuli mengisinya tanpa sepengetahuan Sean. selang beberapa waktu aksi Yuli pun diketahui oleh pemuda tersebut. bukannya marah Sean justru malah menawarkan sebuah pekerjaan kecil untuk Yuli.


Keduanya sepakat untuk saling membantu. merasa iba ketika Sean selalu beradu mulut dengan kedua orang tuanya, akibat nilai-nilai tugasnya yang selalu mendapat nilai nol besar. Yuli pun akhirnya bersedia menerima tawaran Sean.


"Jangan sampe bener semua jawabannya!" celetuk Sean.


"Ya aku juga gak tau kalo yang aku kerjain bakalan bener semua!" sahut Yuli spontan.


Yuli mendengus kesal. niatnya kan hanya ingin membantu agar Sean tidak terus-terusan bertengkar dengan orang tuanya.,


Dua puluh menit berlalu, didalam kamar itu Sean hanya terus asik bermain game dari ponselnya. sedangkan Yuli sedang berusaha menguras seluruh kemampuannya mengerjakan tugas kuliah pemuda tersebut. Kepala Yuli bahkan sampai terasa sakit karna sedari tadi ia terus bergelut dengan angka dan rumus.


"Aku cape ah," pekik Yuli kesal.


Sean melirik santai kearah Yuli kemudian berkata, "Gue tambahin dua juta!"


"Gak mau aku pusing aku mau tidur." tegas Yuli beranjak.


"Yul," Brukkk... Sean menarik tangan Yuli hingga Yuli jatuh kepangkuannya.


"Astagfirullah, Sean! kamu ngapain sih." gerutu Yuli melepaskan diri.


Sean terkekeh, ia terus mencengkram tangan Yuli kemudian berkata. "Kerjain dulu, plis. bantuin gue!" ucap Sean memohon.

__ADS_1


"Kerjain sendiri, aku pusing. kamu malah enak-enakkan main game!"


Sean dengan santainya melempar ponsel mahalnya tersebut kesembarang arah. ia beranjak berdiri sejajar dengan Yuli kemudian meraih bahu gadis tersebut dan mendudukannya dibibir ranjang.


"Yaudah oke, maaf!" ucap Sean penuh kelembutan agar Yuli sendiri tidak meninggalkannya keluar.


"Aku kan niatnya ngajarin, bukannya ngerjain." gerutu Yuli kesal.


Sean menghembuskan nafas perlahan, ia menatap intens wajah cantik Yuli kemudian berkata. "Yaudah ayo, ayo. ajarin gue, biar gue gak dimaki lagi sama nyokap, bokap!"


Yuli memalingkan wajah, dengan tangan yang melipat. "Salah kamu sendiri,"


"Iya, iya, semua salah gue kok. emang gue mah gak ada benernya!" celetuk Sean dingin.


Deg...


Yuli merasa bersalah atas ucapannya, sejenak ia melirik kearah Sean yang tiba-tiba saja langsung bersikap dingin padanya.


"Aku... aku gak bermaksud..."


Sean memiringkan senyum, "Yaudah kalo lo ngantuk lo balik ajah kekamar lo!"


Pantas saja Andre dan Alistie sampai kewalahan. Sean benar-benar keras kepala, semua orang bahkan tidak boleh bersikap slaah sedikitpun.


"Kamu tuh harus ngerti, orang tua kamu cuma mau yang terbaik buat anaknya! kamu jangan keras kepala kaya gitu, kasian orang Tua kamu!" ucap Yuli dengan bibir yang bergetar.


Sean terkekeh, ia langsung mendekatkan wajahnya kearah Yuli menatap tajam dua bola mata gadis itu penuh kemarahan. "Baik? mereka cuma sayang sama Kakak gue! sedangkan semua hal yang gue lakuin selalu salah dimata mereka!"


Yuli mendorong dada Sean agar pemuda itu menjauh, "Keterlaluan ya, Kamu! coba ajah kalo kamu mau dengerin apa yang orang tua kamu mau. mereka juga gak akan kaya gini."


"Serah lo!" pekik Sean membentak, pemuda itu langsung meraih ponsel dan kunci mobilnya.


"Kamu mau kemana?" tanya Yuli dengan mata menggenang.


"Bukan urusan lo!" sahut Sean, Brukk... pemuda itu bahkan langsung meninggalkan Yuli begitu saja sambil membanting pintu kamarnya.

__ADS_1


Yuli tersentak. air matanya berhasil lolos, gadis itu memang sama sekali tidak bisa menerima perlakuan kasar dari seseorang. bahkan kedua orang tuanya sendiri tidak pernah membentak Yuli selama hidupnya.


__ADS_2