
Mereka terlalu sibuk memperdebatkan sesuatu antara Andre dan Alistie. tanpa mereka sadari pasangan pasutri yang berada dilantai atas sedang memadu kasih dan saling menumpahkan seluruh kerinduan.
Rasanya bagai pengantin baru. Alistie benar-benar tidak ingin turun dari ranjangmya meskipun mentari sudah tersenyum menyapanya. begitu juga dengan Andre, ia terus mendekap dan menghujani Alistie dengan kecupan semalam.
Kekacauan dalam ruangan tersebut menandakan, jika semalam mereka bertarung dengan sangat kuat dan bergairah. entah berapa lama waktu yang keduanya habiskan untuk saling memuaskan. dilihat dari kondisi kamar yang sangat berantakan sepertinya keduanya bermain dengan sangat agresif.
"Udah siang, gak mau bangun?" tanya Andre sambil membelai rambut Alistie yang masih memejamkan mata.
"Gak mau, aku masih kangen!" sahut Alistie dengan suara khas serak bangun tidur.
Andre menyeringai, ia mengecup pucuk kepela Alistie kemudian beralih kebibir wanita tersebut. "Aku sayang banget sama kamu."
Alistie tersenyum tipis, ia mendongak menatap lekat wajah tampan Andre yang nyaris tanpa cacat. "Aku takut kamu macem-macem, selama kamu sibuk aku gak bisa ngontrol emosi aku buat gak cemburu. aju takut kamu main perempuan." ucap Alistie dengan bibir yang mengerucut.
Andre tertawa kecil, ia meraih dagu sang empu kemudian berkata. "Seperti yang kamu bilang, aku juga korban. aku tau rasanya di selingkuhin! kamu tenang ajah, kamu lebih dari sempurna mana mungkin aku cari yang lain."
Alistie terus mendekapkan dirinya pada Andre, ia benar-benar tidak ingin momen manis yang sudah jarang keduanya lakukan tersebut cepat berlalu.
Dilantai dasar, suara ketukan pintu dan bunyi bel kembali terdengar. lagi-lagi Daryani yang berinisiatif untuk membuka pintu tersebut.
"Sopo lagi toh?" gumam Daryani sambil menarik gagang pintu.
Untuk kali ini bukan seorang pria kecil yang datang, justru sebaliknya. pria dihadapan Daryani sekarang terlihat memilili bobot sekitar 80kg. dengan kumis sedikit tebal dan perut agak membuncit.
"Sampean sopo?" tanya Daryani.
"Kamu teh saha? saya Udin bapaknya Ujang."
__ADS_1
Daryani melebarkan senyumnya dan menjulurkan tangan sambil tertunduk, "Walah, bapaknya Ujang toh. aku ini editor Penulis NAC. aku juga kerja disini." ucap Daryani.
Udin mengangguk, ia pun masuk kedalam dengan Daryani yang memimpin langkahnya di depan.
"Jang, iki loh bapak sampean wis balik." pekik Daryani.
Di dapur, Ujang yang mendengar hal itupun terkejut dan langsung berlari menghampiri Daryani dan Bapaknya.
"Ari bapak arek naon kadie?" tanya Ujang.
Udin menggelengkan kepalanya dengan ekspresi memelas. "Mending bapak didieu weh, pusing bapak dikampung isik-isik ngan digerendengan ku Ema maneh."
Ujang menepuk pelipisnya, sebenarnya itu kepulangan sang Ayah adalah rencananya sendiri. Ujang adalah pemuda prngangguran, dengan ijasah SMA dijaman sekarang memang sudah sulit untuk mencari pekerjaan. Bosan mendengar ocehan sang Ibu, pria jangkung itu akhirnya menyuruh Udin pulang dengan sebuah alasan darurat. agar Udin tidak kehilangan pekerjaan, Ujang pun menyarankan dirinya agar Udin mengatakan pada Andre jika sang anak yang akan menggantikannyan.
"Ges bapak balik weh, si Ema mah ancem weh kege jempe." celetuk Ujang pada Udin.
Bi As yang mengetahui jika Udin datang pun sedari tadi sudah ada disana memperhatikan mereka.
"Candung weh, Pak." sahut Ujang spontan.
Bi As terkejut mendengar pernyataan Ujnag yang trlah menyuruh Udin menikah lagi jika pria paruh baya itu sudah tidak kuat menghadpi Ibu dari Ujang tersebut
Daryani yang mendengar hal itupun mendekatkan dirinya pada Bi As. kemudian bertanya, "Bi, mereka ngomongin opo to?"
"Mang Udin pengen disini, tapi sama Ujang gak boleh. malah disuruh pulang."
"Nyandung itu apa, Bi?" tanya Daryani dengan raut wajah penasaran.
__ADS_1
"Di duain Neng, di suruh nikah lagi."
Daryani membulatkan matanya dengan mulut yang menganga. "Sampean iki durhaka, orang tua baru datang wis di suruh pulang. ora bener iki. Nyandung-nyandung, punya ema tiri karo ibumu tau rasa sampean!"
Andre yang mendengar keributan pun akhirnya turun, untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi. bersama sang Istri pria jangkung itu mendekati sumber keributan tersebut.
"Selamat pagi Pak Andre, apa kabar?" sapa Udin melebarkan senyum.
"Baik Mang, Kamu disini? kapan dateng?" tanya Andre.
"Barusan pisan, Pak. ini saya mau kerja disini lagi, tapi kayanya anak saya juga udha betah."
Andre tersenyum tipis, ia merangkul istrinya kemudian berkata. "Gak masalah, yang satu buat supirin saya, satu lagi buat Alistie."
"Ulah Pak, mun si Ema nyusul kumaha? abong weh rek miluan jadi pembantu sakeluarga di dieu." celetuk Ujang seolah tidak setuju.
"Moal atuh Jang, asal duit na lancar ge ema maneh mah anteng." ucap Mang Udin penuh penekanan.
"Keun, ke urang ngadukdek wae ngiriman duit. si ema malah bebenean dei jeng Pak RT, kajongjonan."
"Baelah, Na iye ge aya nu lewih seger." celetuk Udin sambil menatap Daryani dengan tatapan genit.
Ramai, itulah kata yang tepat untuk mrnggambarkan suasana kediaman Andre sekarang. prilaku mang Udin benar-benar sangat menggelikan, dan Daryani sendiri terlihat biasa saja menanggapi hal tersebut yang notabanenya hanya candaan.
"Wihhh Udin." pekik Tian berantusias saat dirinya melihat Udin, pemuda itu bahkan langsung memeluk Udin yang artinya mereka sudah saling kenal dan sangatlah dekat.
"Waduh Den Tian makin keren ajah, Mamang sampe pangling."
__ADS_1
"Iyalah, gak kaya anak lo." celetuk Tian sembarangan.
Tidak heran, Ujang dan Udin sendiri tidak mempermasalahkan ucapan Tian yang menjurus ke bodyshaming. Tian memang bar-bar, ucapannya selalu terdengar menyakitkan. tapi mereka semua tahu dibalik itu semua Tian adalah orang yang baik.