
Alistir menghentikan mobilnya digarasi, matanya terus tertuju pada sebuah mobil yang tentu saja Alistie mengenal mobil tersebut. "Kaya mobil, Tian." ucapnya sambil membuka seatbelt yang masih terpasang.
Alistie mengalihkan pandangannya kearah Loli yang sudah terlelap. wanita itupun turun dari mobil dan mengangkat tubuh kecil Loli dari arah pintu yang berlawanan dengan penuh kehati-hatian.
"Syukur deh kalo ada Tian, mudah-mudahan Andre gak ngajak debat." gumam Alistie berharap.
Alistie langsung membawa Loli masuk kedalam, saat dirinya sudah melewati pinru utama kedua pria yang berada disebelah ruangan tanpa sekat itupun meliriknya secara berbarengan.
"Udah lama, Yan? sama Jessi atau sendiri?" sapa Alistie santai.
Tian terlihat kikuk, ia tersenyum kecut kemudian menjawab. "I... iya, dari tadi sih. Jessi gak ikut."
Andre mendekati Alistie, raut wajahnya terlihat datar. pria itu terus menatap mata sang empu kemudian berkata. "Biar aku yang bawa Loli kekamarnya."
Alistie terpaku, ada apa dengan Andre? apa Tian sudah mengatakan sesuatu hingga membuat pria itu sadar?
"Kamu istirahat ajah," titah Andre kemudian berlalu membawa Loli dalam gendongan untuk membaringkan anak kecil tersebut dikamarnya.
Alistie hanya mengangguk pasrah, dengan sorot mata tak teralihkan menatap sang suami. "Tumben, dia kenapa?" batin Alistie bertanya.
"Kalo gitu gua pulang," ucap Tian berpamitan.
Alistie memutar kepalanya, "Kamu ngomong apa sama Andre?"
Tian mengerutkan dahi dengan ekprsi bingung, "Ngomong apa?"
"Mmm, gapapa deh. yaudah kalo mau pulang, hati-hati."
Tian mengangguk, ia meraih kunci mobil didalam sakunya sambil berlalu tanpa mengatakan apapun pada Alistie.
__ADS_1
Syukurlah jika Andre sedikit terlihat lebih baik. pada akhirnya Alistie bisa beristirahat dengan tenang setelah menjalankan aktifitas lelahnya. Didalam kamar Alistie meletakan sebuah kantung plastik dimeja riasnya, wanita itu langsung berlalu menuju kamar mandi untuk segera membersihkan diri.
Alistie menyalakan shower, mengatur suhu air agar sedikit lebuh hangat. Alistie merasa sangat tenang dan nyaman saat kucuran air hangat itu menyentuh kulit tubuhnya. kehangatan yang seolah memijat punggung dan kepala Alistie yang terasa sakit. astaga padahal masalahnya dengan Andre sangatlah spele, tapi kenapa ini terasa sangat rumit untuk Alistie.
Ditempat lain pria jangkung itu terus menahan dirinya, mencoba bersahabat dengan keadaan agar ia bisa dengan mudah menerima kenyataan pahit jika Loli bukanlah darah dagingnya.
"Maafin Papah, mungkin ini emang bukan salah kamu. tolong beri Papah waktu." ucap Andre kemudian menarik selimut yang berada dibawah kaki Loli dan mengecup kening anak tersebut singkat.
Andre tersenyum simpul, tidak lupa ia mematikan lampu kamar Loli sebelum dirinya hendak berlalu. tujuannya sekarang adalah Alistie, dengan saran yang sudah Tian berikan jika mereka harus saling bicara agar lebih mudah untuk saling mengerti dan memahami. Apa ini? Tian yang notabane-nya adalah pria begajulan saja selalu bisa memberikan saran yang bijak tanpa memihak sisi manapun. sisi baik yang Andre kagumi dari sepupunya tersebut, tidak semua orang yang bertingkah konyol adalah orang yang tidak waras.
Perlahan Andre menekan gagang pintu kamarnya, mengabsen setiap sudut kamar, "Al..." pekik Andre memanggil.
"Lagi mandi," sahut Alistie spontan.
Andre menyunggikan senyumnya, ia melirik kearah ponsel dan barang-barang Alistie lainnya didepan cermin. merasa penasaran dengan apa yang Alistie beli, pria itupun mendekati meja rias terdebut untuk melihat isi dari paperbag hasil perburuan wanita itu bersama Loli.
"Baju, lipstik, skincare, parfum." ucap Andre, sorot matanya pun teralihkan pada sebuah kantong plastik kecil berwarna putih yang berada tepat dibawah ponsel Alistie. Andre pun menyingkirkan ponsel itu untuk melihat apa yang berada didalam sana. sebuah botol kecil, didalamnya terdapat beberapa butiran obat. "Obat apaan?" tanya Andre penasaran. pria itu memutar botol untuk membaca lebel yang tertulis dibadan botol. spontan mata Andre membulat begitu melihat tulisan, "Pil KB?"
"Apa ini?" tanya Andre dengan rahang yang mengeras.
"I... itu, bu... bukan apa-apa."
"Jawab aku!" tagas Andre memekik penuh kemarahan.
Alistie mengerjap, astaga kenapa ia sangat ceroboh meletakan pil tersebut disembarang tempat.
"Keterlaluan kamu, Al. sekian lama aku mau kita punya momongan dan kamu malah mau konsumsi obat pencegah kehamilan!" Andre terkekeh, sepertinya pria itu terlihat sangat begitu kecewa terhadap istrinya
"Jangan salahin aku, aku cuma mau nunda kehamilan ajah. karna yang ada ajah gak pernah kamu perhatiin." Alistie memalingkan tubuhnya, mencoba mengambil pakaian didalam lemari dan menyembunyikan pil tersebut.
__ADS_1
"Mau apa kamu?" Andre langsung menarik tangan Alistie dan mencengkramnya, pria itu bahkan merebut kembali botol kecil tersebut dari tangan Alistie.
"Ndre lepas, sakit! balikin." gerutu Alistie jengkel.
Setelah botol kecil itu berpindah tangan, Andre langsung berlalu menuju kamar mandi dengan membawa pil kb tersebut.
"Ndre balikin! itu punya aku!"
Andre membuka segel botol, dan membuang butiran pil kedalam kloset kemudian melarutkannya.
"Ndre!" pekik Alistie penuh kemarahan.
Dengan sorot mata mematikan Andre menatap Alistie, sungguh Andre terlihat sangat menakutkan. bahkan bisa dikatakan ini adalah kali pertama Andre menunjukan ekspresi tersebut pada sang istri. Andre kambali mencengkram tangan Alistie membawa wanita itu keluar kamar dengan sangat kasar.
"Ndre lepas! sakit!" rengek Alistie memberontak.
"Diem!" tegas Andre memekik, hal itu sukses membuat Alistie langsung terdiam dengan mata menggenang. "Gak habis pikir ya aku sama kamu!"
"Aku cuma nunda, sampe kamu bisa nerima Loli."
"Aku bisa nerima Loli tapi aku butuh waktu!"
Alistie mengerjap takut, teriakan Andre benar-benar menandakan jika ia sangatlah marah dan kecewa.
"Kamu cuma peduliin perasaan anak itu, kamu gak pernah peduliin perasaan suami kamu sendiri."
"Gak gitu, aku cuma..."
Brukkk... Andre mendorong Alistie hingga wanita itu menjatuhkan dirinya diatas ranjang.
__ADS_1
"Ndre kamu mau ngapain?" tanya Alistie dengan suara bergetar.
Andre menarik handuk yang Alistie kenakan untuk menutup tubuhnya dengan kasar, Alistie benar-benar takut. pertama kalinya ia menghadapi Andre dengan emosi yang memuncak.