
"Yul..." Daryani menarik tangan sang putri dengan mata mendelik tajam, "Sampean iki dari mana? dibawa kemana sama Den Sean?" tanya Daryani mencecar.
Yuli menelan salivanya. sejanak ia melirik kearah Ujang kemudian berkata, "Cuma nemenin dia ngerjain tugas diluar." sahut Yuli gugup.
"Demi apa?"
"Demi Allah, Bu. aku gak mungkin macem-macem!" celetuk Yuli memelas.
Daryani menghembuskan nafas lega. bibirnya tersengging kemudian mengelus jepala gadis itu perlahan. "Wis Rapopo. asal jangan berlebihan, inget harus tau diri. posisi kita disini cuma kerja," ucap Daryani mengingatkan.
Yuli mengangguk, terduduk sambil meraih gelas lalu menuangkan air kedalamnya.
"Yull..." Daryani menyentuh bahu sang putri, menatap mata indahnya dengan intens.
"Ya, Bu?"
"Jawab pertanyaan Ibu, kamu demen karo Den Sian ya?" tanya Daryani mencecar tajam.
Yuli membulatkan matanya. sejenak ia terdiam kemudian menggelengkan kepalanya perlahan, "E... enggak, Bu!"
"Bohong kamu, Ndo. Ibu sering liat kalo kamu merhatiin Den Sean terus!"
Yuli terus membantah. tapi kenyataannya semua yang Daryani tuduhkan adalah kenyataan. Yuli tidak bisa berkata apapun selalin mengatakan tidak, dan mungkin ini adalah kebohongan yang pertama kalinya gadis itu lemparkan pada sang Ibu.
Yuli terus mencari alasan agar dirinya bisa cepat pergi dari hadapan Daryani. untung saja beberapa saat kemudian Daryani dipanggil oleh Alistie, dan dengan cepat juga Yuli langsung pergi kekamar agar Ujang sang Ayah tidak melalukan hal serupa seperti yang dilakukan Daryani.
__ADS_1
Langkah Yuli begitu cepat. perasaannya tidak karuan, detak jantungnya terpacu dengan hebat.
Brukkk... Yuli terjatuh, tak sengaja dirinya telah menabrak seseorang. "Aduhh..." ucap Yuli meringis.
"Lo kenapa Yul? kaya lagi dikejar setan." tanya Sean mengulurkan tangan untuk membantu gadis itu beranjak.
Yuli pun meraih tangan Sean dan membangunkan tubuhnya, sejenak ia menghela nafas kemudian berkata. "Ibu, dia introgasi aku gara-gara aku pergi sama kamu!"
"Kenapa? kok dintrogasi?" tanya Sean mendalamkan lipatan didahinya.
"Katanya aku suka sama kamu, kan ngaco!" celetuk Yuli polos.
Sean memiringkan senyumnya, tangannya pun kembali meraih tangan Yuli dan membawa wanita itu kesebuah ruangan disebelah mereka.
Sean mengelus pelan wajah cantik Yuli hingga sukses membuat mata gadis itu membulat, "Kamu ngapain?" pekik Yuli terkejut.
"Usttt..." Sean meletakan telunjuknya diatas bibir Yuli, kemudian berkata. "Yang Ibu lo bilang itu bener kan?"
Yuli menelan salivanya gugup, "A... apa?"
"Lo suka sama gue!"
Yuli menggelengkan kepala tanpa mengalihkan sorot matanya dari pemuda yang sedang menghimpitnya tersebut.
"Jangan bohong!"
__ADS_1
"Aku... aku," Yuli tidak bisa mengendalikan dirinya, bibirnya terus berkata tidak dengan berat. namun perasaannya sepertinya ingin sekali berkata ia.
"Gue gak masalah kalo memang itu iya."
Yuli mendorong dada Sean perlahan agar pria itu menjaga jarak darinya, "Lepasin aku! nanti ada yang liat. kamu jangan kurang ngajar ya,"
Sean tersenyum tipis. sejenak ia melepaskan dirinya dari Yuli kenudian berkata. "Lo gak bisa boongin gue, dulu sama sekarang itu beda. jadi wajar ajah kalo lo tiba-tiba punya perasaan lebih buat gue!"
Yuli tertunduk menyembunyikan wajahnya. pernyataan Sean sukses membuatnya semakin tidak karuan, "Ka... kalo pun itu bener, aku tau diri kok. gak berharap lebih, aku yakin ini gak berlangsung lama." ucap Yuli gugup.
"Ka... kalo misal gue ngebales perasaan lo gimana?" Sean kembali mendekatkan dirinya pada Yuli, meraih wajah gadis itu dan mengelusnya penuh kelembutan.
"I... itu gak mungkin, aku gak percaya!" tegas Yuli memekik.
Sean tersenyum menyeringai, ia langsung memangkas jarak wajah diantara keduanya. Sean dan Yuli saling mempertemukan mata indah mereka hingga hembusan nafas mereka kini sudah saling beradu.
Bibir dan seluruh tubuh Yuli kini sudah bergetar karna Sean terus mendesaknya, "Ka... kamu ngapain?" tanya Yuli ketakutan.
Cup... Sean mendaratkan kecupan singkat dibibir Yuli hingga sukses membuat Yuli semakin membulatkan matanya. Yuli terpaku, rasanya seuruh energinya sudah ditarik oleh pemuda tersebut. padahal Sean sendiri hanya mengecup bibirnya tanpa melakukan hal lebih.
"Bonus, karna lo udah ngajarin gue nyelesain tugas kemarin!" ucap Sean memiringkan senyum.
Yuli masih tidak percaya, mulutnya serasa dikunci. ia mengerjap dan langsung menyentuh bibirnya, "A... aku dicium Sean?" batin Yuli tidak percaya.
Sean berlalu begitu saja meninggalkan Yuli. sungguh Yuli benar-benar gadis yang polos, hanya diberikan kecupan saja sudah seperti orang yang kehilangan tingkat kesadaran. bagaimana jika Sean bertindak lebih? mungkin Yuli akan langsung jatuh pingsan atau bahkan meninggal.
__ADS_1