
Sudah berjam-jam lamanya Alistie mengurung diri didalam kamar, begitupun Andre. pria itu tak hentinya mengetuk pintu diluar sana mencoba memberikan penjelasan yang sama sekali tak ingin Alistie dengar. menurut Alistie sikap Andre benar-benar sangat keterlaluan, suaminya tersebut mendekat saat menginginkan haknya saja. setelah itu Andre akan kembali menomor satukan pekerjaan dan mengabaikan Alistie.
Untuk kali ini Alistie tidak mendengar suara Andre dari luar sana. sepertinya Andre sendiri sudah menyerah karna Alistie berbalik mengabaikannya. Alistie ingin memastikan, ia melangkah mendekati pintu kamar tersebut lalu menenpelkan telinganya didaun pintu.
"Andre kemana? kok suaranya udah gak ada." batin Alistie heran.
Alistie langsung menghapus butiran air mata di wajahnya. kemudian menekan gagang pintu untuk mengecek keberadaan sang suami diluar.
Benar saja, Andre sudah tidak ada disana. Alistie menutup pintu kamarnya perlahan lalu melangkah mengamati setiap titik disudut rumah mencari keberadaan Andre.
"Masa iya dia kekantor lagi?" gumam Alistie, ia berjalan lurus setelah keluar kamar yang itu artinya wanita tersebut sedang menuju keruang kerja sang suami.
"Al..."
Alistie tersentak, matanya membulat dengan spontan wanita itu memalingkan tubuhnya. "Tian! ngagetin ajah sih."
Tian tertawa kecil, ia melirik kearah pintu kamar Alistir kemudian meraih sesuatu dibalik saku jaketnya.
"Andre dimana? kamu liat gak?"
Tian mengerutkan dahinya, "Lo kan istrinya, kenapa nanya sama gue." sahut Tian sambil memberikan sesuatu kepada Aliatie.
__ADS_1
"Ini apa?"
"Tiket ke Jepang, dari bokap gue."
"Je... Jepang?"
Tian memiringkan senyumnya, "Lo belum tau ya."
Wajah Alistie memucat, dan sedikit gugup, "A... apa?"
Senyum manis terbit dibibir Tian, sesuatu yang tidak pernah pria itu lakukan saat berhadapan dengan Alistie. Tian meraih tangan Alistie dan meletakan tiket tersebut tepat ditelapak tangannya. "Bokap gue rencana mau kasih Andre mobil, karna proyek yang mereka jalanin berhasil meraih keuntungan besar. selama ini Andre bener-bener sibuk kerjaan, ada beberapa investor yang mutusin kontrak di tengah jalan. karna itu perusahan mengalami aedikit kerugian."
Sejauh ini Alistie hanya menatap tajam kearah Tian, dengan pikiran yang sedikit bingung.
Deg... kalimat terakhir yang keluar dari mulut Tian berhasil membuat air mata Alistie lolos. sikap Andre memang terlihat tidak memperdulikan Alistie. tapi siapa sangka dibalik hal itu Andre benar-benar berusaha keras untuk membuat istrinya bahagia.
Seketika seluruh tubuh Alistie bergetar, ia memundurkan langkahnya dan langsung meninggalkan Tian begitu saja untuk mencari keberadaan Andre. ucapan Tian sudah membuat Alistie sangat merasa bersalah dan tidak berguna. tak hentinya Alistie mengutuk dirinya sendiri, ia benar-benar merasa dirinya sangatlah bodoh. terlebih Alistie sudah menampar Andre tanpa mendengar penjelasannya terlebih dahulu.
Saat pintu ruang kerja sudah terbuka lebar, Alistie memasuki ruangan tersebut perlahan dengan air mata yang terus berderai. disana ia melihat sang suami sedang terbaring diatas sofa dengan pakaian kerja yang masih lengkap. bahkan sepatu dan dasi masih Andre kenakan saat itu.
Alistie memandang wajah sang suami. ia bersimpuh disamping Andre, tangan Alistie mencoba meraih bekas tamparan yang telah Alistie daratkan. "Maafin Aku, Ndre..." ucap wanita itu lirih.
__ADS_1
Alistie tak kuasa membendung air matanya, ia mengelus wajah Andre perlahan agar tidurnya pria tersebut tidak terganggu. lipatan di dahi Andre benar-benar sudah mengatakan segalanya jika pria itu sedang menyimpan masalah. mungkin salah satunya karna pertengkaran yang Andre dan Alistie lalukan.
Alistie berpikir, apa suaminya sudah makan? istri macam apa dia ini? suami sudah bekerja dengan begitu keras. tapi saat Andre pulang ia malah langsung menampar dan memaki Andre dengan emosi yang meluap. sungguh Alistie benar-benar merasa sangat tidak berguna, ia merasa malu atas tindakan ceroboh yang sudah ia lakukan pada Andre.
"Jangan nangis."
Aliatie mendongakan wajahnya, tangisannya terhenti seketika saat ia mendegar suara sang suami melintas didaun telinganya.
"Aku minta maaf." ucap Andre memohon
Tidak butuh waktu lama, Alistie langsung memeluk Andre dengan begitu erat. "Aku egois, aku yang gak bisa ngertiin kamu, aku emang bukan istri yang baik." jerit Alistie sambil terisak.
Andre mengelus kepala sang istri, membalas pelukannya. dalam hal ini ia tidak menyalahkan Alistie karna sadar waktunya memang terlalu banyak ia habiskan untuk bekerja. wajar jika Alistie bersikap demikian.
Alistie menatap wajah Andre, ia menghujani wajah pria itu dengan kecupan kemudian berkata. "Maafin aku,"
Andre menggelengkan kepalanya, ia meraih tangan Alistie dan mengecupnya singkat, "Aku yang salah."
"Enggak, aku yang salah. aku egois, gak seharusnya aku nampar kamu."
Andre kembali membawa sang istri kedalam pelukannya, bagi Andre ini saja sudah cukup. mereka berdua sudah sadar akan kesalahan masing-masing. kedekatan seperti ini sudah jarang mereka lakukan, Andre bersumpah. ia tidak akan menyakiti batin Alistie lagi meskipun itu hanya periha waktu.
__ADS_1
Wajar jika Alistie seperti ini, kenyataanya memang sedari awal Andre selalu menghujani wanita tersebut dengan cinta.
Cup... Alistie dan Andre saling melampiaskan itu semua melalui penyatuan bibir. mereka memang sedang saling merindukan, momen ini keduanya manfaatkan dengan baik dengan memberikan sentuhan yang akan berakhir dengan aktifitas ranjang.