
Di sebuah kantor polisi, Alistie terus mencecar Andre dengan penuh penekanan. Sulit dipercaya Alistie langsung kehilangan seluruh tenaganya saat polisi memberikan sebuah bukti atas tuduhannya terhadap Andre.
"Jawab aku!" gerutu Alistie jengkel.
"Aku sendiri gak tau, Al. aku emang kehilangan jam itu tapi aku sama sekali gak tau kenapa jam itu bisa ada di apartemen Halisa." tegas Andre membantah.
Alistie tertunduk, ia hanya bisa menangis. entah apa yang harus ia lakukan. disisi lain ia sendiri tidak ingin Andre ditahan walaupun hanya semalam.
"Kami akan melakukan penyelidikan lebih lanjut, untuk semenatara waktu Pak Andre akan kami tahan."
"Enggak, Bapak gak bisa nahan suami saya gitu ajah." pekik Alistie.
"Maaf Nyonya, Anda bisa menghubungi pengacara Pak Andre untuk menangani kasus ini. kami hanya menjalankan tugas."
Alistie menatap kedua bola mata sang suami, ia menangis dengan kepala yang menggeleng. "Jangan diem ajah, kamu bantuin aku ngomong dong!"
"Percaya sama aku, ini semua baru dugaan." Andre mengalihkan pandangannya menatap salah seorang polisi, "Kapan penyerangan Halisa dilakukan?" tanya Andre.
__ADS_1
"Berdasarkan rekaman CCTV, penyerangan itu terjadi pada 18 Juli kemarin."
Alistie langsung menghentikan tangisannya, "18 Juli? itu tepat hari pernikahan kita Ndre."
Polisi itu mengerutkan dahinya, "Menikah?" tanya polisi heran.
"Iya, itu adalah hari pernikahan saya. saya bisa memberika bukti rekaman CCTV seluruh rumah saya, bahwa saat itu saya tidak pergi kemana pun. sampai acara selesai." tegas Andre.
Polisi berpikir keras, "Boleh saya melihat rekaman CCTV dirumah Pak Andre?"
"Tentu!"
"Kita akan melihat rekaman CCTV, jika pak Andre benar-benar ada diacara tersebut selama jam penyerangan maka tidak ada alasan untuk kami menahannya."
Alistie dan Andre bernafas lega. meskipun mereka masih sangat kebingungan, siapa sebenarnya pelaku yang sudah menyernag Halisa dan memberatkan nama Andre. bagaimana jam tangan milik Andre bisa berada disana? atau ini hanya trik Andre sendiri? menyuruh seseorang dan merencanakan segalanya. tidak-tidak, itu tidak mungkin Andre lakukan.
***
__ADS_1
"Apa sih yang mamah harapin dari Farhan? sekarang dia udah jadi buronan. aku udah cape ngurusin dia." gerutu Maya jengkel.
Ani hanya bisa menangis, tetangga dan yang lainnya terus saja menelpon untuk menanyakan kebenaran tentang video panas yang beredar. Maya berpikir jika Farhan benar-benar telah melempar kotoran kewajah keluarganya sendiri. tak hentiknya pemuda itu membuat masalah dan menyulitkan mereka, tetapi tetap saja Ani terus membelanya.
"Maya bener, Mah. biarin Farhan kali ini ngurus masalahnya sendiri, itu akibat dari perbuatannya." ucap sang suami pada Ani.
"Papah ini gimana, walau bagaimanapun Farhan itu tetep anak kita. kalo bukan kita yang nolongin terus siapa lagi." jerit Ani histeris.
Maya hanya menghela nafas kasar dan meninggalkan kedua orang tuanya begitu saja. ia sendiri sudah benar-benar jengah mendengar pembelaan Ani terhadap Farhan yang menurutnya sendiri adalah biang masalah.
"Harusnya sekarang dia udah mati. kenapa dia masih hidup si Pah?"
Pria paruh baya itupun melirik kearah sang istri dengan dahi yang mengerut. "Maksud Mamah Halisa?"
"Siapa lagi? dia sumber masalahnya! dia juga yang udah bikin Alistie ninggalin Farhan." tegas Ani.
Ani memang tipekal ibu yang tidak akan pernah menyalahkan anaknya. meskipun kesalahan anaknya sudah sangat terlihat jelas didepan mata. ia benar-benar dibutakan oleh rasa sayangnya sendiri, itu sebabnya Farhan selalu bergantung pada keluarganya. karna ia merasa sangat dicintai.
__ADS_1
LIKE KOMEN DAN VOTENYAA...