Kabut Asmara

Kabut Asmara
KAMS 15


__ADS_3

Daryani dan Ujang hanya terus terisak. beberapa orang yang menyaksikan kehisterisan mereka pun sampai tak kuat. mereka menangis sambil mengumpat dihadapan Andre dan Alistie. semua cacian itu tentu tidak sebanding dengan apa yang sudah pihak Alistie dan Andre lakukan terhadap Ujang dan keluarganya.


"Tolong rawat bayi ini," ucap Mang Udin penuh kesedihan menyerahkan bayi kecil yang menggemaskan ketangan Alistie.


Tentu ini pilihan yang sulit untuk Ujang dan Daryani. disisi lain keluarga Andre sudah sangat baik pada mereka, disisi lain Anak mereka sendiri benar-benar harus berjuang antara hidup dan mati sekarang.


"Semua ini gak adil," Daryani terisak menatap Alistie. "Anak sampean harus bertanggung jawab, gara-gara Sean Yuli memderita."


Alistie pasrah, dengan mata menggensng ia meraih tangan Daryani untuk memohon pengampunan. "Maafin Aku, Dar. ini semua memang salah Sean. meskipun kalian akan menuntut, kami gak keberatan. dia memang pantas mendapat hukuman."


"Lalu Yuli? apa bedanya? Sean hanya akan dipenjara selama beberapa tahun, sedangksn Yuli? gimana kalo dia meninggal? kalian masih bisa melihat anak kalian. sementara aku? putriku yang paling menderita! tetap saja itu semua gak adil buat Yuli." jerit Daryani histeris.


***

__ADS_1


Sean terlihat murung, setelah dirinya diintrogasi pihak kepolisian. ia tidak ditahan, karna memang pihak Yuli sendiri belum melayangkan tuntutan apapun terhadap pihak Sean.


Sejenak pria itu menghembuskan nafas pelan. matanya menggenang sambil memandang buku catatan yang sudah Andre berikan.


"Maafin aku, Yul." lirih Sean.


Tangannya mulai membuka buku tersebut. tulisan tangan Yuli tersusun dengan sangat rapi didalamnya. tidak dijelaskan tanggal dan waktu kapan Yuli menuliskan hal tersebut, semua terlihat biasa. hanya terdiri dari beberapa kalimat setiap paragrafnya.


Entah kejutan apalagi yang akan Sean dapatkan di lembaran berikutnya, sungguh pria itu terus meneteskan air matanya. ia sangat tahu betul bagaimana perasaan Yuli saat menuliskan catatan tersebut. sudah pasti Yuli sangat menderita.


"Aku gak tau usia kandungan aku berapah. tapi sumpah beberapa hari ini aku mual-mual terus, apalagi kalo pagi. Ya Allah nyiksa banget nih calon bayi kamu. semoga kamu disana ngerasain hal yang sama, ya."


Sean menyeka air matanya, ia membuka lembaran baru setelah membaca tulisan Yuli yang memberitahukan jika wanita tersebut sedang menjalani masa morningsiknes.

__ADS_1


"Perut aku udah agak buncit. tadi pagi aku kirim pesan sama, Bapak. minta uang, sebenernya aku gak berani. tapi mau gimana lagi? uang yang aku punya sisa sedikit. pemilik kontrakan disini baik banget, aku terus nyembunyiin kehamilan aku pake baju longgar, setiap hari dia dateng. mastiin dan nanyain aku udah makan apa belum. dia juga sering bawain aku nasi lengkap sama lauknya."


Astaga Sean benar-benar tidak tega. tidak bisa dibayangkan, bagaimana Yuli menjalani kehidupan tersebut setiap harinya. dengan uang yang pas-pasan sampai Sean datang untuk membawa dan membantunya keluar dari masa sulit.


"Sean, aku kangen kamu. aku cape sendirian. aku takut, gimana nanti kalo anak ini lahir? setiap hari aku cuma bisa nangis. aku gak tau lagi harus ngapain, disisi lain aku malu sama Ibu sama Bapak karna udah bikin mereka kecewa."


Dada Sean terasa sesak. setiap lembaran yang dirinya baca selalu menyisakan luka tersendiri untuknya. Sean merasa bersalah, hingga saat ini Yuli bahkan belum sadar. sungguh perasaannya sangat hancur karna tak kuasa membayangkan penderitaan yang sudah Yuli alami selama beberapa bulan ini tanpanya.


"Meskipun kamu jauh, aku gak bakal bikin kamu ngelewatin perkembangan bayi kita. perut aku udah buncit banget, aku ngerasa bayi kita udah bisa nendang-nendang. tapi sampai sekarang aku gak tau usianya berapa karna aku gak punya uang buat kedokter."


Sean beranjak, air matanya sudah sulit untuk dibendung. pemuda itu terus menatap Yuli dari balik pintu. Sean merasa bersalah, merasa dirinya sangatlah tidak berguna.


"Aku salah, Yul. aku gak ada disaat kamu butuhin aku. kamu nanggung semuanya sendirian tolong maafin Aku." lirih Sean terisak.

__ADS_1


__ADS_2