Kabut Asmara

Kabut Asmara
KAMS 2


__ADS_3

Beberaap bulan sebelumnya didalam sebuah bus yang ia tumpangi Yuli mengerjap. ia rasa bus sudah benar-benar berhenti. gadis itupun akhirnya meraih tas kecil yang berisikan beberapa pakaian lalu bergegas turun.


Bola mata Yuli menatap keramaian, sejenak gadis itu menghembuskan nafas perlahan. lalu meraih ponsel dari dalam sakunya.


"Pak, iki aku wis sampe di terminal. jemput sekarang Ya." ucap Yuli berbicara dengan seseorang di ponsel.


Setelah mematikan panggilan secara sepihak, kaki Yuli melangkah mendekati sebuah warung kecil yang menjual beberapa aneka cemilan dan minuman. Yuli terduduk disana, paras Yuli benar-benar polos. tatapannya sendu, suaranya begitu halus dan lembut.


"Kerja apa jaman sekarang pake ijasah SMA dijakarta?" batin Yuli bertanya.


Yuli mengamati setiap pengamen. hampir seluruh pengamen dan pengemis yang menghampirinya masih terlihat muda dan segar. sontak hal itu membuatnya sedikit miris, ia berpikir pasti hidup dijakarta sangatlah sulit hingga beberapa ornag diantaranya harus rela melakoni pekerjaan seperti itu.


"Yul,"


Yuli melirik kesumber suara. senyum bahagianya terpancar saat melihat sesosok pria memanggil namanya dari dalam mobil.


"Aku, Pak." Yuli langsung meraih tasnya dan memasuki mobil tersebut dengan raut wajah berbinar.


"Gimana kabar kamu?" tanya Ujang.


Yuli meraih tangan Ujang dan menciumnya, "Aku baik. Abah bilang kalo aku gak betah disini aku bisa balik kapan ajah," ucap Yuli pada sang Ayah.


"Abah sehat?" tanya Ujang menanyakan kabar sang bapak yang sudah berumur dikampung.


Yuli mengangguk dengan keadaan senyum yang terus terpancar, "Kadang sakit pinggangnya sering kumat. tapi ada Bi Salma yang jagain kok, Pak."


Ujang pun langsung menginjak pedal gas mobil yang ia kemudikan. ayah dan anak tersebut terus saja bercengkrama saling bertukar kabar selama mereka hidup terpisah antara kampung dan Ibu kota.


"Ibu sehat, Pak?" tanya Yuli.

__ADS_1


"Ya sehat, kamu tau sendiri keluarga Pak Andre itu baiknya minta ampun. itu sebabnya bapak sama ibu gak bisa berenti gitu ajah dari pekerjaan ini."


Yuli mengangguk, ia melirik kearah sampinh jendela untuk sejenak memanjakan mata melihat pemandangan.


"Pak aku disini mau kerja apa ya? aku kok minder liat gedung tinggi-tinggi banget sedangkan aku cuma lulusan SMA."


Ujang menyunggingkan senyum, melirik jearah sang buah hati sejenak lalu kembali menatap jalanan. "Kamu bisa bantu ibu, nanti soal pekerjaan bapak yang minta sama Pak Andre."


"Bapak ini gimana? Pak Andre ajah jarang dirumah gimana dia mau ngasih aku pekerjaan?"


"Kan ada Bu Alistie,"


"Skill aku gak disitu loh Pak, aku maunya jadi pramugari." ucap Yuli memelas.


Semua orang tua tentu sangat ingin membantu mewujudkan cita-cita anaknya. apalah daya? dikampung Mang Udin sudah sakit-sakitan. tentu sebesar apapun gaji yang Andre dan Alistie berikan terhadap Ujang dan Daryani, itu semua tidak akan cukup. terlebih sekolah yang Daryani harapkan perlu memakan jumlah modal yang besar.


"Sabar ya, Yul. bapak juga pengennya kamu itu sekolah yang tinggi, kemampuan bapak cuma bisa nyekolahin kamu sampai SMA."


Ujang tersenyum tipis. sebagai seorang ayah tentu ia ingin memberikan yang terbaik untuk sang putri. terdesak kebutuhan mengharuskan dirinya menyerah sampai titik pendidikan Yuli SMA.


"Ayo turun."


Yuli mengamati rumah besar saat mobil yang ia tumpangi terhenti. sampai disini Yuli langsung bisa mengingat segalanya, bagaimana ia berlarian di halaman. belajar berenang dikolam sewaktu kecil. dan selalu bertingkah nakal dengan mencuri buah-buahan dari pohon tetangga komplek bersama Tian.


Yuli membuka pintu mobil dan mulai menurunkan kakinya.


"Ayo, Yul. yang lain udah nungguin." Ujang meraih tas Yuli dan membawanya masuk kedalam rumah.


"Siapa pak?"

__ADS_1


"Pak Andre sama Bu Alistie."


Yuli menghela nafas agar sedikit lebih rilex, saat langkahnya sudah sampai di ambang pintu gadis lugu itupun memperdalam langkahnya dengan mata yanh mengabsen setiap sudut ruangan. "Assalamualaikum..."


Daryani, Andre, dan Alistie melirik kesumber suara.


"Wallaikum salam," ucap mereka berbarengan.


Yuli mengembangkan senyumnya, ia langsung mempercepat langkahnya menghampiri kumpulan orang dewasa tersebut diruang makan.


"Loh kok cantik, Dar." ucap Alistie memuji gadis yang beberapa detik lalu mencium tangannya. "Gimana sekolahnya? udah lulus?"


"Udah, Bu." sahut Yuli lembut.


"Rasanya baru kemarin kamu main lari-larian sama, Sean. sekarang tinggi kamu udah nyaingin aku, Yul." celetuk Alistie menggoda.


Andre terkekeh. kemudian berkata, "Ya anak kamu ajah udah setinggi aku."


"Aku inget banget dulu mereka tuh selalu barengan, makan mandi sampe tidur pun barengan!"


"Ya kalo sekarang mandi, makan, tidur bareng bisa-bisa berabe, sayang." ucap Andre diselingi tawa kecil.


Yuli tersenyum masam. lagi-lagi ia diingatkan oleh bayang-bayang masa kecilnya bersama Sean. entah seperti apa pemuda itu sekarang bawasaanya sampai detik ini Yuli belum melihat wajah anak majikan orang tuanya tersebut setelah bertahun-tahun mereka tidak dipertemukan.


"Sean kemana? belum bangun?" tanya Andre.


Ujang tersenyum kikuk, ia meraih segelas kopi dihadapannya kemudian berkata. "Den Sean baru pulang tadi pagi, Pak."


Andre menelan ludah getir. benar saja, semakin dewasa Sean bukannya semakin berbakti. ia malah terseret pergaulan buruk. Sean yang notabane-nya adalah anak laki-laki itupun selalu pulang pagi. setiap kali Alistie dan Andre menegur ada saja jawaban yang pemuda itu lemparkan hingga sukses membuat kedua orang tuanya naik pitam.

__ADS_1


LIKE KOMEN DAN VOTE, SETIAP PART AKAN MENJAWAB KEBINGUNGAN KALIAN. MAKA DARI ITU TERUS TUNGGU UPDATENYA YA.


__ADS_2