Kabut Asmara

Kabut Asmara
Episode 62


__ADS_3

Setelah mobil Andre terhenti disebuha parkiran gwdung pernikahan. Alistie tak hentinya melirik krkiri dan kekanan, dengans orot mata mencari.


"Kenapa, Al?" tanya Andre merasa heran.


"Aku nyari banner, penasaran sama cewe yang dinikahin Farhan."


Andre memiringkan senyum, keduanya langsung segera turun untuk menemui pengantin dan mengucapkan selamat.


"Penasaran banget si kamu." celetuk Andre.


"Cuma kepo doang." sahut Alistie secara terang-terangan.


Andre dan Alistie bergandengan tangan menuju aula gedung. pasangan yang sempurna, semua orang yang mengenal Alistie siapa sampai menjerit histeris. tidak heran karna memang buku-bukunya sangatlah laris. Alistie bahkan lebih cocok menyandang statusnya menjadi selebriti dari pada seorang penulis percintaan lebay.


"Santai ajah, kamu lagi hamil. awas ajah kalo anak aku lecet." gerutu Andre.


"Mana bisa?"


Maya yang melihat kedatangan Alistie pun menghampirinya, sungguh bagi Maya ini adalah suatu kehormatan. jika mengingat kesalahan sang adik sepertinya sudah tidak mungkin untuk Alistie maafkan. akan tetapi Alistie benar-benar menyempatkan waktunya, ia bahkan terihat tenang dan santai seolah sudah melupakan segalanya atas kesalahan Farhan.


"Al..." Maya meraih tangan Alistie dan memeliknya, "Kakak kangen banget sama kamu."


Alistie membalas pelukan tersebut, ia mengembangkan senyum kemudian berkata. "Gimana kabar, Kakak?" sejenak Alistie melirik kearah Andre, "Kenalin kak, suami aku."


Andre dan Maya pun saling berjabat tangan.


"Kakak kira kamu gak bakal dateng," ucap Maya pada Alistie.


Alistie tertawa kecil, "Karna kakak, aku pasfi dateng."


Disisi lain, seorang wanita sedang memainkan ponselnya. merasa lelah dengan apa yang sudah ia lakukan menyapa para tamu undangan. wanita tersebut akhirnya meneguk segelas jus yang tersedia disebelahnya.

__ADS_1


"Farhan dimana sih? gue dah pusing banget."


Tanpa sengaja ia menjatuhkan seikat bunga bunga mawar. Alistie yang menghampirinya pun meraih setangkai mawar tersebut dan memberikannya.


"Selamat, Ra." ucap Alistie menyimpulkan senyum.


Rara membulatkan matanya, "Al... kamu?"


Alistie memiringkan senyum, ia menyentuh icon panggilan pada layar ponselnya. dan seketika ponsel ditangan Rara pun berdering.


"Al..." Raut wajah Rara memucat, tangannya bergetar hebat ia melirik kearah ponselnya yang berdering tersebut.


"Kamu simpenan Farhan waktu itu, dan kamu juga orang yang udah nyururi naskah aku."


Rara membisu, ia tercekat tidak mampu berkata apapun. entah bagaimana bisa Alistie datang, padahal Rara tidak menceritakan sama sekali perihal masalah pernikahannya dengan Farhan.


"Kamu berhasil Ra, terima kasih." ucap Alistie tersenyum santai. seketika ingatan Alistie kembali tertuju pada sebuah caffe yang dimana Rara memulai pembicaraan perihal masalah Halisa. Alistie juga teringat bagaimana Rara menyarankan Alistie untuk mempertahankan cintanya dan bersaing dengan Halisa. Rara juga pernah dengan sengaja memberikan alamat Andre karna ia sendiri ternyata sudah mengetahui jika Andre akan tertarik pada Alistie.


Farhan yang notabanenya tidak tahu masalah yang terjadi anatara Rara dan Alistie pun hanya bisa menyaksikan hal tersebut dengan raut wajah penuh tanda tanya.


Andre menggenggam tangan sang istri, ia yang mengetahui hal itupun langsung mengajak Alistie pergi dari tempat tersebut.


"Al..." Maya mencoba menghampirinya.


Tidak ada gubrisan dari Andre dan Alistie. keduanya langsung meninggalkan tempat tersebut.


Semua sudah jelas, Andre dan Alistie sudah mengetahui dalang dibalik pencurian naskah. ternyata benar kecurigaan Andre selama ini. pada saat Alistie ketoilet ternyata Rara menyalin file naskah tersebut kedalam ponselnya.


"Kenapa harus dia Ndre?" tanya Alistie.


Andre menggelengkan kepala, ia mengelus rambut Alistie penuh kelembutan.

__ADS_1


"Aku gak nyangka, Rara bisa sejahat itu. dia sendiri yang nyuruh aku minta bantuan ke kamu buat pisahin Farhan dan Halisa, nyatanya sekarang dia sendiri yang nikah sama Farhan."


Andre menghembuskan nafas perlahan, "mungkin itu siasatnya ajah. dia manfaatin kamu biar Farhan gak deket-deket sama Halisa. kamu tau kenapa? karna dia sendiri yakin, kamu dan Farhan udah gak mungkin bisa balikan lagi."


Setetes air mata Alistie mengalir, bukan karna melihat pernikahan Farhan dan Rara. ia kecewa karna wanita tersebut ternyata sudah mencuri naskahnya. "Kenapa harus nyuri naskah." ucap Alistie lirih.


"Atau jangan-jangan..."


"Apa?" Alistie mengerutkan dahinya, kemudian menyeka air matanya.


"Nikah pake duit hasil naskah kamu.


Deg... Alistie terpaku, ia kembali teringat jika dulu Rara berniat ingin menikah dengan Haris tapi terdesak oleh ekonomi dan pada akhirnya hubungan mereka kandas.


"Ahhhhh..." Alistie memecah tangisannya.


"Kamu kenapa sedih banget sih? gak terima Farhan nikah?" celetuk Andre.


"Iyalah, udah nikah sama mantan aku. duitnya hasil dari penjualan naskah aku, siapa yamg gak sakit hati?" pekik Alistie histeris.


Andre terkekeh, ia langsung menarik Alistie dan membawa wanita tersebut kedalam dekapannya. "Udah jangan nangis, ada bayi aku didalem perut kamu. jangan bikin dia stress ah." ucap Andre menenangkan.


"Tapi duit aku Ndre..."


"Iya nanti aku kasih duit yang banyak, udah jangan nangis lagi. aku sayang kamu."


Alistie mendongakan wajahnya, ia menatap lekat sang suami kemudian mengecupnya.


"Nangis mah nangis ajah, ngapain nyosor?" celetuk Andre setelah Alistie menghentikan aksinya.


"Biar tambah banyak duitnya, aku cinta kamu, aku sayang kamu. aku juga suka sama duit kamu." ucap Alistie dengan wajah datar.

__ADS_1


Andre terkekeh, sifat sang istri sekarang sudah seperti dekoleptor pemerasaan. akan tetapi meskipun begitu Andre benar-benar menyukainya.


__ADS_2