
Alistie menggerakan tubuhnya perlahan, ia meringis saat merasakan jika dibagian pribadinya terasa perih dan nyeri. bagaimana tidak? semalam penuh Andre terus menghukum Alistie lantaran wanita itu berniat untuk menunda kehamilan.
Alistie mengerjap, mencoba mengingat apa yang terjadi. tidak butuh waktu lama gambaran semalam itu langsung muncul didalam pikirannya. ia mengingat benar bagaimana Andre mendorong kemudian mencumbu Alistie dengan kasar dan penuh paksaan. saat itu Alistie mencoba memberontak, sebelumnya Andre tidak pernah berlaku demikian pada istrinya. Alistie sendiri sampai dibuat kaget dan tidak percaya.
Sebelum hal itu terjadi, Andre dan Alistie bahkan sempat beradu mulut hingga pada akhirnya Andre hilang kendali akibat emosi yang sudah tidak terbendung.
Sampai saat ini kepala Alistie terasa sakit, seluruh badannya terasa pegal dan kaku. Andre benar-benar buas.
"Dimana Andre?" batin Alistie bertanya, saat ia sadar jika sang suami sudah tidak ada disebelahnya.
Alistie kembali memejamkan matanya, memasang pendengaran. mungkin saja Andre sedang berada dikamar mandi. akan tetapi nyatanya diruangan tersebut tidak ada suara apapun, semuanya hening dan tidak ada gemericik air pertanda Andre tidak ada disana sekarang.
Mata Alistie langsung melotot saat sepintas ia teringat dengan Loli kecil. Alisyie beranjak dengan cepat, ia membuka lemari besar memilih secara acak dress rumahan tanpa lengan yang akan ia kenakan.
"Loli..." ucap Alistie sambil melangkah cepat meninggalkan kamar, wanita itu langsung menuju kamar anak tersebut untuk melihat keadaannya. karna waktu juga memang sudah menunjukan pukul delapan pagi.
"Loli..." Alistie mendorong pintu kamar milik Loli, ia melangkah masuk dan langsung menyingkap selimut yang madih berantakan diatas ranjang tersebut, "Loli kok gak ada ya." gumam Alistie cemas, Alistie langsung membuka pintu kamar mandi Loli, tapi tetap saja hasilnya nihil.
Dengan cepat wanita itu meninggalkam ruangan tersebut. Alistie berjalan cepat sambil meringis menuju lantai dasar. "Looo..." Alistie tidak melanjutkan ucapannya saat melihat Andre sedang menyantap sarapan sambil menyuapi Loli kecil.
Andre dan Loli melirik kearah Alistie secara bersamaan, mereka bahkan tersenyum manis dalam artian itu adalah sapaan.
"Mamah udah bangun?" ucap Loli dengan senyum berbinar.
__ADS_1
Alistie terpaku melihat pemandanga yang sudah asing tersebut dihadapannya.
"Aku udah buatin sarapan buat kamu, mau sarapan disini atau dikamar?" tanya Andre lembut.
Apa ini? Alistie sendiri masih tidak mengerti dengan apa yang ia saksikan. dalam sekejap Andre bersikap seolah tidak terjadi apapun semalam. Alistie melangkah mendekati Andre, ia menarik kursi tepat disebelah Andre dengan sorot mata yang sama sekali tidak teralihkan pada sang suami.
"Mamah, leher sama dada Mamah kenapa?" tanya Loli penasaran.
Astaga, Alistie langsung membulatkan matanya karna terkejut. spontan tangannya langsung menyilang menutupi bagian tersebut dengan kikuk.
"I... itu Mamah lagi alergi." sahut Alistie terbata.
Andre memiringkan senyumnya, tentu ia sudah tahu jika itu adalah hasil karyanya. tanda kepemilikan yang Andre buat secara paksa semalam.
"Papah Loli kenyang."
Loli langsung mengangguk patuh mengiyakan apa yang Andre katakan. pria itu bahkan sebelumnya sudah berjanji kepada Loli jika dirinya akan menemani Loli bermain seharian penuh.
Setelah Loli benar-benar sudah pergi menuju kamar, Andre langsung meraih sebuah roti tawar dan mengoleskan selai coklat diatasnya. "Kamu harus sarapan," ucap Andre pada sang istri.
Alistie masih diam membisu dengan sejuta pertanyaan didalam pikirannya. sedangkan Andre mengarahkan roti tersebut kearah mulut Alistie untuk menyuapinya.
"Buka mulut kamu." seru Andre dengan senyum yang terus terpancar.
__ADS_1
Alistie menggelengkan kepalanya perlahan.
"Kenapa? atau mau menu yang lain? yaudah kamu mau apa? biar aku yang buatin."
Alistie kembali membalas ucapan Andre dengan kepala yang menggeleng. tatapan sendu Alistie, mata bengkak akibat menangis membuat pria itu merasa bersalah atas tindakannya semalam.
Perlahan Andre meletakan roti tersebut kemudian meraih wajah Alistie yang nyaris tanpa cacat lalu mengelusnya.
"Maaf," ucap Andre penuh harapan.
Lagi-lagi Alistie menggelengkan kepalanya, kemudian tertunduk dan berkata. "Aku yang salah,"
Deg... astaga kenapa mata Andre terasa panas, ia ingin menangis tapi air matanya tak kunjung keluar.
"Aku cuma takut kalo kamu belum bisa nerima Loli dan aku hamil, itu cuma akan bikin kamu semakin jauh sama dia."
Andre mendongakan wajah Alistie yang ternyata wanita itu sedang menyembunyikan air matanya. sejenak Andre menyeka air mata Alistie kemudian berkata, "Aku sayang sama kamu, tolong kasih aku waktu. mungkin bagi kamu itu hal gampang, tapi enggak buat aku. aku selalu dikejar rasa penyesalan setiap kali aku liat Loli."
Alistie memecah tangisannya, deraian air mata di wajahnya menandakan jika wanita itu benar-benar sangat merasa sedih atas semua yang telah terjadi.
"Maafin aku. gak seharusnya semalem aku ngelakuin hal itu dengan kasar," Andre menarik tubuh sang empu kedalam pelukannya, Andre mendekap dan mengelus kepala Alistie dengan penuh kasih sayang.
"Maafin aku, aku mungkin emang ceroboh. tapi semua itu aku lakuin buat kamu dan Loli, aku gak mau hubungan kalian semakin jauh dengan hadirnya anak kita nanti. itu sebabnya aku mau nunda hal ini sampe kamu bisa nerima Loli seutuhnya." ucap Alistie lirih.
__ADS_1
Andre menghela nafas pelan. nyatanya daru semalam ia sudah mencoba belajar untuk menerima keadaan. tapi ada satu hal yang membuat emosinya kian memuncak saat dirinya tak sengaja melihat pil kb yang dibeli oleh Alistie.
"Jangan nangis lagi," ucap Andre menenangkan. Andre bahkan bisa merasakan tubuh Alistie yang sedikit demam, mungkin itu akibat ulahnya semalam. istrinya terus menangis sampai Alistie sendiri merasa kepalanya terasa berat akibat kurang terpejam.