Kabut Asmara

Kabut Asmara
Episode 85


__ADS_3

"Oh, jadi gitu ceritanya."


Daryani menganggukan kepalanya cepat, srnyumnya yang berbinar benar-brnar sama sekali tidak putar sedetikpun. kasmaran memanglah hal yang paling menyenangkan, apalagi saat perasaan itu terbalasakan. entah apa yang akan dilakukan oleh Daryani. munkin wanita deso itu akan mengalami serangan jantung mendadak, jika cintanya dibalas oleh Tian.


"Eh, Tian. dari mana?"


Tian pemuda jangkung yang datang dari luar pun menghentikan langkahnya, saat Alistie menyapanya dengan sengaja.


"Tumben lo nanya gue," celetuk Tian heran.


"Emang gak boleh, gitu?" tanya Alistie memiringkan senyum.


Tian hanya memasang raut wajah datar, kemudian mengeluarkan dua buah minuman cup dalam plastik ditangannya. "Yah, ada dua doang. siapa nih yang mau?"


Alistie melirik kearah Daryani yang sedang tertunduk malu akibat sang pujaan sedang berada tepat dihadapannya. "Buat aku ajah. Daryani lagi puasa."


Spontan raut wajah Daryani terlihat memelas dengan sorot mata menatap Alistie.


"Iya kan, Dar? kamu puasa?"

__ADS_1


"Tapikan aku bisa nyimpen minumannya dikulkas loh Mba, aku minum pas buka puasa." ucap Daryani dengan bibir mengerucut.


Tian yang menyaksikan hal itupun bingung, sejenak ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. kemudian menatap kearah Alistie dan Daryani secara bergantian. "Yaudah nih, Dar. buat lo."


Apa ini? Tian yang notabanenya pemuda angkuh, garang, dengan mulut ceplas-ceplos ternyata ia bisa mengalah juga pada seorang wanita.


"Iki beneran?" tanya Daryani menatap Tian dengan mata membulat.


Tian tersenyum tipis sambil mengangguk mengiyakan ucapan Daryani tersebut. senyum Tian benar-benar memabukan astaga, baru kali ini Daryani disenyumi oleh Tian. senyum tersebut terlihat sangat manis, siapa yang tidak meleleh melihat tingkah Tian yang semakin membuat Daryani klepek-klepek.


"Mamahhh..." Loli berlari dengan membawa boneka wortel dan satu cup escream yang terlihat sangat menyegarkan.


"Hustt..." Alistie melirik kearah Daryani sejenak kemudian berkata, "Loli makan jangan didepan orang puasa gitu. kamu harus ngehargain kak Daryani," ucap Alistie pada sang buah hati.


Alistie beranjak, ia menuntun anak sambungnya tersebut meninggalkan Daryani disana sendirian. "Meskipun kita bukan Muslim, kita tetep harus ngehargain umat Muslim yang lagi berpuasa. kan kamu bisa makan di balkon sama Papah."


"Tapi aku mau sama Mamah."


Sikap unggul Alistie yang lainnya. menghargai jika pembantu, sopir, dan editornya adalah pemeluk agama Islam. Andre dan Alistie bahkan tidak menyuruh Bi As untuk memasak pada jam makan siang ataupun menyiapkan sarapan pagi. Alistie berpikir tidak akan memberatkan pekerjaan para pekerjaanya mengetahui jika mereka sedang menjalankan kewajibannya dalam agamanya.

__ADS_1


"Nah itu, Papah." ucap Aliatie menunjuk kearah Andre.


"Papah..." pekik Loli, dan Andre pun menghampiri Istri dan anaknya tersebut.


"Temenin Loli main yuk." ajak Loli sambil menarik-narik ujung kaus yang Andre kenakan.


"Kenapa si Daryani?" tanya Andre menatap Alistie.


Alistie tertaea kecil, kemudian mendekatkan wajahnya untuk berbisik didaun telinga sang suami.


Andre terkekeh, ia melirik kearah Daryani kemudian berkata. "Dia? Tian?"


Alistie mengangguk, ia sendiri bahkan benar-benar tidak percaya. bawasaanya kedua orang tersebut sangatlah sering beradu mulut.


"Papah ayo main!" pekik Loli dengan jengkel.


Andre mengelur pucuk kepala Loli kemudian berkata. "main sama Mamah ajah, Papah ada janji sama Om Tian."


"Ngapain kamu?" tanya Alistie mengerutkan dahi.

__ADS_1


"Nemenin dia main play station."


Alistie menghela nafasnya dengan kasar, tidak bekerja karna cuti sebulan Andre sudah berlaku sejak dua minggu yang lalu. tapi melihat kelakuan sang suami yang terlihat kekanak-kanakan rasanya cukup jengkel. memang serba salah.


__ADS_2